© 2001 Asmika Harnalin Simarmata Posted: 24
Nov. 2001 [rudyct]
Makalah Falsafah Sains (PPs
702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
November 2001
Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung
Jawab)
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI PEREDUPAN INTENSITAS CAHAYA MATAHARI
PADA KOLOM AIR DI
DAERAH PASIR KOLE, WADUK IR. H. JUANDA PURWAKARTA,
JAWA BARAT
Oleh:
Asmika Harnalin Simarmata
C016
01 0011
E-mail : asmikasg@yahoo.com
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Cahaya yang berasal dari matahari penting untuk
kehidupan makhluk hidup karena hampir semua energi yang menggerakkan dan
mengontrol metabolisme di perairan berasal dari energi matahari yang dikonversi
secara biokimia melalui proses fotosintesis menjadi energi kimia potensial. Fotosintesis
menggunakan bahan anorganik yang berasal dari perairan atau atau dari aliran
teresterial yang diangkut ke ekositem perairan dalam berbagai bentuk terlarut
dan partikel organik.
Fotosintesis
oleh fitoplankton bergantung pada cahaya.
Laju fotosintesis akan tinggi bila intensitas cahaya tinggi dan menurun
bila intensitas cahaya berkurang. Sebaliknya
laju respirasi bisa dikatakan konstan dalam semua kedalaman (Nybakken, 1988).
Nastiti (1989) menemukan pada konsentrasi nitrat dan fosfat
yang tinggi, kelimpahan fitoplankton lebih rendah dibandingkan pada konsentrasi
nitrat dan fosfat yang rendah. Pada
konsentrasi nutrien tinggi dan intensitas cahaya tinggi, tidak semua nutrien
yang ada dapat dimanfaatkan sedangkan pada konsentrasi nutrien yang rendah dan intensitas cahaya redup, semua nutrien
yang ada dapat dimanfaatkan, karena intensitas cahaya pada ssat itu adalah
intensitas cahaya yang masih toleran.
Selanjutnya Wetzel (1975) menyatakan bahwa kelimpahan
fitoplankton dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Intensitas cahaya yang terlalu kuat akan merusak enzym
fito-oksidatif fitoplankton akibatnya fitoplankton yang tidak tahan akan mati.
Intensitas
cahaya di perairan akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Kehilangan cahaya ditandai dengan koefisien
peredupan cahaya.
Berdasarkan
hal tersebut penulis ingin melihat mengapa intensitas cahaya bervariasi di
dalam kolom air. Faktor-faktor apa saja
yang menyebabkan intensitas cahaya berkurang dalam kolom air. Hal ini penting karena cahaya berperan sebagai faktor pembatas utama
dalam fotosintesis atau produktifitas primer (Kirk, 1977).
1.2. Tinjauan ontologis
Adapun penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui :
-
-
variabel penentu peredupan
cahaya pada kolom air di waduk
-
-
besaran dan dinamika
peredupan cahaya pada kolom air.
Sedangkan tinjauan aksiologi atau
manfaat penelitian ini adalah dapat diketahui kedalaman perairan yang potensial
untuk budidaya perikanan sehingga pengelolaan perairan dapat optimal.
1.3.1.3. Hipotesa
Adapun hipotesa yang digunakan adalah :
-
-
jumlah, jenis, individu
dan biomassa setiap kolom air adalah tidak sama
-
-
penyebab tingkat
peredupan cahaya berbeda pada setiap kolom air.
II. METODOLOGI
2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk
penelitian ini dipilih suatu lokasi di Waduk Ir. H. Juanda yang kondisinya
paling tenang, yaitu genangan utama.
Dalam penelitian ini daerah itu adalah pertengahan antara ujung Cileundi
ke Dam Utama. Berdasarkan peta lokasi
tersebut berada disekitar Pasir Kole.
Daerah ini dipilih karena jauh dari pemasukan air atau muara sungai
(Krismono, 1988; Nastiti, 1989).
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Februari
1998. Waktu pengambilan sampel
dilakukan pagi hari pukul 08.00WIB sampai pukul 13.00 WIB.
2.2 2.2 Teknik Pengambilan Contoh
2.2.1
Penentuan Titik Sampling
Contoh
air diambil dari stasiun yang telah ditentukan yaitu Pasir Kole dengan 5 kali
ulangan. Penentuan titik sampling secara vertikal
didasarkan kepada intensitas cahaya yang sampai pada kolom air. Titik pertama yakni di permukaan (0 cm)
dimana intensitas cahaya 100%. Titik
kedua dan ketiga yang mana cahaya antara 100% sampai 1% dari cahaya permukaan;
yaitu titik kedua pada kedalaman 70 cm dan titik ketiga pada kedalaman 180
cm. Titik terakhir yaitu pada kedalaman
360 cm, dimana cahaya tinggal 1% dari cahaya permukaan.
2.2.2 Pengukuran Intensitas
Cahaya
Pengukuran intensitas cahaya dengan
alat Rigo Submarine Illuminometer tipe 5241.
Alat ini dapat digunakan untuk mengukur intensitas cahaya di perairan
tawar, laut, rawa dan lain-lain.
Illuminometer ini mampu mengukur intensitas cahaya mulai dari 0 sampai
500000 luks. Prinsip kerjanya adalah
perubahan energi cahaya menjadi energi listrik yang kemudian ditangkap oleh photoelectric
cell dan nilainya dibaca pada lux selector.
2.2.3
Pengambilan Contoh Air
Sampel air diambil dengan menggunakan Van Dorn Water
Sampler berukuran 1.2 liter sebanyak 2 kali.
Contoh air dibagi sesuai dengan kebutuhan. Untuk identifikasi dan penghitungan fitoplankton dibutuhkan 500
ml, analisis total padatan tersuspensi 100 ml, bahan organik terlarut (DOM) 500
ml, dan sisanya untuk parameter lain seperti kekeruhan, nitrat dan fosfat. Penyimpanan dan pengawetan contoh air
sebahagian dilakukan dengan menyimpan sampel pada suhu 4oC,
sebahagian lagi dengan penambahan H2SO4.
2.2.4 Parameter
Kualitas Air
Parameter yang diamati dan diukur selama penelitian beserta
alat yang digunakan disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1.
Parameter Kualitas Air Selama Pengamatan
|
Parameter |
Unit |
Metode |
Alat |
Tempat Analisis |
|
A.
Utama |
|
|
|
|
|
1. Cahaya |
Luks |
- |
Illuminometer |
In
situ |
|
2. TSS |
mg/l |
Gravimetrik |
Timbangan |
Laboratorium |
|
3. DOM |
mg/l |
Titrimetrik |
Buret |
Laboratorium |
|
4.
Kelimpahan |
sel/l |
Mikrotransek |
Mikroskop |
Laboratorium |
|
5. Biomassa |
mg/m3 |
Volumetrik |
Mikroskop |
Laboratorium |
|
|
|
|
|
|
|
B.
Penunjang |
|
|
|
|
|
1. Suhu |
OC |
Pemuaian |
Thermometer Hg |
In situ |
|
2. pH |
- |
Kolorimetrik |
Kertas pH |
In situ |
|
3.
Kecerahan |
cm |
Pemantulan |
Secchi disc |
In situ |
|
4. Nitrat (NO3-N) |
mg/l |
Brucine |
Spektrofotometer |
Laboratorium |
|
5.
Orthofosfat (PO4-P) |
mg/l |
Stanous Chloride |
Spektrofotometer |
Laboratorium |
2.3 Penghitungan
Koefisien Peredupan
Penghitungan koefisien peredupan cahaya sesuai dengan hukum
Lambert (Boyd, 1990) yaitu :
K= lnIo-lnIz
z
Keterangan
:
ln : fungsi logaritmik alami
Io :
intensitas cahaya pada kedalaman awal
Iz : intensitas cahaya pada kedalaman z
z : kedalaman
2.4 Penghitungan
Kelimpahan Fitoplankton
Identifikasi fitoplankton berdasarkan Presscott (197)),
Davis (1955). Mizuno (1979).
Selanjutnya kelimpahan sel fitoplankton dihitung dengan metode Lackey Drop
Microtransect Counting (APHA, 1976), yang rumusnya adalah :
N = n x
A/B x C/D x 1/E
Keterangan :
N = jumlah total fitoplankton
n = jumlah
rata-rata total individu plankton per lapangan pandang
A = luas gelas penutup (mm2)
B = luas satu
lapangan pandang (mm2)
C = volume air yang
terkonsentrasi (ml)
D = volume satu
tetes air (ml)
E = volume air yang disentrifuse (l)
2.5 Penghitungan
Biomassa Fitoplankton
Dari kelimpahan fitoplankton diperoleh data jumlah
sel/l. Dengan mengukur volume sel
fitoplankton secara geometrik dan mengasumsikan bobot jenis fitoplankton sama
dengan 1 (Schroeder, 1975 dalam Nastiti, 1989) maka bobot basah
fitoplankton dapat diperoleh dengan rumus:
B = BJ x V
Keterangan :
B = bobot basah
fitoplankton (µg)
BJ = bobot jenis
fitoplankton dianggap 1
V = volume
fitoplankton
Dari hasil penghitungan kelimpahan dan biomassa
fitoplankton tersebut dapat ditentukan kelimpahan dan biomassa fitoplanktondi
kolom air. Penghitungannya adalah
sebagai berikut (Gambar 2.):

Gambar 2. Kelimpahan dan biomassa fitoplankton dalam setiap kolom air
a = n x 0.35, yang mana nilai 0.35 ini di dapat dari
0.70-0.35
b = n x 0.90, yang mana nilai 0.90 ini diperoleh dari
1.25-0.35
c = n x
1.45, yang mana nilai 1.45 ini diperoleh dari 2.70-1.25
d = n x
0.90, yang mana nilai 0.90 ini diperoleh dari 3.60-2.70
Keterangan
:
a,b,c,
d : kelimpahan (sel/l) atau biomassa
(mg/l)
n : data kelimpahan dan biomassa
fitoplankton pada masing-masing kedalaman
2.6 Analisis Data
Untuk
mengetahui hubungan fungsional antara koefisien peredupan intensitas cahaya
matahari dengan biomassa, total padatan tersuspensi, dan bahan organik terlarut
dilakukan analisis korelasi dan model regresi linear berganda (Drapper dan
Smith, 1981). Agar data per kolom air
dapat dibandingkan, maka kedalaman kolom air dibuat sama yaitu 70 cm; sehingga
data yang akan dianalisa dalam regresi berganda adalah data pada kolom air
(0-70) cm, (71-140) cm dan (180-250) cm.
Model hubungan fungsional tersebut disajikan sebagai :
Y(K) = ƒ (Biomassa, TSS, DOM) atau dengan persamaan regresi
berganda :
Y(K) = βo
+ β1x1
+ β2x2
+ β3x3
dengan :
Y : Nilai koefisien
peredupan
x1 : Biomassa (mg/m3)
x2 :
TSS (mg/m3)
x3 :
DOM (mg/m3)
Nilai F dari uji Anova terhadap hasil perhitungan regresi
berganda tersebut digunakan untuk menguji kepastian dari persamaan regresi
secara keseluruhan. Hipotesis yang
diajukan adalah :
Ho : tidak ada hubungan antara koefisien
peredupan cahaya dengan biomassa , total padatan tersuspensi dan bahan organik
terlarut.
H1 : ada hubungan antara koefisien peredupan
cahaya dengan biomassa, total padatan tersuspensi dan bahan organik terlarut.
Apabila nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel pada
tingkat kepercayaan ≥ 70%, maka Ho
ditolak dan H1 diterima.
Sebaliknya apabila
nilai F hitung lebih kecil dari nilai F tabel maka Ho diterima H1
ditolak.
Nilai koefisien determinasi
(R2) digunakan untuk mengetahui besarnya peranan dari peubah x
terhadap Y. Nilai R2 berkisar
antara 0-1. Apabila nilainya lebih
besar dari 0.9 atau mendekati 1 maka dapat diartikan bahwa x memiliki peranan
yang besar terhadap Y.
Besarnya pengaruh dari
peubah bebas dapat dilihat dari nilai koefisien regresi (β) dari masing-masing parameter peubah
bebas tersebut. Koefisien itu digunakan
untuk mengukur kenaikan atau penurunan peubah tak bebas (Y) sebagai akibat
perubahan nilai peubah bebas (x). Untuk
melihat apakah pengaruh tiap peubah bebas tersebut nyata terhadap peubah tak
bebas dilakukan uji t untuk tiap koefisien regresi tersebut.
Nilai kepekaan koefisien
peredupan terhadap biomassa, total padatan tersuspensi, dan bahan organik
terlarut ditentukan melalui koefisien regresi (βi) dari
tiap peubah bebas yang terpilih dalam persamaan. Nilai koefisien yang menyatakan kemiringan garis hubungan antara
peubah bebas dengan peubah tak bebas tersebut dapat menunjukkan sifat dari
hubungan yang ada. Nilai positif
menunjukkan hubungan yang setara, sedangkn nilai negatif menunjukkan hubungan
yang berkebalikan.
Uji Anova dan
regresi berganda dengan menggunakan program Minitab for Window Release 9.2.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Intensitas Cahaya
Dari nilai intensitas cahaya yang diukur selama pengamatan (Tabel 2.),
umumnya intensitas cahaya di permukaan waduk jauh lebih besar dari pada
intensitas cahaya di lapisan dibawahnya.
Intensitas cahaya antara ulangan satu dan ulangan lainnya terlihat
sangat berbeda. Hal ini karena waktu
sampling yang berbeda sehingga menyebabkan intensitas cahaya yang sampai di
permukaan perairan juga berbeda.
Tabel
2. Intensitas Cahaya Matahari Selama
Pengamataan
|
Kedalaman (cm) |
Intensitas cahaya (lux) |
||||
|
Ulangan1 |
Ulangan 2 |
Ulangan3 |
Ulangan4 |
Ulangan5 |
|
|
0 |
90000 |
53700 |
190000 |
55000 |
70000 |
|
70 |
28000 |
19100 |
70000 |
20000 |
26000 |
|
180 |
8000 |
4600 |
15000 |
5000 |
5000 |
|
360 |
1000 |
700 |
2000 |
1000 |
800 |
Tabel 3. Persentase Intensitas Cahaya Matahari Selama Pengamatan
|
Kedalaman (cm) |
Persentase Intensitas cahaya |
||||
|
Ulangan1 |
Ulangan 2 |
Ulangan3 |
|||