© 2001 Budi Nugroho Posted 7 December 2001
[rudyct]
Makalah Falsafah Sains (PPs
702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
December 2001
Dosen:
Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng
(Penanggung Jawab
EKOLOGI MIKROBA
Oleh :
Budi Nugroho
P02600002
E-mail: nug60@yahoo.com
Logam berat adalah komponen alamiah lingkungan yang mendapatkan perhatian berlebih akibat ditambahkan ke dalam tanah dalam jumlah yang semakin meningkat dan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Bagaimanapun logam berat tersebut berbahaya terutama apabila deserap oleh tanaman, hewan atau manusia dalam jumlah besar. Namun demikian beberapa logam berat merupakan unsur esensial bagi tanaman atau hewan
Istilah logam berat menunjuk pada logam yang mempunyai berat
jenis lebih tinggi dari 5 atau 6 g/cm3. Namun pada kenyataannya dalam pengertian logam berat ini,
dimasukkan pula unsur-unsur metaloid yang mempunyai sifat berbahaya seperti
logam berat sehingga jumlah seluruhnya mencapai lebih kurang 40 jenis. Beberapa
logam berat yang beracun tersebut adalah As, Cd. Cr, Cu, Pb, Hg,
Ni, dan Zn. (Wild, 1995)
Pada akhir-akhir ini bahaya yang
ditimbulkan oleh logam berat merupakan isu lingkungan yang sangat
menonjol. Berbagai limbah berbahaya
saat ini dihasilkan dalam kegiatan manusia,
dan menimbulkan masalah pada penanganannya. Hal ini terutama karena bentuk limbah bermacam-macam dan mempunyai kadar yang beragam pula. Bentuk limbah padat menimbulkan pengaruh
relatif lokal, tetapi apabila bentuk limbah limbah cair atau yang dapat menguap pengaruhnya lebih luas,
dan lebih susah dicegah
kontaminasinya.
Pada dasarnya alam mempunyai mekanisme untuk mengurangi pengaruh negatif penumpukan logam berat terhadap ekosistem. Namun demikian sering terjadi penumpukan logam berat yang melebihi kemampuan alam untuk memprosesnya. Hal tersebut dapat menimbulkan bahaya secara beruntun, mengingat saling ketergantungan yang terjadi antara komponen-komponen ekosistem.
Tulisan ini mencoba untuk mengupas pengaruh logam berat tersebut terhadap mikroba dengan seluruh pengaruh ekologis yang terkait.
Secara alamiah logam berat dikandung oleh berbagai mineral
dalam berbagai batuan penyusun kerak bumi.
Mineral tersebut
umumnya adalah mineral kelam yang banyak ditemukan pada batuan basa atau ultra
basa. Berbagai mineral yang
mengandung logam berat tersebut
disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan kenyataan alamiah seperti dikemukakan di atas, maka di bumi ditemukan pula daerah-daerah yang mempunyai tanah dengan kandungan logam berat cukup tinggi dengan semua implikasi lingkungannya. Tentu saja tanah-tanah tersebut adalah tanah-tanah yang berbahan induk batuan basa atau ultra basa. Proses alamiah lain yang mungkin menyebarkan logam berat adalah proses volkanik.
Manusia adalah makluk yang paling bertanggung jawap terhadap peningkatan
mobilisasi, perpindahan dan akumulasi logam berat di lingkungan. Melalui
berbagai kegiatan industri misalnya, logam berat masuk ke atmosfer, tanah dan perairan melebihi kemampuan alamiah
untuk memprosesnya. Bahan-bahan demikian dikenal sebagai bahan Xenobiotik atau
Antropogenik. Logam berat tersebut masuk ke ekosistem tanah dalam bentuk
organik maupun inorganik. Beberapa
sumber polutan logam berat yaitu
kadnium (Cd) disajikan pada Tabel 2.
Tabel 1. Beberapa Mineral yang Mengandung Logam Berat
(Mitchell, 1964)
|
No. |
Mana Mineral |
Unsur Utama |
Unsur Minor |
|
1. |
Olivin |
Mg, Fe, Si |
Ni, Co, Mn,
Li, Zn, Cu, Mo |
|
2. |
Hornblende |
Mg, Fe, Ca, Al, Si |
Ni, Co, Mn, Sc, Li, V, Zn, Cu, Ga |
|
3. |
Augit |
Ca, Mg, Al, Si |
Ni, Co, Mn, Sc, Li, V, Zn, Pb, Cu, Ga |
|
4. |
Biotit |
K, Mg, Fe, Al, Si |
Rb, Ba, Ni, Co, Sc, Li, Mn, V, Zn, Cu, Ga |
|
5. |
Anorthit |
Ca, Al, Si |
Sr, Cu, Ga, Mn |
|
6. |
Andesin |
Ca, Na, Al, Si |
Sr, Cu, Ga, Mn |
|
7. |
Oligoklas |
Na, Ca, Al, Si |
Cu, Ga |
|
8. |
Garnet |
Ca, Mg, Fe, Al, Si |
Mn, Cr, Ga |
|
9. |
Ortoklas |
K,
Al, Si
|
Rb, Ba, Sr, Cu, Ga |
|
10. |
Ilmenit |
Fe, Ti |
Co, Ni, Cr, V |
|
11. |
Magnetit |
Fe |
Zn, Co, Ni, Cr, V |
Tabel 2. Sumber Polutan Kadnium (Cd) (Babich dan Stotzky, 1978)
|
Atmosfer |
Tanah |
Perairan |
|
Penambangan dan Pengo-lahan bahan Tambang |
Endapan dari atmosfer |
Endapan dari atmosfer |
|
Peleburan |
Debu |
Debu |
|
Galvanisasi |
Air limbah tambang |
Air limbah tambang |
|
Pabrik pewarna |
Pupuk limbah lumpur |
Air buangan prosesing limbah |
|
Pabrik baterai |
Pupuk Superfosfat |
Limbah cair industri |
|
Electroplating |
Pestisida |
Limbah cair dari TPA |
|
Industri amalgamasi |
|
|
|
Industri pupuk |
|
|
|
Pembakaran bahan bakar fosil |
|
|
|
Pemakaian ban mobil |
|
|
|
Penggunaan pestisida |
|
|
|
Pembakaran |
|
|
|
Industri Baja |
|
|
|
Asap rokok |
|
|
|
Proses pelapukan |
|
|
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa kegiatan pertanian berpeluang memberikan andil terhadap polusi logam berat. Berbagai bahan untuk kegiatan pertanian mengandung logam berat. Sebagai contoh bahan tersebut adalah fungisida, herbisida, insektisida, pupuk fosfat, penggunaan bahan bakar fosil dalam usaha pertanian dsb.
SIFAT
KIMIA LOGAM BERAT
DAN IMPLIKASI LINGKUNGANNYA
Berbagai reaksi terjadi terhadap logam berat setelah bahan tersebut mencapai tanah atau lingkungan lainnya. Reaksi tersebut dapat terjadi dengan senyawa inorganik atau senyawa organik. Berbagai kemungkinan reaksi yang terjadi terhadap logam berat di dalam tanah adalah (Babich dan Stotzky, 1978)
1.
Membentuk
senyawa larut, komples dari berbagai macam molekul;
2.
Presipitasi
atau kopresipitasi
3.
Terinkorporasi
kedalam struktur mineral;
4.
Terakumulasi
atau terfiksasi ke dalam bahan biologi;
5. Dikompleks dengan agen pengkhelat;
6. Diadsobsi dalam mineral liat atau koloid organik.
Berbagai faktor lingkungan berpengaruh terhadap logam berat. Faktor-faktor tersebut adalah : kemasaman tanah, bahan organik, suhu, tekstur, mineral liat, kadar unsur lain Cu, Cd, Mg, Pb, Zn, Mg dsb.
Tingkat ketersediaan
logam berat tergantung pada pH lingkungan.
Menurut Babich dan Stotzki, (1978)
pada pH dibawah 8 Cd misalnya terdapat terutama dalam bentuk bebas, Cd+2
dan Cd (OH)+ mulai terbentu pada pH 7 – 7.5, sedangkan Cd (OH)2 mulai terbentuk pada pH 9.0. Klein dan
Trayer (1995) mengemukakan bahwa pH adalah faktor penting yang menentukkan
tranformasi logam. Penurunan pH secara umum meningkatkan
ketersediaan logam berat kecuali Mo dan Se.
Pengaruh bahan organik terhadap logam berat berkaitan dengan pembentukan senyawa kompleks antara bahan organik dengan logam tersebut. Stabilitas khelat organik dengan beragam kation bervalensi dua mengikuti urutan : Pb > Cu > Ni > Co > Zn > Cd > Fe > Mn. Kekuatan ikatan ini akan mempengaruhi kelarutan logam berat yang selanjutnya mempengaruhi mikroba tanah. (Babich dan Stotzki, 1978).
Makin halus tekstur makin tinggi kekuatan untuk mengikat logam berat. Oleh karena itu tanah yang bertekstur liat mempunyai kemampuan untuk mengikat logam berat lebih tinggi dari tanah berpasir. Jenis mineral liat juga berpengaruh terhadap pengikatan logam berat oleh tanah. Umumnya kemampuan mengikat logam berat vermikulit > illit > montmorillonit > kaolinit (Babich dan Stotzki, 1978).
Logam berat mungkin diabsorbsi dan diakumulasikan dalam jaringan hidup. Kemampuan beberapa logam berat dalam berikatan dengan asam amino mengikuti arutan sebagai berikut : Hg > Cu > Ni > Pb > Co > Cd. Cadnium misalnya menunjukkan afinitas terhadap porfirin, purine, systein, histidin dsb. . (Babich dan Stotzki, 1978).
Logam berat juga diakumulasikan dalam biota. Urutan afinitas plankton terhadap logam bervalensi dua adalah : Zn > Pb > Cu > Mn > Co > Ni > dan Cd, sedangkan ganggang adalah Pb > Mn > Zn > Cu , Cd > Co > Ni. (Babich dan Stotzki, 1978).
Organisme yang pertama terpengaruh akibat penambahan polutan logam berat ke tanah atau habitat lainya adalah organisme dan tanaman yang tumbuh di tanah atau habitat tersebut. Dalam ekosistem alam terdapat interaksi antar organisme baik hubungan tersebut interaksi positif maupun interaksi negatif yang menggambarkan bentuk-bentuk transfer energi antar populasi dalam komunitas tersebut. Dengan demikian pengaruh logam berat tersebut pada akhirnya akan mencapai hirarki rantai makanan tertinggi yaitu manusia. Kasus yang sangat terkenal dari keracunan logam berat (Hg) terhadap manusia adalah yang terjadi di Teluk Minamata, Jepang.
Ketahanan mikroba tanah terhadap logam berat berbeda-beda tergantung
pada mekanisme yang dipunyai mikroba untuk menyesuaikan diri terhadap polusi
dan tergantung pada kondisi lingkungan tempat organisme tersebut tumbuh. Beberapa urutan tingkat meracun logam berat terhadap organisme tanah
disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Urutan Tingkat Meracun Logam Berat terhadap Mikroba Tanah (Babich dan Stotzki, 1978)
|
No. |
Organisme |
Spesies |
Urutan Tingkat Meracun |
|
1. |
Fungi |
- |
Cu > Cd > Pb > Zn |
|
2. |
Kamir |
Hansenula anomala |
Ag > Hg > Co > Ni > Cd |
|
|
|
Sacharomyces cerevisiae |
Cd > Ag > Hg > Cu > Ni |
|
3 |
Bakteri |
Escherichia coli |
Hg > Cd > Al > Pb > Co > Fe |
|
4. |
Ganggang |
Dunaliella viridis
|
Hg > Cu > Ni
> Cd > Pb |
|
|
|
Porphyridium marinum
|
Hg > Cu > Cd
> Pb |
|
|
|
Tetraselmis pseudonana
|
Hg > Cd > Cu
> Pb |
|
5. |
Lichen |
- |
Co > Zn = Ni > Cu > Pb > Fe |
Tabel di atas menunjukkan bahwa ketahanan mikroba terhadap logam berat bervariasi dalam kelompok organisme, genus maupun spesies di dalam genus yang sama. Pengaruh logam berat terhadap mikroba tersebut terlihat pada beberapa tahap dalam daur kehidupannya. Pada fungi pengaruh tersebut terlihat pada tahap pembentukan miselium, pembentukan badan buah maupun pada proses perkecambahan spora. Pada kamir (yeast) dapat berupa meningkatnya kegiatan lipolitik, meningkatnya respirasi akibat berkurangnya penghambatan oleh sistein. Pada bakteri pengaruh tersebut dapat terlihat pada penurunan dan perpanjangan laju pertumbuhan, penundaan perkembang-biakan dsb. (Babich dan Stotzki, 1978; Klein dan Trayer, 1995)
Pengaruh logam berat terhadap mikroba dalam lingkungan hidupnya dapat terekspresi dalam berbagai bentuk antara lain : perubahan populasi mikroorganisme pada satu komunitas, menurunnya karbon mikroba, meningkatnya respirasi tanah, munculnya mikroba resisten, dan lain sebagainya. Pengaruh terhadap mikroba tersebut di atas selanjunya akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidupnya seperti menurunnya “Turn Over”, menumpuknya sampah di tanah, menurunya laju penyediaan hara dari bahan organik, berkembangnya patogen dsb.
Perubahan Populasi Mikroba.
Penambahah bahan mengandung logam berat seperti limbah lumpur (sewage sludge) ke dalam tanah mengubah populasi mikroba. Frostegard, Tunlip dan Baath. (1995) mengukur pengaruh Zn terhadap populasi mikroba dengan analisis fosfolipida dengan ekstraksi asam lemak (Phospholipid Fatty Acid = PLFA) dan diolah dengan analisis komponen utama (PCA = principal component analysis) mendapatkan bahwa terjadi peningkatan relatif biomas fungi dan aktinomisetes dan penurunan biomas bakteri. Hasil percobaan Fließbach, Martens dan Reber (1994) dengan metode inhibitor selektif mengasilkan data seperti disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Kontribusi Bakteri dan Fungi pada Dekomposisi Senyawa yang diberi Inhibitor Sikloheksamid dan Streptomisin.
|
Dosis Lumpur Limbah |
Bakteri (%) |
Fungi (%) |
Tanah
Pertanian
|
|
|
|
Tanpa limbah |
22.0 |
78.0 |
|
100 m3, logam rendah |
15.4 |
84.6 |
|
100 m3, logam tinggi |
17.1 |
82.9 |
|
300 m3, logam rendah |