Makalah
Kelompok IV
Posted 10 October 2001
Falsafah
Sains (PPs 702)
Program Pasca Sarjana
Institut Pertanian Bogor
October 2001
Dosen:
Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR
UNTUK PEMANFAATAN SUMBERDAYA
ALAM YANG BERKELANJUTAN
Oleh:
Budi Nugroho (Ketua), F. Dwi Joko Priyono, John
Tetalepta,
Neneng
L Nurida , Rini Hidayati, Rustamsjah
dan Wawan.
DAFTAR ISI
I.
PENDAHULUAN
II.
EKOSISTEM WILAYAH PESISIR
A. Ekosistem Estuaria
B. Ekosistem Mangrove
C.
Ekosistem Terumbu Karang
D.
Ekosistem Rumput Laut dan
Lamun
E. Ekosistem Rawa Pasang
Surut
F.
Iklim
III.
PENGELOLAAN WILAYAH
PESISIR
A.
Pengelolaan Mangrove
B.
Pengelolaan Rawa Pasang Surut
C.
Permasalahan Iklim
D.
Pengelolaan Sumberdaya Laut
E.
Permasalahan Pencemaran
IV.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
I. PENDAHULUAN
Pada awal kehidupannya manusia menggantungkan diri pada
kemurahan alam. Pada tahap ini hanya
memanen yang disediakan alam, tanpa usaha untuk mengusahakannya. Pengelolaan alam terjadi secara tidak
sengaja bersamaan dengan perkembangan
pertanian, dimana ibu-ibu secara tidak sengaja membuang biji-biji tanaman dari
sisa makanannya yang selanjutnya tumbung berkembang dan berbuah, dan kaum laki-laki menangkap hewan
liar dan memeliharanya.
Dengan
berkembangnya jumlah manusia yang oleh Malthus
disebutkan sebagai deret ukur sedangkan perkembangan pangan seperti
deret hitung, maka mulailah terjadi kendala dalam pemenuhan kebutuhan manusia.
Bersamaan perkembangan kehidupan sosial manusia, berkembang pula kebutuhan
manusia yang bergeser dari pemenuhan kebutuhan dasar sampai yang paling tinggi
kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri seperti pendapat yang dikemukakan
Maslow. Dengan perkembangan tersebut
berkembang pula tingkat dan bidang kehidupan yang harus dimanipulasi dalam
rangka menutup kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan kebutuhan
manusia. Perkembangan kemasyarakatan manusia tersebut dimulai dari
wilayah pesisir.
Wilayah
pesisir didefinisikan sebagai wilayah
peralihan antara laut dan daratan, kearah darat mencakup daerah yang masih
terkena pengaruh percikan air laut atau pasang
surut, dan ke arah laut meliputi daerah paparan benua (Beatly et. al.,
1994 dalam Dahuri et. al., 1996). Wilayah pesisir ditinjau dari berbagai
macam peruntukannya merupakan wilayah yang sangat produktif (Supriharyono,
2000) Wilayah ini merupakan tempat menumpuknya berbagai bahan baik berasal dari
hulu atau setempat akibat berbagai macam aktifitas manusia. Wilayah pesisir
perlu kiranya untuk dibahan karena beberapa hal:
1. Wilayah pesisir merupakan wilayah yang mempunyai daya
dukung yang sangat tinggi. Sebagai
akibatnya wilayah ini merupakan tempat terkonsentrasinya berbagai kegiatan
manusia. Bukanlah secara kebetulan
apabila banyak kota besar terletak di pesisir.
2. Akibat aktifitas menusia yang tinggi di wilayah ini dan
akibat posisi geografisnya, maka wilayah pesisir rentan terhadap kerusakan lingkungan
3. Kerusakan wilakyah pesisir akan berpengaruh besar bagi
wilayah lainnya
4. Dalam rangka globalisasi
dan zaman informasi seperti saat ini wilayah pesisir merupakan yang semakin penting, sebagai pintu gerbang
informasi, lalu lintas barang dan transportasi masal yang relatif murah
Dengan
tingkat kepentingan seperti dikemukkan di atas maka berbagai permasalahan
ditemukan di wilayah pesisir ssat ini permasalahan-permasalahan tersebut antara
lain adalah ( Clark, 1996):
1).
Penurunan sumberdaya alamiah:
(a) erosi pantai; (b) konversi hutan bakau untuk tata guna lahan lainnya; (c)
pengreklamasian wilayah pantai; (d) penangkapan ikan dengan menggunakan
dinamit/racun; (e) tangkap lebih dan (e) eksploitasi lebih terhadap hutan
bakau.
2).
Polusi: (a) sumber-sumber industri
(sampah industri); (b) sumber domestik (sampah rumah tangga dan sampah keras);
(c) sumber-sumber dari pertanian (aliran atas bahan-bahan pestisida dan pupuk);
dan (d) sumber-sumber lain (penggalian/penambangan).
3).
Konflik penggunanaan lahan:
(a) tidak adanya akses kearah pantai sebagai akibat padatnya pemukiman pada
daerah tersebut; (b) tidak bisa dipergunakan daerah pantai akibat polusi yang
sangat tinggi; dan (c) konservasi dan
preservasi terhadap hutan bakau versus konversi sumberdaya yang sama untuk
dijadikan tambak ikan/udang atau reklamasi menjadi daerah pemukiman atau untuk
tujuan-tujuan komersial lainnya.
4).
Pengrusakan kehidupan dan
kepemilikan sebagai akibat bencana alam: (a) banjir yang diakibatkan oleh
badai; (b) gempa bumi; (c) angin topan cyclone, dan (d) tsunami.
Dengan
gambaran seperti dikemukakan di atas tulisan ini dimaksudkan untuk melihat
kondisi pesisir yang dapat digunakan untuk petunjuk pengelolaan lingkungan di
wilayah tersebut.
Wilayah pesisir merupakan
wilayah yang unik karena ditemukan berbagai ekosistem mulai dari daerah pasang
surut, estuari, hutan bakau terumbu karang, gelombang pasang, pulau penghalang
dsb. Wilayah pesisir merupakan
pertemuan anatara darat dan laut yang meliputi wilayah sekitar 8 % permukaan
bumi. (Birkeland, 1983; McCormick-Ray, 1994; Clark, 1996).
Estuaria adalah perairan yang semi tertutup yang
berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas yang tinggi
dapat bercampur dengan air tawar. Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar
tersebut akan menghasilkan suatu komunitas yang khas dengan kondisi lingkungan
yang bervariasi. Kondisi ini secara
umum menyebabkan keragaman organisme yang lebih sedikit di wilayah ini tetapi
dengan populasi yang tinggi (Supriharyono, 2000)
Kawasan estuaria tersebut terbentuk di ujung sungai-sungai
besar yang bermuara ke laut yang berpantai landai. Bercampurnya air tawar
dan air laut menjadikan wilayah ini unik dengan terbentuknya air payau dengan
salinitas yang berfluktuasi. Aliran air tawar dan air laut yang
terus menerus membawa mineral, bahan organik, serta sedimen dari hulu sungai ke
laut dan sebaliknya dari laut ke muara. Unsur hara ini mempengaruhi
produktivitas wilayah perairan muara. Karena itu, produktivitas estuari
lebih tinggi (1500 g/m2/th) dari produktivitas ekosistem laut lepas
(125 g/m2/th) dan perairan
tawar (400 g/m2/th) (Saptarini et. al, 1995).
Wilayah estuaria merupakan
habitat yang penting bagi sejumlah besar ikan dan udang untuk memijah dan
membesarkan anak-anaknya. Beberapa larva ikan yang
dipijahkan di laut lepas juga bermigrasi ke wilayah estuaria pada fase
larvanya. Karakteristik lain yang menyebabkan ekosistem ini menjadi penting
adalah peranannya sebagai perangkap nutrien (nutrient trap), tetapi
apabila aliran dari darat mengandung bahan pencemar maka tidak hanya nutrien
yang ditangkap tetapi juga bahan pencemar tersebut seperti minyak, pestisida, logam berat dan sebagainya (Knox dan
Myabara, 1984 dalam Saptarini et. al., 1995)
Selanjutnya Supriharyono (2000)
mengemukakan bahwa kondisi fisik dan
kimia yang mempengaruhi organisme yang hidup di ekosistem estuaria antara lain
adalah salinitas, suhu dan
sedimen.
Hutan mangrove sering juga disebut
sebagai hutan bakau, hutan payau atau hutan pasang surut, merupakan suatu
ekosistem peralihan antara darat dan laut. Terdapat di daerah tropik atau sub
tropik disepanjang pantai yang terlindung dan di muara sungai. Hutan mangrove
merupakan ciri khas ekosistem daerah tropis dan sub tropis. Hutan mangrove
merupakan komunitas tumbuhan pantai yang didominasi oleh beberapa jenis pohon
mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut sesuai
dengan toleransinya terhadap salinitas, lama penggenangan, substrat dan
morfologi pantainya. Sebagai daerah peralihan antara darat dan laut, ekosistem
mangrove mempunyai gradien sifat lingkungan yang berat, sehingga hanya jenis
tertentu yang memiliki toleransi terhadap kondisi lingkungan seperti itulah
yang dapat bertahan dan berkembang (Anonim, 1997).
Keberadaan hutan mangrove dapat
terjadi pada lingkungan di sepanjang muara sungai atau lebih banyak dipengaruhi
oleh faktor aliran sungai (fluvio-marine)
dan lingkungan yang lebih didominasi factor laut (marino-fluvial). Untuk kondisi hutan mangrove yang lebih banyak
dipengaruhi faktor laut, biasanya suplai air tawar berasal dari curah hujan
atau mata air (spring) dan struktur
hutannya lebih didominasi oleh tanaman mangrove.
Vegetasi hutan mangrove umumnya
terdiri dari jenis-jenis yang selalu hijau (evergreen
plant) dari beberapa famili. Menurut Dewanti et. al., (1996) hutan mangrove dapat meliputi beberapa jenis tanaman seperti Avicennia, Rhizophora, Ceriops, Bruguiera, Xylocarpus,
Acantus dan dan Hibiscus. Untuk
adaptasi terhadap kondisi habitat lingkungan yang ekstrim, jenis-jenis tersebut
mempunyai perakaran yang khusus. Sonneratia
spp, Avicennia spp dan Xylocarpus spp mempunyai akar
horizontal; Bruguiera spp dan Lumnitzera spp berakar tunjang,
sedangkan Ceriops spp akarnya
terbuka dan bagian bawah batang
mempunyai lenti sel yang besar. Kerapatan kanopi berhubungan erat dengan umur
tumbuhan, jenis, dan kerapatan batang pohonnya. Kerapatan tersebut dapat pula mengindikasikan kondisi baik atau
jelek suatu tegakan hutan mangrove.
Hutan mangrove merupakan ekosistem
pesisir yang mempunyai produktivitas tinggi.
Menurut Lugo dan Snedaker (1974 dalam Supriharyono, 2000)
produktivitas primer hutan mangrove dapat mencapai 5.000 g C/m2/th.
Tinggi rendahnya produktivitas tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
fluktuasi pasang dan kimia air.
Secara ekologis hutan mangrove telah
dikenal mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung. Ekosistem
mangrove bagi sumberdaya ikan dan udang berfungsi sebagai tempat mencari makan,
memijah, memelihara juvenil dan berkembang biak. Bagi fungsi ekologi sebagai
penghasil sejumlah detritus dan perangkap sedimen. Hutan mangrove merupakan
habitat berbagai jenis satwa baik sebagai habitat pokok maupun sebagai habitat
sementara. Bagi fungsi ekonomis dapat bermanfaat sebagai sumber penghasil kayu
bangunan, bahan baku pulp dan kertas, kayu bakar, bahan arang, alat tangkap
ikan dan sumber bahan lain seperti
tannin dan pewarna. Arang dari jenis Rhizophora
spp mempunyai nilai panas yang tinggi dan asapnya sedikit. Mangrove juga
mempunyai peran penting sebagai pelindung pantai dari hempasan gelombang air laut. Indonesia
memiliki cadangan hutan mangrove tropis terluas di dunia dengan luas sekitar
3,8 juta ha atau sekitar 30 – 40 % jumlah seluruh hutan mangrove dunia
(Lawrence, 1998). Hutan mangrove di Indonesia terpusat di Irian Jaya dan Maluku
(71 %), Sumatra (16 %), Kalimantan (9 %) dan Sulawesi ( 2,5 %).
Menurut Supriharyono (2000) walaupun tumbuhan mangrove dapat berkembang
pada lingkungan yang buruk, tetapi setiap trumbuhan mangrove mempunyai
kemampuan yang berbeda dalam mempertahankan diri terhadap kondisi lingkungan
fisik dan kimia dilingkungannya. Empat
faktor utama yang mempengaruhi penyebaran tumbuhan mangrove yaitu: (a)
frekwensi arus pasang; (b) salinitas tanah; (c) air tanah; dan (d) suhu
air. Keempat faktor tersebut akan menentukan dominan
jenis mangrove yang ada di tempat yang bersangkutan. Luas dan Penyebaran mangrove di Indonesia
disajikan pada Tabel 1.
Terumbu karang (coral reefs) merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar
laut daerah tropis dan dibangun oleh biota laut penghasil kapur khususnya
jenis-jenis karang dan alge penghasil kapur (CaCO3) dan merupakan
ekosistem yang cukup kuat menahan gaya gelombang laut. (Saptarini et. al,
1995; Dawes 1981 dalam
Supriharyono, 2000)
Berdasarkan geomorfologinya,
ekosistem terumbu karang dapat dibagi menjadi tiga tipe yaitu terumbu karang
tepi (fringing reef), terumbu karang penghalang (barrier reef) dan terumbu karang cincin (atolls) Ekosistem terumbu karang terdapat di lingkungan
perairan yang agak dangkal. Untuk mencapai pertumbuhan maksimumnya, terumbu
karang memerlukan perairan yang jernih, dengan suhu yang hangat, gerakan
gelombang yang besar, serta sirkulasi yang lancar dan terhindar dari proses
sedimentasi.
Tabel 1.
Luas Penyebaran Mangrove di Indonesia (Supriharyono, 2000)
|
No. |
Wilayah |
Luas (ha) |
|
1 |
Aceh |
50.000 |
|
2 |
Sumatra
Utara |
60.000 |
|
3 |
Riau |
95.000 |
|
4 |
Sumatra
Selatan |
195.000 |
|
5 |
Sulawei
Selatan |
24.000 |
|
6 |
Sulawesi
Tenggara |
29.000 |
|
7 |
Kalimantan
Timur |
150.000 |
|
8 |
Kalimantan Selatan |
75.000 |
|
9. |
Kalimantan Tengah |
10.000 |
|
10. |
Kalimantan Barat |
40.000 |
|
11. |
Jawa barat |
20.400 |
|
12. |
Jawa Tengah |
14.041 |
|
13. |
Jawa Timur |
6.000 |
|
14. |
Nusa
Tenggara |
3.678 |
|
15. |
Maluku |
100.000 |
|
16. |
Irian Jaya |
2.934.000 |
|
|
Indonesia |
3.806.119 |
Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang
paling produktif dan paling tinggi keaneka ragaman hayatinya. Berdasarkan
data yang dikumpulkan selama Ekspedisi Snelius II (1984), di perairan Indonesia
terdapat sekitar 350 spesies karang keras yang termasuk ke dalam 75 genera.
Selanjutnya Supriharyono (2000) mengemukakan bahwa karena produktivitas yang tinggi tersebut
memungkinkan terumbu karang merupakan tempat pemijahan, pengasuhan dan mencari
makan dari kebanyakan ikan. Oleh karena itu secara otomatis produksi ikan di
daerah terumbu karang sangat tinggi.
Kerangka hewan karang berfungsi sebagai
tempat berlindung atau tempat menempelnya biota laut lainnya. Sejumlah ikan pelagis
bergantung pada keberadan terumbu karang pada masa larvanya. Terumbu
karang juga merupakan habitat bagi banyak spesies laut. Selain itu,
terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi. Dari sisi
sosial ekonomi, terumbu karang adalah sumber perikanan yang produktif, sehingga
dapat meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir, dan devisa negara yang
berasal dari perikanan dan pariwisata.
Pertumbuhan
karang dan penyebaran terumbu karang tergantung pada kondisi lingkunganya. Kondisi ini pada kenyataannya tidak selalu
tetap, akan tetapi seringkali berubah karena adanya gangguan baik yang berasal
dari alam atau aktivitas manusia.
Faktor faktor kimia dan fisik yang diketahui dapat mempengaruhi
kehidupan dan atau laju pertumbuhan karang antara lain cahaya matahari, suhu, salinitas dan
sedimen. Sedangkan faktor biologis
biasanya berupa predator atau pemangsanya (Supriharyono, 2000).
Padang lamun (seagrass
beds) merupakan salah satu ekosistem yang terletak di daerah pesisir atau
perairan laut dangkal. Masyarakat lamun merupakan masyarakat tumbuhan berbiji
tunggal (monokotil) dari kelas angiospermae.
Keunikan tumbuhan lamun dari tumbuhan laut lainnya adalah adanya
perakaran dan sistem rhizoma yang ekstensif.
(Supriharyono, 2000). Wilayah ini terdapat antara
batas terendah daerah pasang surut sampai kedalaman tertentu di mana matahari
masih dapat mencapai dasar laut.
Produktivitas
primerkomunitas lamun mencapai 1 kg C/m2/th.
Namun demikian menurut Kirman dan Reid (1979 dalam Supriharyono, 2000) dari jumlah tersebut hanya 3 % yang
dimanfaatkan oleh herbivora, 37 %
tenggelam ke perairan dan dimanfaatkan
oleh benthos dan 12 % mengapung di permukaan dan hilang dari ekosistem. Padang
lamun mendukung kehidupan biota yang cukup beragam dan berhubungan satu sama
lain. Jaringan makanan yang terbentuk antara padang lamun dan biota lain
adalah sangat kompleks.
Selanjutnya dikemukakan oleh Supriharyono
(2000) bahwa produktivitas tersebut selain dari tumbuhan lamun juga berasal
dari algae dan organisme phytoplankton yang menempel di daun lamun.
Sejumlah invertebrata: moluska (Pinna, Lambis,
dan Strombus); Echinodermata (teripang - Holoturia, bulu
babi – Diadema sp.), dan bintang laut (Archaster, Linckia);
serta Crustacea (udang dan kepiting).
Di Indonesia, padang lamun sering di jumpai
berdekatan dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang (Tomascik et al.,
1997, Wibowo et al., 1996) sehingga interaksi ketiga ekosistem ini
sangat erat. Struktur komunitas dan sifat fisik ketiga ekosistem ini
saling medukung, sehingga bila salah satu ekosistem terganggu, ekosistem yang
lain akan terpengaruh.
Fungsi padang lamun antara lain: memerangkap sedimen, menstabilkan substrat
dasar dan menjernihkan air; produktivitas
primer; sumber makanan langsung
kebanyakan hewan; habitat beberapa jenis hewan air; substrat organisme yang
menempel dan sebagainya. (Supriharyono, 2000)
Lahan pantai merupakan bagian dari dataran
pantai (coastal plain) yang berupa
daerah peralihan dengan perairan laut, yang biasanya disebut pesisir. Dalam sistem landform dataran pantai
mencakup bagian dari grup aluvial, marin, fluvio marin, gambut dan eolin
(Marsudi et al., 1994). Lahan rawa di
daerah pesisir berupa lahan rawa pasang surut.
Luas lahan rawa pasang surut di Indonesia diperkirakan 20,192 juta ha
(Widjaja Adhi, et al., 1992 dan
Nugroho, et al., 1993). Jenis tanah
yang ditemukan pada wilayah ini sangat beragam tetapi secara garis besar
terdiri dari tanah mineral dan tanah organik.
Tanah mineral yang ditemukan umumnya berasal
dari bahan aluvial baik sedimen daratan
maupoun sedimen marine Asal sedimen tersebut menetukan sifat tanah mineral yang
terbentuk. Sedimen marine atau yeng
terpengaruh sedimen marine secara dominan akan membentuk tanah yang mempunyai
potensi sulfur yang cukup tinggi.
Tanah
organik terbentuk akibat akumulasi bahan organik rawa belakang tanggul karena proses dekomposisi yang tidak
sempurna. Untuk indonesia bahan dominan
dari bahan kayu.
Sebagian besar lahan pantai mempunyai relief datar. Lahan pantai berpasir yang tidak mendapat
pengaruh air pasang umumnya cembung atau datar agak berombak. Kemiringan lahan pada lahan pantai yang
mendapat pengaruh air pasang dan ketinggian tempat sangat berpengaruh terhadap
kesesuaian lahan untuk perikanan air payau (tambak) maupun pengembangan budi
daya pertanian lainnya.
Berdasarkan
jangkauan pasang air laut, Widjaja Adhi, et
al., (1992) membagi empat tipologi lahan pasang surut yaitu:
Tipe A : Lahan selalu terluapi pasang maksimum maupun minimum.
Tipe B : Lahan hanya terluapi pasang besar.
Tipe C : Lahan tidak pernah terluapi pasang besar, air
tanah kurang dari 50 cm.
Tipe D : Lahan tidak pernah
terluapi pasang besar dan air tanah lebih dari 50 cm.
Berdasarkan
landform lahan pantai dapat berupa pesisir, fluvio marin, rawa belakang. Pada ketiga landform ini terdapat tanah
Histosols, Inceptisols dan Entisols dari great grup Sulfihemists, Haplohemists,
Haplosaprists. Halasaprists dan hydraquents.
Daerah pesisir tanahnya terdiri atas Udipsamments seluas 857 220 ha, dan
Endoaquents 571 480 ha. Pada fluvio
marin terdiri dari Endoaquents seluas 1 335 480 ha dan Sulfaquents 890 320
ha. Sedangkan pada rawa belakang
tanahnya terdiri atas endoaquepsts dan Sulfaquents yang masing-masing luasnya
401 620 ha dan 267 990 ha. (Tabel 2).
Tabel 2. Luas Tanah dan Penyebarannya Menurut
Landform pada Lahan Pantai
|
Landform |
Klasifikasi
tanah |
Luas (ha) |
|
|
Soil Taxonomy (Soil Survey
Staff, 1998) |
Supraptohardjo
(1971) |
||
|
Pesisir |
Udipsamments |
Regosols |
857 220 |
|
|
Endoaquents |
Aluvial |
571 480 |
|
Flavio marin |
Endoaquents |
Aluvial |
1 335 480 |
|
|
Sulfaquent |
Aluvial |
890
320 |
|
Rawa
belakang |
Endoaquepts |
Aluvial |
401 820 |
|
|
Sulfaquent |
Aluvial |
267 880 |
|
J u m l a h |
|
|
4 324 200 |
Sumber : Puslittanak (2000)
Lahan pantai yang merupakan tanah mineral
mencakup luas 3 654 500 ha didominansi ordo Entisols. Dalam tingkat great group tanahnya didominansi oleh Endoaquents,
Sulfaquent, dan Udipsamment. Secara
rinci penyebaran tanah menurut landform dan propinsi dapat dilihat pada Tabel
3. Secara ringkas sifat-sifat tanah
tersebut tertera pada Tabel 4.
Tabel 3. Tanah Lahan Pantai dan
Luasannya pada Setiap Propinsi di Indonesia
|
Propinsi |
Pesisir |
Flavio marin |
||
|
Udipsamments |
Endoaquents |
Endoaquents |
Sulfaquents |
|
|
…………………………………(ha)……………………………….. |
||||
|
D.I Aceh |
87 060 |
58 040 |
119 400 |
79 600 |
|
Sumut |
134 880 |
89 920 |
117 840 |
78 560 |
|
Sumbar |
55 920 |
37 280 |
|
|
|
Riau |
122 460 |
81 540 |
199 680 |
133 120 |
|
Jambi |
24 120 |
16 080 |
50 760 |
33 840 |
|
Sumsel |
108 000 |
72 000 |
99 180 |
66 120 |