Makalah Kelompok I E Posted 16 November 2001
Falsafah
Sains (PPs 702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
November 2001
Dosen:
Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng
(Penanggung Jawab)
PEMANFAATAN PELABUHAN PERIKANAN TANGKAP
LINAU BENGKULU SELATAN
DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR
Oleh
:
Kelompok I /PPKP-E:
PARDJOKO, C526010094; FATCHUDIN, C526010204; RISFAN SUYEDI, C525010214 HARMIN SARANA C526010194
1.1.
Latar Belakang
Bengkulu Selatan berdiri berdasarkan SK Presiden RI tanggal 14 September 1956 dengan Ibu kota Manna, merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Bengkulu dengan luas 5.950 km sebagian besar (sekitar 65%) merupakan daerah pertanian yang subur dengan tanahnya bergelombang kemiringan 10-50° (derajat) dikarenakan Bengkulu Selatan tepat berada pada gunung Bukit Barisan.
Bengkulu
Selatan terletak diantara 4o - 5o LS dan 102o
- 103o BT serta berbatasan dengan Kodya Bengkulu dan Bengkulu Utara,
Provinsi Lampung, Kabupaten Lahat Propinsi Sumatera Selatan dan Samudera
Indonesia. Selanjutnya Kabupaten Bengkulu Selatan terdiri dari 9 (sembilan)
kecamatan yaitu : Kecamatan Kaur Selatan, Kecamatan Kaur Tengah, Kecamatan Kaur
Utara, Kecamatan Manna, Kecamatan Segimin, Kecamatan Pino, Kecamatan Seluma dan
Kecamatan Sukaraja.
Bengkulu Selatan merupakan daerah yang sedang berkembang, maka daerah ini juga dihadapkan berbagai kendala dalam pembangunan. Berbagai usaha di sektor produktif yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian (tanaman pangan, perikanan, perkebunan, kehutanan, peternakan). Selain itu pula belum optimalnya pemanfaatan potensi-potensi yang lain, salah satunya pelabuhan perikanan laut Linau. Sehingga wajar kalau dijumpai belum maksimalnya produktivitas tersebut di atas sesuai dengan apa yang diharapkan. Kondisi di atas masih memiliki kendala lainnya seperti infra struktur yang belum tertata dengan baik, dikarenakan belum ada perencanaan yang terpadu, masih kuatnya alur birokrasi di tingkat yang lebih tinggi, serta masyarakat pesisir yang berada di lingkungan sosial tersebut tergolong masyarakat ekonomi lemah. Masih lemahnya keuangan daerah, kurang berkembang usaha pengolahan hasil agrobisnis yang berorientasi pasar.
Padahal sektor tersebut di atas sangatlah menjanjikan di Kabupaten Bengkulu Selatan. Sektor-sektor yang diuraikan di atas tidak terlepas dari daya dukung karakteristik seperti : iklim, adanya curah hujan yang relatif tinggi sekitar 2000-4000 mm/tahun dengan kelembaban yang cukup tinggi yaitu berkisar 80 % dengan kemiringan tanah 10-30 %. Daerah ini terletak pada persimpangan jalur lintas barat yang menghubungkan dua provinsi yaitu Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.
Dengan diterapkannya Undang-Undang Otonomi Daerah (OTDA) yang kebijaksanaannya ada dalam tingkat Kabupaten masing-masing, maka pembangunan Kabupaten Bengkulu Selatan haruslah berbasis pada sumber-sumber daya yang ada pada daerah tersebut. Adapun sumber daya yang dapat ditumbuh kembangkan adalah pelabuhan perikanan laut Linau yang terletak di Kecamatan Kaur Selatan. Usaha sumber kelautan tersebut sangatlah berpotensi dengan alasan sebagai berikut :
1) Merupakan pelabuhan laut terbaik dan terbesar di Bengkulu Selatan.
2) Dengan keadaan dan potensi alam yang baik diusahakan menjadi tujuan wisata yang menguntungkan.
3) Dengan panjang pantai yang memadai diusahakan usaha perikanan tangkapan yang terpadu.
Aspek-aspek tersebut di atas dapat ditumbuh kembangkan melalui konsep-konsep pembangunan yang berorientasi kedepan dengan pemasaran dengan daya saing yang kuat, disinilah titik tekannya pembangunan yang berbasiskan ekonomi kelautan.
Aspek-aspek tersebut mempunyai daya dukung :
1) Sebagai daerah penyangga kedua terhadap pertumbuhan ekonomi Jabotabek.
2)
Infrastruktur
ke propinsi tetangga terutama Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.
Dari
aspek-aspek tersebut di atas maka pembangunan berbasiskan ekonomi kelautan ini
akan memerlukan konsep agribisnis. Oleh sebab itu aspek peningkatan produktivitas, aspek pengembangan agribisnis
pertanian dan aspek pemasaran hasil pertanian perlu mendapat perhatian yang
lebih serius. Sebagai terobosan diperlukan upaya memilih dan mengembangkan
beberapa komoditi tertentu yang dikembangkan atas prinsip keunggulan
komprehensif di wilayah-wilayah tertentu (disesuaikan dengan potensi
pengembangan) serta kebijakan publik pada supra struktur yang harus
berorientasi bisnis dengan penanganan pemasaran secara terpadu.
1.2.
Identifikasi Masalah
Dari uraian di atas maka dapat dikatakan kondisi Bengkulu Selatan cukup
potensi untuk ditumbuh kembangkan. Tidak terlepas juga adanya berbagai hambatan
yang dihadapi Bengkulu Selatan. Kalau dilihat secara geografis Bengkulu Selatan
yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera posisinya kurang menguntungkan,
karena wilayah pusat pertumbuhan ekonomi berada di pantai timur Sumatera dengan
pusat ekonomi wilayah SIJORI. Hambatan lain belum adanya keterpaduan kebijakan
dan perencanaan pembangunan secara terpadu yang berorientasi pasar dan daya
saing.
1.3.
Dari Hambatan Tersebut Di Atas Dapat
Dirumuskan Permasalahannya Sebagai Berikut :
1. Bagaimana
pemberdayaan sumber daya manusia nelayan di Pelabuhan Perikanan Laut Linau
sebagai pelabuhan yang berbasiskan ekonomi kelautan.
2. Berapa
besarkah kontribusi pelabuhan perikanan laut Linau terhadap peningkatan sosial
ekonomi terhadap masyarakat di daerah tersebut.
3. Sejauh
manakah pemanfaatan pelabuhan perikanan Linau dalam pembangunan di Kabupaten
Bengkulu Selatan.
1.4.
Metode Penelitian
1. Melakukan survei lapangan, mengidentifikasikan, melihat potensi tipe sumber daya kawasan pelabuhan perikanan laut Linau Kabupaten Bengkulu Selatan.
2. Melakukan survei sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan pelabuhan dan lautan.
3. Melakukan kuesioner pada Pemda Tingkat II Bengkulu Selatan dan masyarakat sekitar kawasan pelabuhan.
4. Melakukan analisis pemodelan dengan menggunakan alat dan teori untuk memberikan opsi dengan menggunakan Gams Stella Power Shim, SWOT dan AHP. Model ini memberikan ruang bagi analisis beberapa dimensi yang saling berhubungan dan terkait.
2.1.
Pengertian
Pembangunan
2.2.
Pendapatan Regional
2.3.
Konsep Basis
Ekonomi.
2.4.
SWOT
1. Analisis Kuantitatif dilakukan dengan metode
Location Quotient (LQ) tujuannya untuk mengetahui pembangunan perikanan dengan
teknik analisis (Swasno dan Endang. 1983) yaitu :

2. Analisis Shift Share
Analisis ini bertujuan mengetahui kontribusi sub sektor perikanan terhadap PDRB.
P = S/T X 100 %
3. Efek Pengganda
Analisa bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara sub sektor perikanan dengan sektor lainnya.
K = ▲ Y / ▲ Yp
BAB IV
DISKRIPSI DAN ANALISIS PERIKANAN LAUT
DI KABUPATEN BENGKULU SELATAN
2.1. Profil Perikanan Laut Kabupaten Bengkulu
Selatan
1. Potensi Perikanan Laut Di Kabupaten Bengkulu
Selatan.
(Data dari
Dinas Perikanan Kabupaten Bengkulu Selatan)
|
No |
Tahun |
Potensi Lestari/Th |
Pemanfaatan (%) |
|
1 |
1995 |
31.000 ton |
49,4 % |
|
2 |
1996 |
31.000 ton |
51,2 % |
|
3 |
1997 |
31.000 ton |
54,2 % |
|
4 |
1998 |
31.000 ton |
54,6 % |
|
5 |
1999 |
31.000 ton |
70,1 % |
2. Produksi Perikanan Di Kabupaten Bengkulu Selatan
No |
Tahun |
Produksi |
1
|
1995
|
15.147,5 Ton
|
2
|
1996
|
16.114,5 Ton
|
3
|
1997
|
17.099,2 Ton
|
4
|
1998
|
17.383,2 Ton
|
5
|
1999
|
21.421,3 Ton
|
3. Armada Tangkap dan Alat Tangkap Perikanan Kabupaten Bengkulu Selatan
Tahun |
Perahu Tidak
Bermotor |
Motor Tempel
|
Kapal Motor
|
1995
|
870
|
426
|
578
|
1996
|
1148
|
443
|
746
|
1997
|
1163
|
470
|
850
|
1998
|
1160
|
474
|
886
|
1999
|
1160
|
601
|
886
|
4. Banyaknya Tempat Pendaratan Perikanan Laut
Pendaratan
perikanan laut yang ada di Kabupaten Bengkulu Selatan lihat tabel 2 4 di
bawah ini.
Tabel 2 4
Banyak Pendaratan Ikan Di Propinsi
Bengkulu
(BPS : Bengkulu
Dalam Angka Tahun 1999)
|
Lokasi |
Nama |
Jumlah |
|
1.
Kecamatan Manna 2. Kecamatan
Seluna 3. Kecamatan Kaur
Selatan |
TPI TPI TPI |
2 1 1 |
5. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Reginal Bruto
Tabel 1-5 PDRB Kabupaten Bengkulu Selatan Atas Harga Konstan
Tahun 1995 1999 (Rp. 000.000)
(Sumber BPS : Bengkulu Dalam Angka Tahun 1999)
|
Sektor |
1995 |
1996 |
1997 |
1998 |
1999 |
|
1.
Pertanian |
109.200 |
116.599 |
118.414 |
112.607 |
112.746 |
|
2.
Pengembangan & Gali |
5.428 |
5.836 |
6.277 |
4.884 |
4.725 |
|
3.
Industri Pengolahan |
10.162 |
11.492 |
14.332 |
11.289 |
4.589 |
|
4.
Listrik & Gas & Air |
947 |
1.014 |
1.225 |
1.280 |
1.224 |
|
5.
Bangunan |