© 2001  Muhammad Syakir                                                                                     Posted: 6 Oct. 2001   [rudyct]  

Makalah Falsafah Sains (PPs 702)   

Program Pasca Sarjana / S3

Institut Pertanian Bogor

October 2001

 

Dosen:

Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)

 

 

 

POTENSI PENGEMBANGAN LADA PERDU1

 

Oleh:

Muhammad Syakir

AGR.A.156010131

E-mail: amsyakir@yahoo.com

 

PENDAHULUAN

 

               Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peluang strategis dalam sistem usahatani perkebunan berkelanjutan, baik secara ekonomi maupun sosial. Secara ekonomi lada dapat menjadi salah satu sumber utama pendapatan petani dan devisa negara sektor non migas, sedangkan secara sosial merupakan komoditas tradisional yang telah dibudidayakan sejak lama dan keberadaannya merupakan penyedia lapangan kerja yang cukup luas terutama di daerah sentra produksi. Hal tersebut sangat dimungkinkan mengingat usaha tani lada di Indonesia umumnya diusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat. Beberapa propinsi di Indonesia yang merupakan sentra produksi lada antara lain: Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

               Produksi lada Indonesia pada tahun 1996 sebesar 39.200 m ton, sedangkan ekspor lada pada tahun tersebut sebesar 34.000 m ton dengan nilai US$ 98.988.000. Nilai tersebut merupakan yang tertinggi diantara negara-negara penghasil lada lainnya, seperti India (US$ 77.420.000), Malaysia (US$ 39.271.000), dan Brasil (US$ 36.564.000). Sementara itu pada tahun 1997 produksi lada Indonesia menurun sebesar 10,7% menjadi 35.000 m ton akibat adanya pengaruh El Nino, dan ekspor lada pada tahun tersebut sebanyak 32.835 m ton, menempati posisi kedua sebagai penghasil lada dunia setelah India (Anonim,1996; Anonim, 1997; Anonim, 1998).  Namun demikian selama bulan Januari-September 2000 Indonesia kembali mendominasi ekspor lada dunia dengan jumlah ekspor 41.131 m ton (33% total ekspor lada dunia). Jumlah tersebut meningkat 75% dibandingkan tahun 1999 untuk periode yang sama (Anonim, 2000).

               Pada dekade terakhir persaingan harga lada di pasar dunia sangat tinggi. Hal ini tidak saja disebabkan peningkatan produksi di negara-negara produsen lada, tetapi juga disebabkan oleh munculnya negara-negara baru penghasil lada seperti Thailand, Srilanka, dan Vietnam. Selama bulan Januari-September 2000 total ekspor lada negara-negara produsen utama meningkat 17% dibanding tahun 1999, sementara itu harga lada justru semakin menurun sebagai akibat tingginya produksi (Anonim, 2000).  Di sisi lain semakin kritisnya negara-negara konsumen terhadap mutu lada turut memperkuat kekhawatiran terjadinya kelebihan produksi pada tahun 2001. Dengan kondisi tersebut persaingan untuk merebut pangsa  pasar internasional menjadi semakin ketat.  Untuk mempertahankan produk lada sebagai salah satu komoditas ekspor non migas andalan di masa mendatang, upaya antisipatif yang dilakukan tentunya tidak hanya pada peningkatan produktivitas, melainkan lebih difokuskan pada perbaikan teknologi budidaya dan mutu lada yang memiliki keunggulan dalam menekan biaya produksi dan meningkatkan kualitas hasil.

               Lada perdu merupakan salah satu alternatif budidaya lada dalam upaya menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani. Namun demikian lada perdu belum berkembang secara luas, disamping masih banyaknya aspek yang perlu diteliti juga masih kurangnya penyebaran informasi mengenai potensi dan peluang pengembangannya.

 

POTENSI LADA PERDU

              

Potensi Agronomi

 

           Pengembangan dan penerapan sistim pola tanam lada perdu, pada dasarnya berpengaruh terhadap iklim mikro. Dalam pemilihan kombinasi tanaman dan jenis pola tanam perlu dipertimbangkan faktor lingkungan iklim dan tanah.

               Secara morfologi lada tergolong tanaman dimorfik yang memiliki dua macam sulur, yaitu sulur panjat (orthotropic climbing shoot) dan sulur buah (axillary plagiotropic fruiting branches) (Winter dan Muzik, 1963; Purseglove, 1969). Berdasarkan morfologinya perbedaan yang jelas antara sulur panjat dan sulur buah yaitu sulur panjat memiliki akar lekat (hold fast), sedangkan sulur buah tidak memilikinya. Sementara itu secara fisiologi sulur panjat memiliki sifat negatif fototrof, sedangkan sulur buah bersifat positif fototrof (Iljas, 1969).

 

 

               Selama ini dalam budidaya lada di Indonesia tanaman yang digunakan berasal dari sulur panjat, sehingga untuk mendukung pertumbuhannya diperlukan tiang panjat, baik tiang panjat mati maupun hidup. Namun demikian dari rekayasa teknik perbanyakan vegetatif telah dihasilkan lada perdu yang diperbanyak dengan menggunakan bahan tanaman yang berasal dari sulur/cabang buah yang bersifat plagiotrop, sehingga dalam budidayanya tidak memerlukan tiang panjat (Gambar 1).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1. Keragaan tanaman lada dengan tiang panjat (a) dan lada perdu (b)

              

               Lada perdu memiliki tajuk tanaman yang berbentuk perdu dengan diameter 100 – 150 cm dan tinggi tanaman 90 – 120 cm. Berbeda halnya dengan lada tiang panjat yang memiliki dua macam akar (di bawah permukaan tanah dan akar lekat), lada perdu hanya memiliki satu macam akar, yaitu akar yang berada di bawah permukaan tanah. Jumlah akar utama dari pembibitan tidak bertambah setelah dipindah ke kebun dan selanjutnya yang berkembang hanyalah cabang-cabang akar. Perakaran lada perdu lebih banyak terkonsentrasi di sekitar permukaan tanah dan tidak menghunjam lebih dalam. Perakaran efektif hanya mencapai kedalaman 30 cm, sedangkan penetrasi akar dapat mencapai 60 cm (Pujiharti et al., 1995).

               Berdasarkan karakter fisiologinya lada tergolong tanaman yang adaptif terhadap naungan karena mempunyai lintasan fotosintesis C3 (Das et al., 1976). Oleh karena itu lada perdu pun termasuk dalam kelompok tanaman lindung (scyophit), yaitu tanaman yang dapat tumbuh baik dalam keadaan ternaungi. Dengan karakter morfologi dan fisiologi tersebut di atas, lada perdu di samping dapat dikembangkan secara monokultur, juga sangat berpotensi untuk dikembangkan di bawah tegakan tanaman tahunan, seperti kelapa, sengon, dan lainnya dalam berbagai bentuk polatanam.

 

Lingkungan Tumbuh

               Pertumbuhan dan produksi tanaman merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor biotik dan abiotik. Lingkungan tumbuh merupakan salah satu faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi lada perdu. Di antara faktor lingkungan tumbuh yang paling dominan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi lada perdu adalah iklim, elevasi, dan tanah.

 

Iklim dan elevasi

               Selama ini unsur-unsur iklim yang diketahui berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi lada perdu antara lain; curah hujan, penerimaan radiasi surya, suhu, dan kelembaban. Pada dasarnya kondisi iklim yang dikehendaki lada perdu relatif sama dengan lada tiang panjat. Hasil penelitian Wahid dan Suparman (1986) menyebutkan bahwa curah hujan yang dikehendaki tanaman lada yaitu 2.000 – 3.000 mm/tahun dengan rata-rata curah hujan 2.300 mm/tahun. Jumlah hari hujan dalam setahun rata-rata 177 hari dan tidak terdapat bulan-bulan kering dengan curah hujan  kurang dari 60 mm/bulan. Hasil pengamatan di   Lampung menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman lada mulai tertekan apabila jumlah curah hujan setiap bulannya kurang dari 90 mm. Di samping itu tanaman lada dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik apabila ditanam pada elevasi kurang dari 500 m di atas permukaan laut (dpl). Wahid et al. (1988) telah menyusun batas kesesuaian lingkungan (curah hujan, bulan kering, hari hujan, dan elevasi) untuk tanaman lada seperti disajikan pada Tabel 1.

 

 

Tabel 1. Batas kesesuaian lingkungan untuk tanaman lada di Indonesia

 

Curah hujan (mm/tahun)

Bulan kering (<90 mm/bulan)

Elevasi      (m dpl)

Hari hujan

Kendala

Kesesuaian

2.000-2.500

<2

<500

110-150

Tidak ada

Amat sangat sesuai

2.500-3.000

<2

<500

115-160

Tidak ada

Sangat sesuai

2.000-3.000

3

<500

110-160

Tidak ada

Sesuai

3.000-4.000

<2

<500

145-190

Curah hujan agak tinggi

Agak sesuai

1.500-2.000

<3

<500

90-135

Kekeringan

Agak sesuai

1.500-4.000

4-5

<500

90-175

Kekeringan periodik

Kurang sesuai

-

-

>500

-

Suhu rendah

Tidak dianjurkan

<1.500

-

-

-

Kurang air

Tidak dianjurkan

>4.000

-

-

-

Terlalu basah, cahaya kurang

Tidak dianjurkan

-

>5

-

-

Kekeringan

Tidak dianjurkan

                                                              Sumber: Wahid et al. (1988)

 

               Walaupun tanaman lada tergolong adaptif terhadap naungan, namun untuk mendukung pertumbuhan dan produksinya memerlukan kisaran radiasi surya yang optimal. Menurut Syakir (1994) lada dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada tingkat intensitas radiasi minimal 50% atau setara dengan energi radiasi rata-rata 251,8 kalori/cm2/hari. Lebih jauh Wahid et al. (1999a) melaporkan bahwa di antara varietas-varietas lada perdu terdapat perbedaan respon terhadap intensitas radiasi surya. Pada intensitas radiasi 100% (cahaya penuh) produksi lada perdu terbaik ditunjukkan oleh varietas Petaling 1. Sedangkan pada intensitas radiasi 50 - 75% produksi terbaik ditunjukkan oleh varietas Bengkayang. Secara umum lada perdu dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada kisaran intensitas radiasi surya 50 – 75%.

               Suhu dan kelembaban udara juga turut mempengaruhi pertumbuhan dan produksi lada. Suhu yang dikehendaki tanaman lada yaitu antara 20oC (minimum) – 34oC (maksimum) dengan kisaran terbaik antara 21-27 oC pada pagi hari, 26-32 oC siang hari, dan 24-30 oC sore hari. Kelembaban nisbi udara yang dikehendaki antara 50-100%, dengan kisaran optimal 60-80% (Wahid dan Suparman, 1986).

 

 

Tanah

               Lada perdu dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, diantaranya Ultisol, Inceptisol, Alfisol, dan Andisol. Namun demikian umumnya tanaman lada di Indonesia dikembangkan pada dua jenis tanah yaitu Ultisol dan Inceptisol. Lada perdu menghendaki tanah dengan aerasi dan drainase baik. Oleh karena itu lada perdu yang dikembangkan pada tanah Ultisol ataupun Alfisol akan memiliki pertumbuhan dan produksi yang lebih baik apabila tanah tersebut memiliki kelas tekstur lempung liat berpasir atau liat berpasir. Sedangkan pada tanah Inceptisol, lada perdu dapat tumbuh optimal apabila kelas tekstur tanah lempung atau lempung berpasir. Menurut Zaubin (1979) pH tanah yang dikehendaki tanaman lada berkisar antara 5,5 – 5,8.

               Pengembangan lada perdu pada jenis tanah Ultisol, Inceptisol, dan Alfisol tetap memerlukan tambahan pupuk buatan dan organik, mengingat ketiga jenis tanah tersebut umumnya memiliki tingkat kesuburan kimia tanah yang rendah sampai sedang. Di samping itu tanaman lada tergolong rakus hara, sehingga untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik memerlukan ketersediaan unsur hara yang tinggi.     

 

Potensi Ekonomi

               Sebagai alternatif dalam budidaya lada potensi ekonomi lada perdu terletak pada aspek agronomi, dimana teknologi budidaya yang diterapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani lada. Keunggulan-keunggulan komparatif lada perdu terhadap lada tiang panjat antara lain: (1) lebih efisien dalam penggunaan bahan tanaman untuk perbanyakan, (2) tidak memerlukan tiang panjat, (3) populasi tanaman per satuan luas (4.000 – 4.500 tanaman/ha) lebih banyak, sehingga penggunan lahan lebih efisien, (4) pemeliharaan dan panen lebih mudah, (5) dapat berproduksi lebih awal (umur 2 tahun), dan (6) dapat ditanam dengan polatanam campuran atau tumpang sari dengan tanaman tahunan lainnya (Syakir dan Zaubin, 1994; Dhalimi et al., 1998).     

               Wahid et al. (1999b) melaporkan bahwa berdasarkan analisis keuntungan sosial bersih pada beberapa komoditas perkebunan, lada perdu menghasilkan manfaat ekonomi paling besar, kemudian berturut-turut diikuti oleh lada tiang panjat mati, kelapa sawit, kakao, kopi, dan karet. Di samping itu telah dilakukan pula analisis biaya sumber daya dalam negeri (BSD) dan keunggulan komparatif lada perdu terhadap komoditas-komoditas perkebunan tersebut di atas seperti yang disajikan pada Tabel 2.

 

 

Tabel 2. Analisis biaya sumber daya dalam negeri dan keunggulan komparatif lada perdu

terhadap beberapa komoditas perkebunan

 

 

Komoditas perkebunan

Uraian

Lada perdu

Lada tiang panjat

Karet

Kopi

Kakao

Kelapa sawit

Penerimaan (Rp)

22.978.080

28.103.560

5.258.790

9.701.535

7.139.950

8.339.720

Biaya sosial (Rp)

 

 

 

 

 

 

- dalam negeri

3.250.394

9.268.049

2.604.006

4.797.645

3.881.621

3.904.471

- asing

7.141.235

9.884.261

3.878.374

3.430.190

2.530.068

2.275.136

BSD

519,00

1.272,50

4.717,50

1.912,53

1.941,23

1.284,42

Keunggulan komparatif

0,208

0,509

1,887

0,765

0,7765

0,5129

                                                              Keterangan: nilai tukar mata uang 1 US$ bulan Juni 1997 Rp. 2.500

                                                              Sumber: Wahid et al. (1999b)

 

               Analisis BSD merupakan variabel yang dapat digunakan untuk mengukur besarnya biaya sumber daya dalam negeri yang harus dikorbankan (dalam rupiah) untuk memperoleh satu satuan devisa. Apabila BSD lebih kecil daripada nilai tukar bayangan atau rasio keduanya <1, maka investasi tersebut dikatakan efisien. Semakin kecil rasionya menunjukkan komoditas tersebut makin memiliki keunggulan komparatif.

               Hasil analisis pada Tabel 2 menunjukkan bahwa lada perdu memiliki nilai BSD dan rasio yang paling kecil dibandingkan komoditas perkebunan lainnya. Dengan demikian dari sudut korbanan dalam negeri, lada perdu merupakan usaha tani yang paling efisien dan memiliki keunggulan komparatif paling besar.

               Hasil penelitian Rosmeilisa et al. (1999) di Kabupaten Bangka juga menunjukkan bahwa usaha tani lada perdu memiliki tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan lada tiang panjat mati. Walaupun produksinya lebih rendah, tetapi biaya produksi lada perdu (Rp. 5.043.974/ha) jauh lebih rendah dibandingkan biaya produksi lada tiang panjat mati (Rp. 9.609.711/ha). Tingkat keuntungan (Net Present Value/NPV) lada perdu Rp. 5.252.917/ha, NPV lada tiang panjat mati Rp. 2.724.199/ha; kelayakan usaha tani (B/C rasio) lada perdu 2,04, B/C lada tiang panjat mati 1,28; Internal Rate of Return (IRR) lada perdu 110%, IRR lada tiang panjat mati 42% (Tabel 3).\

 

Tabel 3. Analisis finansial usaha tani lada perdu dan lada tiang panjat mati (Rp/ha)

 

Tahun

Lada perdu

Lada tiang panjat mati

ke-

Manfaat      DF 24%

Biaya          DF 24%

Manfaat ber-sih DF 24%

Manfaat      DF 24%

Biaya          DF 24%

Manfaat ber-sih DF 24%

1

0

    2.879.839  

-2.879.839

0

    5.892.742

   -5.892.742

2

2.934.443

828.756.5

2.105.687

0

839.945.4

-839.945.4

3

3.545.534

724.965.2

2.820.569

4.720.385

    1.408.248

    3.312.137

4

3.816.914

610.413.5

3.206.500

7.613.525

    1.468.776

    6.144.749

Total

10.296.891

    5.043.974

5.252.917

12.333.910

    9.609.711

    2.724.199

 

                                                                                                                      NPV     : 5.252.917          NPV        : 2.724.199

                                                                                                                      B/C      : 2,04   B/C         : 1,28

                                                                                                                      IRR      : 110%                IRR         : 42%

                                                                                                                                   Sumber: Rosmeilisa et al. (1999)

 

 

 

POLA PENGEMBANGAN LADA PERDU

 

               Berdasarkan karakter morfologi, fisiologi, dan lingkungan tumbuhnya, lada perdu sangat berpotensi untuk dikembangkan dalam berbagai bentuk polatanam, seperti monokultur, polatanam di bawah tegakan tanaman tahunan atau dikombinasikan dengan tanaman pangan semusim. Disamping itu lada perdu dapat pula dikembangkan sebagai tanaman pekarangan.

 

Pola tanam Lada Perdu

                 Pengembangan lada perdu dalam bentuk polatanam, khususnya di bawah tegakan tanaman tahunan memiliki beberapa keuntungan, diantaranya: (1) dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, (2) mampu memberikan nilai tambah yang cukup signifikan, dan (3) risiko kematian tanaman akibat cekaman kekeringan relatif lebih kecil dibandingkan penanaman secara monokultur (tanpa naungan). Berdasarkan kebutuhan intensitas radiasi surya, lada perdu sebaiknya dikembangkan di bawah tegakan tanaman tahunan yang dapat meloloskan radiasi surya 50 – 75%. Di antara tanaman tahunan tersebut, kelapa merupakan tanaman yang sangat berpotensi dan sering dipolatanamkan dengan lada perdu. Hal ini disebabkan terdapat kesesuaian lingkungan antara prasyarat tumbuh tanaman kelapa dan kondisi lahan di bawahnya dengan prasyarat tumbuh  lada perdu (Tabel 4).

 

 

Tabel 4. Prasyarat tumbuh tanaman kelapa dan lada perdu

 

No.

Prasyarat tumbuh

Kelapa

Lada perdu

1.

Elevasi (m dpl)

0 - 5001

0 – 5004

2.

Curah hujan (mm/tahun)