© 2002
Muh. Hatta Posted:
10 January 2002
Makalah Falsafah Sains (PPs 702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
Januari 2002
Dosen:
Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
HUBUNGAN ANTARA KLOROFIL-a DAN IKAN PELAGIS DENGAN KONDISI OSEANOGRAFI
DI PERAIRAN UTARA IRIAN JAYA
Oleh:
Muh. Hatta
C626010011/IKL
E-mail:
hattaikl@yahoo.com
PENDAHULUAN
Klorofil-a merupakan salah satu parameter yang sangat
menentukan produktivitas primer di laut.
Sebaran dan tinggi
rendahnya konsentrasi klorofil-a sangat terkait dengan kondisi
oseanografis suatu perairan. Beberapa
parameter fisik-kimia yang mengontrol dan mempengaruhi sebaran klorofil-a,
adalah intensitas cahaya, nutrien (terutama nitrat, fosfat dan silikat).
Perbedaan parameter fisika-kimia tersebut secara langsung merupakan penyebab
bervariasinya produktivitas primer di beberapa tempat di laut. Selain itu
“grazing” juga memiliki peran besar dalam mengontrol konsentrasi klorofil-a di
laut (Sverdrup et al., 1961; Riley
dan Skirrow, 1975; Levinton, 1982;
Parsons et al., 1984; Mann dan
Lazier, 1991).
Umumnya
sebaran konsentrasi klorofil-a tinggi di perairan pantai sebagai akibat dari
tingginya suplai nutrien yang berasal dari daratan melalui limpasan air sungai,
dan sebaliknya cenderung rendah di daerah lepas pantai. Meskipun demikian pada beberapa tempat masih
ditemukan konsentrasi klorofil-a yang cukup tinggi, meskipun jauh dari
daratan. Keadaan tersebut disebabkan
oleh adanya proses sirkulasi massa air yang memungkinkan terangkutnya sejumlah
nutrien dari tempat lain, seperti yang terjadi pada daerah upwelling.
Sejauh
ini telah diketahui eratnya kaitan antara konsentrasi klorofil-a dan
produktivitas primer dengan kondisi oseanografi. Di antara beberapa parameter
fisika-kimia tersebut ada yang belum diketahui secara pasti parameter
oseanografi mana yang memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap distribusi
klorofil-a dan ikan pelagis. Khususnya pada lokasi dan waktu tertentu, kajian
yang melihat secara simultan beberapa parameter oseanografi dan kaitannya
dengan klorofil-a dan ikan pelagis masih sangat terbatas.
Perairan Utara Irian Jaya merupakan perairan
yang memilki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah
Indonesia lainnya. Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut
yang berdekatan dan lebih terbuka dengan Samudra Pasifik. Pada musim timur kondisi oseanografis
perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Samudra Pasifik (Wyrtki,
1961; Tchernia, 1980). Hal ini
kemungkinan berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan ikan pelagis di
wilayah tersebut. Perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah
penangkapan ikan, terutama ikan-ikan pelagis.
Keterkaitan antara sebaran
klorofil-a dan ikan pelagis dengan beberapa parameter oseanografi (fisika-kimia
dan biologi) sangat penting untuk diketahui guna mengidentifikasi parameter
fisika-kimia yang memiliki peranan besar terhadap sebaran klorofil-a dan ikan
pelagis pada musim tertentu, serta mengetahui karakteristik massa air di daerah
itu. Hal itu bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai pola sebaran
klorofil-a, ikan pelagis dan karakteristik fisika-kimia di Perairan Utara Irian
Jaya. Informasi itu dapat dimanfaatkan dalam upaya pengembangan pengelolaan
sumberdaya perairan. Khususnya bagi industri penangkapan, informasi itu dapat
digunakan sebagai salah satu petunjuk untuk memudahkan menentukan daerah
penangkapan pada musim tertentu.
Kenyataan
bahwa perairan yang memiliki karakteristik massa air (kondisi oseanografis)
yang berbeda cenderung memiliki parameter biologi yang berbeda pula, menguatkan
dugaan bahwa klorofil-a dan ikan pelagis (parameter biologi) terkait dengan
parameter fisika-kimia perairan.
Masalah uatama yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah bagaimana
menjelaskan saling keterkaitan parameter-parameter oseanografi dan parameter
mana yang memiliki pengaruh yang kuat terhadap sebaran klorofil-a dan ikan
pelagis. Bertolak dari masalah tersebut maka diduga sementara (hipotesis) bahwa : (1) Sebaran
klorofil-a dan ikan pelagis sangat erat kaitannya dengan kedalaman lapisan
tercampur dan termoklin dan pengaruh parameter oseanografi terhadap klorofil-a
berbeda berdasarkan kedalaman: (2) Parameter kimia (nutrien) pengaruh yang
lebih besar dibandingkan dengan parameter lainnya terhadap kelimpahan
fitoplankaton dan klorofil-a.
Untuk
menguji hipotesis tersebut maka akan digunakan data yang meliputi parameter
fisika, kimia dan biologi hasil survey yang dilakukan oleh KAL Baruna Jaya I.
Lokasi survey dan letak stasiun ditunjukkan dalam Gambar 1. Data tersebut selanjutnya diolah dengan
menggunakan sejumlah perangkat lunak (MS Exel, Surfer 6.0, SPSS Release 10.0.5,
dan Stat Itcf) untuk mengetahui karakter massa air, gambaran sebaran dan
hubungan antar parameter. Untuk mengetahui keterkaitan antar beberapa parameter
dan mengidentifikasi parameter yang signifikan mempengaruhi sebaran klorofil-a
dan ikan pelagis, maka dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan
analisis multivariet “Diskriminan
Analisis” (Legendre dan
Legendre, 1983; Johnson dan
Wichern, 1988; dan Bengen, 1999) Untuk
melihat hubungan linier antar dua parameter dilakukan regresi linier sederhana
(Kleinbaum et al., 1988; dan
Zar, 1984)

Gambar 1. Peta Lokasi Stasiun Pengambilan Sampel pada Musim Timur di
Perairan Utara Irian Jaya
KONDISI OSEANOGRAFI
Parameter Fisika
Kondisi oseanografi perairan Utara Irian Jaya
pada musim timur dilihat dari beberapa parameter fisika (suhu, salinitas, dan
densitas) menunjukkan adanya pengaruh aliran massa air yang dominan dari
Samudra Pasifik bagian Selatan. Hal itu
ditandai dari karakter massa air yang relatif lebih hangat, lebih asin dan
densitas yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perairan lain di Indonesia.
Suhu permukaan berkisar antara
28.42–29.96 oC dengan rata-rata 29.02 oC. Suhu maksimum permukaan mencapai 29.96 oC
sedangkan suhu minimum pada kedalaman 1000 meter mencapai 4.31 oC. Rata-rata suhu,
salinitas dan densitas pada beberapa kedalaman standar disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata ± Standar Deviasi Suhu, Salinitas dan
Densitas pada Beberapa Kedalaman Standar di Perairan Utara Irian Jaya Selama Musim Timur
|
Kedalaman (meter) |
Suhu (oC) |
Salinitas (‰) |
Densitas (Sigma-t) |
|
0 |
29.02 ± 0.32 |
34.186 ± 0.337 |
21.46 ± 0.27 |
|
25 |
28.84 ± 0.21 |
34.311 ± 0.117 |
21.60 ± 0.10 |
|
50 |
28.39 ± 0.49 |
34.424 ± 0.105 |
21.83 ± 0.21 |
|
75 |
26.96 ± 0.78 |
34.650 ± 0.142 |
22.48 ± 0.31 |
|
100 |
24.36 ± 1.06 |
34.854 ± 0.198 |
23.44 ± 0.32 |
|
150 |
18.93 ± 1.59 |
35.025 ± 0.266 |
25.06 ± 0.27 |
|
200 |
14.59 ± 1.22 |
34.801 ± 0.211 |
25.89 ± 0.16 |
|
250 |
12.25 ± 1.23 |
34.728 ± 0.183 |
26.31 ± 0.14 |
|
300 |
11.31 ± 1.02 |
34.756 ±
0.145 |
26.52 ± 0.11 |
|
400 |
9.43 ± 0.52 |
34.694 ± 0.044 |
26.80 ± 0.05 |
|
600 |
6.92 ± 0.49 |
34.571 ± 0.019 |
27.06 ± 0.16 |
|
800 |
5.50 ± 0.32 |
34.552 ± 0.012 |
27.23 ±0.17 |
|
1000 |
4.57 ± 0.42 |
34.571 ± 0.008 |
27.36 ± 0.17 |
Di
permukaan terdapat lapisan tipis dengan suhu relatif homogen yang disebut
dengan lapisan tercampur. Di bawah
lapisan tercampur merupakan lapisan termoklin
dimana terjadi penurunan suhu yang sangat tajam dengan meningkatnya kedalaman.
Ketebalan lapisan ini relatif lebih tinggi di sebelah barat dibandingkan dengan
di sebelah timur. Tebal lapisan tercampur yang juga nerupakan
kedalaman batas atas lapisan termoklin. Kedalaman lapisan ini berkisar antara
210-370 meter dengan rata -rata ketebalan mencapai 253 meter.
Salinitas perairan yang terukur dari permukaan
hingga kedalaman 1000 meter berkisar antara 33.030–35.958 ‰ dengan rata-rata
34.633 ‰. Lapisan salinitas maksimum berada pada kedalaman antara 100 sampai
200 meter. Densitas (sigma-t) air laut tercatat berkisar antara 20.62 – 27.43
dengan rata-rata 26.17. Sebagai fungsi dari suhu dan salinitas, maka nilai
sigma-t ini sangat ditentukan oleh kedua parameter tersebut yaitu suhu dan
salinitas.
Pola sebaran mendata suhu dan salinitas yang
cenderung semakin menurun ke arah barat terjadi akibat adanya percampuran massa
air Samudra Pasifik Selatan yang lebih salin dan lebih hangat dengan massa air
perairan Indonesia yang relatif lebih dingin dan lebih tawar. Percampuran ini terutama disebabkan oleh
adanya arus permukaan karena penguruh musson.
Pada musim timur arus dari Samudra Pasifik relatif kuat mengalir masuk
ke perairan Indonesia. Akibatnya adalah
terbentuknya gradasi penurunan suhu dan salinitas yang sangat menyolok dari timur
ke barat dengan karakter yang lebih asin dan hangat dibandingkan dengan massa
air lainnya yang mendapat suplai massa air dari Samudra Pasifik Utara seperti
di Halmahera dan Selat Makassar.
Parameter Kimia
Parameter
kimia yang terukur meliputi kadar oksigen terlarut (DO) dan beberapa kadar
nutrien seperti : Fosfat (PO4), Nitrat (NO3) dan Silikat
(SiOH4). Data hasil
pengukuran pada beberapa kedalaman standar ditunjukkan dalam Tabel 2..
Tabel
2. Rata-rata ± Standard Deviasi Kadar Oksigen terlarut (DO), Fosfat
(PO4), Nitrat (NO3) dan Silikat (SiOH4)
pada Beberapa Kedalaman Standar di Perairan Utara Irian Jaya Selama Musim Timur
|
Kedalaman (meter) |
Kadar DO (ml/l) |
Kadar PO4 (mg-A/l) |
Kadar NO3 (mg-A/l) |
Kadar SiOH4 (mg-A/l) |
|
0 |
4.38 ± 0.10 |
0.35 ± 0.17 |
0.50 ± 0.47 |
3.59 ± 2.31 |
|
25 |
4.39 ± 0.06 |
0.38 ± 0.10 |
0.94 ± 1.26 |
5.12 ± 5.23 |
|
50 |
4.29 ± 0.09 |
0.51 ± 0.17 |
1.89 ± 1.72 |
6.50 ± 5.33 |
|
75 |
3.82 ± 0.35 |
0.73 ± 0.22 |
5.28 ± 3.36 |
9.02 ± 5.58 |
|
100 |
2.99 ± 0.26 |
0.93 ± 0.23 |
10.74 ± 4.28 |
14.09 ± 7.37 |
|
150 |
3.19 ± 0.20 |
1.23 ± 0.23 |
15.33 ± 4.27 |
19.49 ± 6.79 |
|
200 |
3.03 ± 0.11 |
1.45 ± 0.23 |
19.05 ± 3.65 |
26.04 ± 6.91 |
|
250 |
2.90 ± 0.17 |
1.69 ± 0.23 |
23.11 ± 2.81 |
33.04 ± 7.53 |
|
300 |
2.82 ± 0.19 |
1.92 ± 0.22 |
25.51 ± 3.04 |
37.30 ± 7.93 |
|
400 |
2.67 ± 0.25 |
2.14 ± 0.23 |
28.92 ± 3.03 |
44.72 ±10.37 |
|
600 |
2.55 ± 0.15 |
2.51 ± 0.23 |
32.09 ± 2.97 |
56.00 ± 13.68 |
|
800 |
2.40 ± 0.07 |
2.79 ± 0.29 |
34.70 ± 3.56 |
72.04 ± 9.15 |
|
1000 |
2.26 ± 0.05 |
2.8 |