© 2001 Rini
Hidayati Posted: 27
Nov. 2001 [rudyct]
Makalah Falsafah Sains (PPs
702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
November 2001
Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng
(Penanggung Jawab)
MASALAH
PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA
BEBERAPA
CONTOH KASUS
Oleh:
AGK
G226010021
E-mail: rinihid@yahoo.com
Studi tentang iklim mencakup kajian
tentang fenomena fisik atmosfer sebagai hasil interaksi proses-proses fisik dan
kimiafisik yang terjadi di udara (atmosfer) dengan permukaan bumi. Keduanya saling mempengaruhi, aktivitas
atmosfer dikendalikan oleh fisiografi bumi, dan fluktuasi iklim berpengaruh
terhadap aktivitas di muka bumi.
Iklim selalu berubah
menurut ruang dan waktu. Dalam skala
waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian,
musiman, tahunan maupun siklus beberapa tahunan . Selain perubahan yang berpola
siklus, aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan,
baik dalam skala global maupun skala lokal.
Perubahan iklim merupakan issue
lama, tetapi baru memperoleh perhatian dunia secara serius pada akhir abad ke
XIX, dimulai pada saat diselenggarakannya Konverensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio
de Janeiro, Brasil tahun1992, dengan dibentuknya badan dunia yang dikenal
dengan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Pada periode inilah perubahan iklim,
penyebab, dampak yang akan ditimbulkan dan penanggulangan dampak , serta upaya
menekan laju perubahan iklim banyak dipelajari dan diupayakan pemecahannya
dalam skala Internasional.
Indonesia adalah negara berkembang
yang berbentuk kepulauan dengan jumlah dan laju perkembangan penduduk yang
tinggi. Total penduduk Indonesia pada tahun 1997
telah melebihi 200 juta. Pertumbuhan
teknologi dan sosial-ekonomi negara ini belum menunjukkan perbaikan secara
nyata,sehingga dapat digolongkan sebagai negara dengan tingkat kerentanan
tinggi terhadap akibat yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Tulisan
ini mencoba mencari kebenaran tentang issue perubahan iklim khususnya di
Indonesia, mencoba mengulas apakah kita perlu mengkaji dampak perubahan iklim
pada berbagai sektor serta melakukan upaya adaptasi terhadap dampak yang yang
ditimbulkan oleh perubahan iklim. Karena keterbatasan data yang tersedia, maka
akan diambil hanya beberapa contoh kasus untuk menggambarkan perubahan iklim
dan dampak yang akan ditimbulkan di Indonesia.
II. Perubahan dan
Keragaman Iklim
II.1. Perubahan Iklim
Dari sejarah terbentuknya iklim
dan kehidupan di bumi (paleoklimatologi), komposisi atmosfer secara alami
selalu berubah. Pada awalnya atmosfer
bumi penuh dengan bahan-bahan beracun seperti H2, Ch4, NH3,
dan Fe. Dengan adanya evolusi atmosfer
pada suatu ketika atmosfer baru dapat menunjang kehidupan setelah kandungan
Oksigen mencukupi dan radiasi matahari tidak terlalu panas (aktivitas matahari
optimum dan atmosfer memenuhi syarat sebagai penyangga radiasi). Dalam perjalanan usia bumi hingga saat ini terdapat sejarah zaman Jurassic. Makhluk-makhluk
zaman ini punah pada saat atmosfer bumi kehilangan CO2 secara
nyata. Ini menunjukkan bahwa perubahan
iklim secara alami terjadi terus menerus.
Perubahan
iklim secara alami terjadi secara gradual. Sejak zaman revolusi industri pembakaran
bakar fosil meningkat secara nyata. Meningkatnya laju pertambahan penduduk
dunia yang besar pada zaman modern, serta pemakaian dan eksplorasi bahan-bahan
di bumi untuk memenuhi kebutuhan hidup inilah yang merubah dan mempercepat
perubahan susunan atmosfer bumi. .
Secara
umum iklim didefinisikan sebagai keragaman keadaan fisik atmosfer. Sistem
iklim dalam hubungannya dengan perubahan iklim menurut United Nation Framework Convention on Climate Change adalah
“Totalitas atmosfer, hidrosfer, biosfer dan geosfer dengan interaksinya”.
Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi
langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang merubah komposisi
atmosfer, yang akan memperbesar keragaman iklim teramati pada periode yang
cukup panjang (Trenberth, Houghton and Filho. 1995).
Secara Statistik Perubahan
iklim adalah perubahan unsur-unsurnya yang mempunyai kecenderungan naik atau
turun secara nyata yang menyertai keragaman harian, musiman maupun siklus. Fenomena iklim ini harus dipelajari dari data pada
periode pengamatan iklim yang panjang.
Kendala ketersediaan data iklim dalam periode yang panjang inilah yang
dihadapi oleh negara berkembang seperti di Indonesia. Akibatnya identifikasi perubahan
iklim sulit untuk dilakukan.
Perubahan iklim global
tidak terjadi seketika, walaupun laju perubahan lebih cepat dibandingkan dengan
perubahan iklim secara alami, tetapi perubahan terjadi dalam periode dekadal,
sehingga issue perubahan iklim masih menjadi hal yang menimbulkan pro dan
kontra. Perubahan konsentrasi GRK
global ini juga berpengaruh pada kenaikan suhu lokal, di Indonesia perubahan
terjadi secara perlahan-lahan lebih kurang 0,030C per tahun
(Hidayati 1990). Jika ditinjau dalam
periode puluhan tahun (dibandingkan dengan puluhan juta tahun usia bumi kita)
maka perubahan ini cukup besar. Apalagi
jika kenaikan suhu menyertai kejadian iklim ekstrim.
Gambar 2 menunjukkan estimasi
kejadian dan resiko banjir di wilayah pesisir Eropa setelah periode perubahan
iklim dibandingkan periode sebelum
perubahan iklim. Peluang kejadian
banjir setelah perubahan iklim lebih besar (lebih sering) dibandingkan
sebelumnya. Sejalan dengan pemikiran
tersebut resiko kejadian iklim ekstrim (kekeringan dan banjir) di Indonesia
juga akan meningkat oleh fenomena perubahan iklim.
II.2. Keragaman Iklim
Iklim terdiri dari beberapa unsur
iklim, yaitu : radiasi, suhu, kelembaban, tekanan, angin, presipitasi (hujan)
dan sebagainya. Dalam tinjauan secara garis
besar iklim dapat diwakili oleh suhu (temperatur) dan hujan (presipitasi).
Unsur-unsur lain mengakibatkan atau terpengaruh oleh kedua unsur tersebut.
Keragaman iklim dapat dibagi
menjadi (a) keragaman menurut tempat dan (b)
keragaman menurut waktu. Keragaman menurut tempat ditentukan oleh letak lintang (jauh-dekat
dari peredaran matahari), ketinggian tempat, sebaran daratan dan lautan serta
arah angin utama. Keragaman menurut waktu terutama ditentukan oleh pedaran bumi
mengelilingi sumbunya dan bumi mengelilingi matahari.
Indonesia terletak di wilayah
kepulauan tropis, terpengaruh oleh sirkulasi antara benua Asia dan Australia
serta Samudra Pasifik dan Antlantik .
Walaupun berada di wilayah tropis, tetapi daratannya tersebar dari dataran
rendah hingga pegunungan. Suhu rata-rata tahunan berkurang dari
dataran rendah hingga dataran tinggi.
Jadi suhu rata-rata relatif tinggi di dataran rendah dan suhu rendah di
dataran tinggi. Karena letaknya di
daerah tropis, maka selisih suhu siang – malam lebih besar dari pada selisih
suhu musiman (musim kemarau – musim hujan). Di daerah subtropis hingga kutub
selisih suhu musim panas – musim dingin lebih besar dari suhu harian
kemarau.
Umumnya musim hujan terjadi antara bulan
Oktober hingga April dan musim kemarau terjadi pada bulan April hingga Oktober.
Penerimaan
curah hujan bulanan dapat dipisahkan menjadi tiga pola penerimaan hujan yang
berbeda.
A. Di sebagian besar
wilayah Indonesia penerimaan hujan musim penghujan dan musim kemarau berbeda
nyata. Pola demikian disebut pola monsunal.
B. Sebagian wilayah
sekitar equator musim kering tidak nyata.
Puncak musim hujan terjadi dua kali sekitar bulan Desember pada saat
matahari berada paling selatan dan pada bulan Juni saat matahari paling utara.
Tipe ini disebut tipe Equatorial.
C. Sebagian wilayah bagian
utara hujan terjadi pada saat wilayah A dan B mengalami musim kemarau. Tipe ini
disebut tipe lokal.
Ketiga ciri
penerimaan hujan dapat dilihat pada tabel 1. Sei Rantih dan Salida ( Sumbar)
mempunyai tipe equatorial, Banyuwangi dan Glagah (Jawa Timur) mewakili tipe
monsunal dan Ambon mewakili tipe lokal.
|
Tabel 1.
Data Suhu Udara dan Tiga Tipe Penerimaan Hujan bulanan di wilayah Indonesia. |
||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Stasiun |
Unsur |
Jan |
Feb |
Mar |
Apr |
Mei |
Jun |
Jul |
Ags |
Sep |
Okt |
Nop |
Des |
Thn |
|
Sei Rantih,B |
CH (mm) |
363 |
247 |
272 |
312 |
233 |
208 |
192 |
219 |
375 |
394 |
442 |
418 |
3675 |
|
Salida ( B ) |
CH (mm) |
339 |
285 |
338 |
306 |
280 |
222 |
155 |
251 |
339 |
374 |
325 |
391 |
3605 |
|
Banyuwangi |
CH (mm) |
224 |
246 |
142 |
85 |
80 |
41 |
37 |
21 |
28 |
33 |
75 |
187 |
1199 |
|
Banyuwangi |
T (oC) |
27 |
27 |
27 |
28 |
28 |
28 |
27 |
27 |
28 |
28 |
28 |
27 |
27.5 |
|
Glagah
(A) |
CH (mm) |
250 |
217 |
217 |
94 |
137 |
94 |
141 |
72 |
59 |
87 |
102 |
199 |
1669 |
|
Ambon
( C ) |
CH (mm) |
89 |
116 |
167 |
164 |
202 |
388 |
296 |
196 |
122 |
90 |
68 |
131 |
2029 |
|
Ambon |
T (oC) |
27 |
27 |
27 |
27 |
26 |
25 |
25 |
25 |
25 |
26 |
27 |
27 |
26.2 |
Selain
siklus harian dan musiman keragaman iklim di Indonesia juga ditandai dengan
siklus beberapa tahun antara lain siklus fenomena global ENSO (El Nino Southern
Oscillation), yang mempunyai siklus 3-7 tahun. Oleh pengaruh perubahan iklim,
diduga siklus Enso menjadi lebih pendek antar 2–5 tahun (Ratag, 2001). Antara tahun 1960 hingga 1990 terjadi 7 kali
El Nino, Yaitu 1963, 1965, 1968/1969, 1972, 1976, 1982/1983, 1986/1987 (Chen
and Wu, 2000) dan antara tahun 1988 hingga 1997 terjadi 3 kalli El Nino, yaitu
pada tahun 1991/1992, 1994 dan 1997/1998.
III. Mekanisme perubahan
Iklim
Perubahan
iklim disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) setelah
masa revolusi industri. Semakin tinggi
kebutuhan untuk meningkatkan kualitas hidup maka akan semakin besar aktivitas
industri, lalu lintas pembukaan hutan, usaha pertanian, rumah tangga dan
aktivitas-aktivitas lain yang melepaskan GRK.
Akibatnya konsentrasi GRK di atmosfer akan meningkat.
Tabel 2. Konsentrasi
GRK menurut skenario IPCC tahun 2000
|
Tahun |
Penduduk dunia |
O3
permukaan (ppm) |
Kons. CO2 (ppm) |
Perub. Suhu global (0C) |
Kenaikan muka air laut
(cm) |
|
1990 |
5.3 |
- |
354 |
0 |
0 |
|
2000 |
6.1-6.2 |
40 |
367 |
0.2 |
2 |
|
2050 |
8.4-11.3 |
~60 |
463-623 |
0.8-2.6 |
5-32 |
|
2100 |
7.0-15.1 |
>70 |
478-1099 |
1.4-5.8 |
9-88 |
Selain
terdapat sumber (source) yang beragam di alam ini juga tersedia rosot (sink),
yaitu lautan dan vegetasi (hutan).
Jumlah rosot ini relatif tetap sedangkan sumbernya selalu bertambah, sehingga
terjadi ketidak seimbangan. Ditambah dengan umur keberadaan GRK di atmosfer
yang panjang, maka tanpa upaya menekan emisi, konsentrasi GRK akan terus
bertambah.GRK meliputi gas-gas Carbon
Dioxida (CO2), golongan Chloro-Fluorocarbon (CFCs), Methana (CH4),
Ozon (O3), dan Nitrogen Oksida (NOx). Gas-gas tersebut berada di atmosfer berfungsi sebagai mana kaca,
yaitu melewatkan radiasi matahari ke permukaan bumi tetapi menahan radiasi bumi
agar tidak lepas ke angkasa. Dalam
jumlah tertentu GRK dibutuhkan untuk menjaga suhu ekstrim bumi agar tidak
terlalu tinggi atau terlalu rendah. Tetapi jika jumlah radiasi bumi yang
terperangkap di dalam atmosfer bumi berlebihan, maka atmosfer dan permukaan
bumi akan semakin panas (suhu meningkat).
Tabel
3. Ikhtisar Gas-gas Rumah Kaca di
Atmosfer (Sumber: Killeen. 1996)
|
Gas |
Sumber Antropogenik utama |
Emisi Antropogenik / total per thn 106 ton |
Waktu residu |
Umur (tahun) |
|
CO |
Pembakaran bahan bakar fosil dan
biomas |
700 / 2.000 |
bulanan |