© 2001 Sobri
Effendy Posted: 18 Nov. 2001
[rudyct]
Makalah Falsafah Sains (PPs 702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
November 2001
Dosen:
Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
DI BURSA KOMODITAS UNGGULAN PERTANIAN
Oleh :
G226010011
E-mail: sobrieffendy2001@yahoo.com
Ringkasan
Bagi eksekutif muda
di bursa perdagangan komoditas unggulan pertanian pengetahuan tentang prediksi
cuaca dan iklim menjadi sangat penting.
Mengingat cuaca dan iklimlah yang selama ini sulit diprediksi dan
dikontrol kedatangannya namun begitu besar dampaknya pada produksi komoditas
pertanian.
Indonesia sebagai negara tropis yang
mempunyai posisi unik, memiliki pola hujan dengan variasi yang besar
dibandingkan unsur cuaca dan iklim yang
lain. Sehingga fokus kajian makalah ini
pada variasi hujan di musim basah dan kering selama periode normal, El Nino
atau La Nina.
Prediksi yang handal mengenai musim
mendatang, normal, El Nino atau La Nina dan dampaknya terhadap produk pertanian
menjadi penting bagi ketepatan para pialang yang bergelut di bursa perdagangan
untuk mengambil keputusan yang akurat.
Kehandalan dan ketepatan prediksi cuaca dan iklim makin membaik dengan
makin mudahnya kita mengakses berbagai web-site
yang melayani jasa prediksi.
Makalah ini disusun berdasarkan bahan
pelatihan bagi eksekutif muda di BEJ (Bursa Efek Jakarta) mengenai hal yang
sama, ditulis oleh pakar klimatologi Indonesia Dr. Rizaldi Boer, 1999
lalu. Diperbaharui, ditulis ulang, dan
difokuskan pada kasus Indonesia oleh penulis atas persetujuan
pakarnya.
Terkesannya penulis pada makalah ini adalah pada saat penulis harus
membawakan pada pelatihan di BEJ akhir tahun 1999, dan karena keunikkan tulisan
ini yang berbasis pada internet di sebagian besar data kajian, menjadikan
makalah ini harus selalu diperbaharui.
1. Pendahuluan
Kegagalan, keberhasilan panen dan produksi pertanian seringkali
dikaitkan dengan kondisi cuaca dan iklim.
Banyak berita mengeksploitasi kejadian kekeringan yang panjang, banjir,
dan badai topan telah menghancurkan produksi pertanian suatu negara. Kekeringan yang panjang tidak hanya
menyebabkan kegagalan panen tetapi juga
memicu terjadinya kebakaran hutan.
Kebakaran hutan telah menimbulkan persoalan besar tidak hanya bagi negara yang mengalami musibah tetapi juga
beberapa negara tetangga ikut menuai asap tebal.
Kejadian kekeringan yang panjang dan kebakaran umumnya meningkat pada
tahun-tahun El-Nino. Pada El-Nino 1997,
total kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan di sektor kehutanan
diperkirakan mencapai 2.4 trilliun rupiah (meliputi kerusakan hutan produksi,
hutan tanaman industri, sumberdaya genetik, hutan rekreasi, fungsi ekologi,
keanekaragaman hayati dan hutan lindung).
Di sektor pertanian kerugian mencapai 797 milliar rupiah dan di sektor
perhubungan mencapai 91.4 miliar rupiah yaitu akibat terganggunya jalur
penerbangan oleh tebalnya asap dari kebakaran hutan.
Kejadian banjir lebih banyak dipicu oleh ulah manusia dalam
mengeksploitasi lahan untuk berbagai kegunaan berlandaskan pada kebijakkan dan
perencanaan tata ruang yang kurang matang. Banjir menjadi lebih parah bila La-Nina (kembaran El-Nino)
melanda. Kerugian yang diakibat banjir
seperti gagal panen, hanyutnya berbagai benda bernilai ekonomis, rusaknya tanggul,
dam, jembatan, bendungan, bernilai
milliaran rupiah, meskipun jarang sekali
di data secara akurat karena kejadiannya yang begitu cepat juga hilang dalam
bilangan hari.
2. Penyebab Cuaca/Iklim
Abnormal di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang dilewati oleh garis katulistiwa diapit
oleh dua benua dan dua samudera. Posisi
unik ini menjadikan Indonesia sebagai daerah pertemuan sirkulasi meridional (Utara-Selatan) dikenal sebagai Sirkulasi Hadley dan sirkulasi zonal
(Timur-Barat) dikenal sebagai Sirkulasi
Walker, dua sirkulasi yang sangat mempengaruhi keragaman iklim Indonesia. Hal lain yang ikut berperan adalah posisi
semu matahari perpindah dari 23.5o Lintang Utara ke 23.5 o
Lintang Selatan sepanjang tahun berakibat timbulnya aktivitas moonson (musim) juga ikut berperanan
dalam mempengaruhi keragaman iklim.
Karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan bentuk topografi
sangat beragam menyebabkan sistem golakan lokal cukup dominan dan pengaruhnya
terhadap keragaman iklim di Indonesia tidak dapat diabaikan. Faktor lain yang diperkirakan ikut
berpengaruh terhadap keragaman iklim Indonesia ialah gangguan siklon
tropis. Semua aktivitas dan sistem ini
berlangsung secara bersamaan sepanjang tahun.
Permasalahannya ialah bagaimana menentukan akitivitas yang dominan
atau berpengaruh dalam pembentukan
cuaca di Indonesia ?
Secara klimatologis pola
iklim di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga yaitu pola moonson, pola ekuatorial dan pola lokal. Pola Moonson dicirikan oleh bentuk pola hujan
yang bersifat unimodal (satu puncak
musim hujan). Selama tiga bulan curah
hujan relatif tinggi biasa disebut musim hujan, yakni Desember, Januari dan
Februari (DJF) dan tiga bulan curah hujan rendah bisa disebut musim kemarau ,
periode Juni, Juli dan Agustus (JJA), sementara enam bulan sisanya merupakan
periode peralihan (tiga bulan peralihan kemarau ke hujan, dan tiga bulan
peralihan hujan ke kemarau). Pola ekuatorial dicirikan oleh pola hujan dengan
bentuk bimodal (dua puncak hujan)
yang biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober yaitu pada saat matahari
berada dekat ekuator. Pola lokal
dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodal
(satu puncak hujan) tapi bentuknya berlawanan dengan pola hujan pada tipe moonson (Gambar
1).
Salah satu penyebab
terjadinya gangguan pada sirkulasi Walker
adalah fenomena ENSO (El-Nino-Southern
Oscillation). Indikator yang umum
digunakan untuk menunjukkan akan terjadinya gelaja alam El-Nino (salah satu
penyebab terjadinya kondisi iklim tidak normal) ialah terjadinya meningkatnya
suhu muka laut di Kawasan Pasifik atau menurunnya perbedaan tekanan antara
Tahiti dan Darwin di bawah normal (nilai rata-rata jangka panjang). Gejala El-Nino dimulai dengan menurunnya
tekanan udara di Tahiti di bawah tekanan udara di Darwin (Indeks Osilasi
Selatan bernilai negatif) sehingga angin barat tertiup lebih kuat memperlemah angin
pasat (Gambar 2) sehingga massa air panas di
Kawasan Pasifik bagian Barat mengalir ke arah Timur dengan bantuan arus
ekuatorial. Akibatnya terjadi akumulasi
massa air panas di Kawasan Pasifik bagian Timur dan permukaan air lautnya naik
lebih besar dibanding dengan yang di kawasan Barat. Kondisi ini mengakibatkan konveksi terjadi di pasifik bagian
Timur dan subsidensi di atas kontinen
maritim Indonesia. Subsidensi ini akan menghambat pertumbuhan awan konveksi sehinga
pada beberapa daerah di Indonesia terjadi penurunan jumlah hujan yang jauh dari
normal. Kondisi sebaliknya terjadi pada saat
La-Nina berlangsung. Menurut Tjasyono
(1997) pengaruh El-nino kuat pada daerah yang dipengaruhi oleh sistim moonson, lemah pada daerah dengan
sistem ekuatorial dan tidak jelas pada daerah dengan sistim lokal.
Berdasarkan pengalaman kejadian kekeringan dari tahun 1960, ditemukan
bahwa kejadian kekeringan tidak selalu bersamaan dengan El-Nino. Sebagai contoh tahun 1961, 1967 dan 1977 hampir
sekitar 75% wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal namun
tahun-tahun tersebut tidak tercatat sebagai tahun El-Nino. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh lokal
pada kondisi tertentu dapat mengalahkan pengaruh El-Nino (Gambar 3a).
Namun demikian secara umum terjadinya El-Nino selalu diikuti oleh
kejadian kekeringan di Indonesia.
Pengamatan El-Nino periode 1896-1987 (Boer, 1999) diperoleh bahwa untuk setiap peningkatan
anomali suhu muka laut di daerah Nino-3,
curah hujan regional di Indonesia turun sekitar 60 mm (Gambar
3b). Curah hujan regional
berkurang hingga 80 mm dari kondisi normal apabila suhu muka laut di Nino-3
naik hingga mencapai 1.8 oC
di atas normal (Gambar 3b).
Kejadian El-Nino tidak terjadi secara tunggal tetapi berlangsung secara
berurutan pasca atau pra La-Nina (Gambar 4).
Hasil kajian 1900 - 1998 terlihat El-Nino telah terjadi sebanyak 23 kali
(rata-rata sekali 4 tahun). La-Nina
hanya 15 kali (rata-rata sekali 6
tahun). Dari 15 kali kejadian La-Nina,
sekitar 12 kali (80%) terjadi berurutan dengan tahun El-Nino. La-Nina
mengikuti El-Nino hanya terjadi 4 kali dari 15 kali kejadian sedangkan
yang mendahului El-Nino 8 kali dari 15 kali kejadian. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum peluang terjadinya La-Nina
setelah El-Nino tidak begitu besar.
Kejadian El-Nino 1982/83 yang dikategorikan sebagai tahun kejadian
El-Nino yang kuat tidak diikuti oleh La-Nina.

Gambar
1. Pola hujan di Indonesia (Boer, 1999)

Gambar 2. Angin
timuran di permukaan Equator Pasifik pada kondisi normal (atas) Indonesia
banyak hujan dan kondisi El Nino (bawah) angin timuran melemah hujan beralih ke
Pasifik Timur
(sumber : http://www.atmos.washington.edu)

(a) (b)
Gambar 3. (a) Persen daerah yang
curah hujan di bawah normal (panah hitam
menunjukkan tahun bukan El-Nino), (b) Hubungan curah hujan
regional Indonesia dan anomali suhu muka laut di Nino-3 (Boer, 1999).

Gambar
4. Frekuensi Kejadian Anomali Iklim La
Nina dan El Nino 1990-1998
3.
Cuaca/Iklim
Indonesia Saat Fenomena ENSO dan La Nina
Di Indonesia yang berpola iklim monsoon pada periode
Desember-Januari-Februari (DJF) mengalami puncak musim hujan, tetapi bila El
Nino datang maka yang terjadi adalah sebagian besar Indonesia menjadi hangat
dan kering kecuali Papua mengalami kekeringan.
Pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) seluruh Indonesia kering kecuali
Pulau Sumatera (Gambar 5). Pada El Nino yang sangat kuat pada 1997 lalu
kekeringan dapat berlanjut hingga Desember bahkan melampaui Februari 1998. Namun dampak El Nino pada keadaan cuaca/iklim
secara gobal berlainan antara suatu wilayah dengan wilayah yang lain. Keragaman antar wilayah ditinjau dari segi
penurunan atau kenaikan hujan akibat berlangsungnya fenomena ENSO disajikan
pada Lampiran 2. Pada saat berlangsungnya El-Nino yang sangat kuat curah hujan di
Indonesia, Filipina, India, dan Thailand pada musim kemarau akan menurun sampai
80 mm dari normal dan di wilayah Afrika bagian Selatan menurun sampai 40 mm
dari normal.

Gambar
5. Dampak potensial EL-Nino di beberapa
negara (Sumber : http://www.carleton.ca)
Pada fenomena
La Nina kondisi cuaca/iklim Indonesia DJF dan JJA disajikan pada Gambar 6.
Berbeda dengan fenomena El Nino, pada saat La Nina terjadi periode musim
hujan DJF seluruh wilayah Indonesia mengalami periode basah bahkan di beberapa
wilayah jumlah hujan yang terjadi meningkat secara nyata, hal ini berlanjut
hingga JJA, pada periode yang
seharusnya musim kemarau, di Indonesia masih basah. Peningkatan curah hujan tahunan pada kondisi La Nina kuat dapat
menjapai 50 mm di atas normal (Lampiran 2).

Gambar 6.
Dampak Potensial La Nina di Beberapa Negara (Sumber : http://www.cpc.ncep.noaa.gov)
4.
Prediksi
Cuaca/Iklim Musim Mendatang
Untuk memprediksi kecenderungan yang akan terjadi pada periode mendatang
adalah melihat tiga kemungkinan kejadian yaitu kondisi normal, ada El Nino
ataukan muncul La Nina. Ada tiga cara
yang dapat dilakukan, pertama melihat prediksi curah hujan beberapa bulan
mendatang (Gambar 7), kedua melihat prediksi
anomali suhu muka laut (Sea Surface
Temperatur Anomaly (SSTA)) (Gambar 8 dan Gambar 9)
cara ketiga melihat Indeks Osilasi Selatan (Southern Ocilation Indeks (SOI))
lewat Tabel 2 yakni melihat nilai beda tekanan
atmosfer antara Tahiti dan Darwin.
Dari Gambar 7, Indonesia akan mengalami curah hujan mulai November 2001-April
2002 antara 25-50 % di bawah normal dan sebagian besar mendekati hujan
normal. Artinya kemungkinan peluang El
Nino maupun La Nina untuk 2001-2002 sangatlah kecil.

Gambar 7.
Prediksi Kondisi Curah Hujan Global November 2001-April 2002 (sumber : http://www.pmel.noaa.gov)

Gambar 8. Prediksi
Anomali Suhu Muka Laut di Tropika Pasifik (180o BT) dari Juni 2001-Juni
2002 (sumber : http://www.cdc.noaa.gov)
Gambar 8 terlihat ada kecenderungan pada Oktober-Desember 2001 nilai
anomali di Pasifik (wilayah Nino 3 sekitar 150-180o BT, 5 o LU
-5 o LS) berkisar 0 hingga 0.6 lebih tinggi dari normal kemudian
menurun pada periode selanjutnya bahkan pada periode Juli-September 2002
mendatang antara -0.3 - 0.3 artinya kondisi ini menunjukkan bahwa El Nino tidak
akan terjadi pada tahun 2001- September 2002.
Panduan untuk melihat El Nino terjadi dengan intensitas lemah-kuat
cermati Tabel 1 berikut :
Tabel
1. Indikator Kekuatan El Nino (Diolah
dari Quinn, 1978)
|
Kondisi |
Anomali Suhu Muka Laut (o C) |
||||||
|
³ 3 |
2 - 3 |
1 - 2 |
0 - 1.0 |
-1 -
-2 |
-2 -
- 3 |
≤ - 3 |
|
|
El Nino |
kuat |
Sedang |
lemah |
normal |
- |
- |
- |
|
La Nina |
- |
- |
- |
normal |
lemah |
sedang |
Kuat |
Dugaan di atas diperkuat oleh Gambar 9.
Pada Gambar 9 terlihat bahwa untuk ramalan
3 bulan ke depan jauh lebih mendekati kebenaran dibanding yang lainnya,
sehingga perhatian difokuskan pada gambar kiri atas, untuk periode Jan 2001-Jan 2002
anomali suhu muka laut di bawah antara -1o C hingga 0,
bandingkan dengan Jan 97 - Jan 98 hampir mencapai angka +3oC saat
tersebut terjadi El Nino terkuat abad ini.
Semakin menyakinkan bahwa El Nino yang diduga dan telah menjadi isu
nasional untuk diantisipasi dampaknya ternyata tidak akan terwujud di tahun
2001-2002.

Gambar 9.
Prediksi Anomali SST di Nino 3 (biru) dan
Verifikasinya (merah) untuk lead 3,6,9 dan 12 bulan dari data Oktober 2001
(Sumber
: http://www.cdc.noaa.gov)
Cara terakhir untuk membuktikan kebenaran
prediksi di atas adalah melihat SOI yakni tekanan atmosfer Tahiti dan Darwin,
dengan ketentuan pada Tabel 2 berikut :
Tabel
2. Panduan Prediksi El Nino, La Nina
atau Normal terhadap Nilai SOI (Sumber
: MMS (Malaysian Meteorological Service,
2001))
|
NILAI SOI
(P TAHITI-P DARWIN) |
FENOMENA YANG
AKAN TERJADI |
|
Di bawah - 10
selama 6 bulan |
El Nino kuat |
|
- 5 s/d - 10
selama 6 bulan |
El Nino lemah-sedang |
|
- 5 s/d + 5 selama 6 bulan |
Normal |
|
+ 5 s/d + 10
selama 6 bulan |
La Nina lemah-sedang |
|
Di atas + 10
selama 6 bulan |
La Nina kuat |
Amati Tabel 3, periode 2001 dari
Januari-September nilai SOI bandingkan dengan tahun 1997 saat E Nino (sejak Mar
97-Mar 98 bernilai negatif di bawah -5 hal ini ciri utama bahwa akan terjadi El
Nino yang kuat). Nilai SOI tahun 2001
mulai negatif (9) pada Mei 2001 hal ini menimbulkan praduga akan muncul El Nino
kembali, ternyata positif di bulan Juni, negatif kembali di Juli dan Agustus
lalu positif pada Sep 2001 melihat data observasi ini kecendrungan untuk El
Nino 2001-2002 berpeluang kecil untuk terjadi, normal atau justru La Nina,
fakta di Oktober 2001 banjir sudah melanda sebagian Jawa.
Tabel 3. Nilai SOI (Beda Tekanan Udara Tahiti -
Darwin) Periode 1990-2001 (Sumber : http://www.bom.gov.au)
|
Year |
Jan |
Feb |
Mar |
Apr |
May |
Jun |
Jul |
Aug |
Sep |
Oct |
Nov |
Dec |
|
1990 |
-1.1 |
-17.3 |
-8.5 |
-0.5 |
13.1 |
1.0 |
5.5 |
-5.0 |
-7.6 |
1.8 |
-5.3 |
-2.4 |
|
1991 |
5.1 |
0.6 |
-10.6 |
-12.9 |
-19.3 |
-5.5 |
-1.7 |
-7.6 |
-16.6 |
-12.9 |
-7.3 |
-16.7 |
|
1992 |
-25.4 |
-9.3 |
-24.2 |
-18.7 |
0.5 |
-12.8 |
-6.9 |
1.4 |
0.8 |
-17.2 |
-7.3 |
-5.5 |
|
1993 |
-8.2 |
-7.9 |
-8.5 |
-21.1 |
-8.2 |
-16.0 |
-10.8 |
-14.0 |
-7.6 |
-13.5 |