© 2001  Sri Handayani                                                                          Posted:   12 Dec. 2001   [rudyct]  

Makalah Falsafah Sains (PPs 702)   

Program Pasca Sarjana / S3

Institut Pertanian Bogor

December 2001

 

Dosen:

Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)

 

 

 

 

PERAN HORMON 3,5,3'- TRIODOTIRONIN (T3) DALAM PAKAN TERHADAP PENINGKATAN 

LAJU PERTUMBUHAN  DAN EFISIENSI PAKAN IKAN GURAME  (Osphronemus gouramy Lac.)

 

 

 

 

Oleh:

SRI HANDAYANI

C.016010021

E-mail :  sri_hdy@yahoo.com

 

 

 

I.  PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

Ikan gurame (Osphronemus gouramy Lac.) merupakan salah satu ikan ekonomis penting yang disukai oleh masyarakat Indonesia. Namun produksi dari usaha budidaya saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar, karena produksi ikan gurame masih rendah.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam budidaya ikan gurame adalah pertumbuhannya  relatif lambat dibandingkan dengan jenis ikan lainnya. Salah satu faktor internal yang mengontrol proses   pertumbuhan dan metabolisme pada ikan adalah faktor hormonal, yaitu  3,5,3'- triyodotironin (T3) (Matty, 1985).

           Hormon T3 berperan pada proses metabolisme, melalui interaksi hormon dengan reseptor pada inti sel yang mengakibatkan terjadinya pengaktifan gen khusus (DNA) yang memacu transkripsi messenger RNA (mRNA).  Meningkatnya mRNA dapat mengakibatkan peningkatan sintesis protein, termasuk enzim-enzim pencernaan yang dibutuhkan sebagai katalisator pada proses metabolisme (Djojosoebagio, 1990 ).

Peran hormon T3 terhadap laju pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh dosis hormon, dimana hormon T3 ini mempunyai sifat biphasic yaitu pada dosis rendah bersifat anabolik sedangkan pada dosis tinggi bersifat katabolik. Selain itu peran hormon T3 juga sangat dipengaruhi oleh ukuran/ umur ikan, keadaan nutrisi pakan dan keadaan fisiologis ikan (Lam, 1995).  Hal ini dijelaskan dalam penelitian Matty et al., (1982) terhadap pemberian hormon tiroksin (T4 dan T3) pada ikan tilapia dengan ukuran yang berbeda yaitu 5,4 g; 11,8 g; 41,8 g; dan 230 g.  Pada penelitian tersebut, hormon T3 ini hanya dapat meningkatkan sintesis protein dan RNA sampai ukuran ikan 41,8 g saja; sedangkan pada ukuran 230 g pengaruhnya sudah tidak terlihat lagi.

           Untuk mendapatkan informasi yang lebih luas mengenai hal ini maka dipandang perlu mengkaji peran hormon T3 terhadap laju pertumbuhan ikan gurame pada berbagai dosis pemberian hormon dan ukuran ikan yang berbeda.

 

1.2.          Perumusan dan Pendekatan Masalah

           Pertumbuhan ikan dapat terjadi jika ada materi untuk membangun suatu struktur atau organ dan energi untuk proses pembangunannya.  Protein, karbohidrat, dan lemak diperlukan oleh tubuh ikan sebagai materi dan energi untuk pertumbuhan dan diperoleh dari pakan yang dikonsumsi.  Selanjutnya agar dapat dimanfaatkan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pakan yang dikonsumsi ikan akan mengalami proses metabolisme.  Salah satu faktor internal yang mengatur proses metabolisme pada ikan adalah faktor hormonal, diantaranya adalah hormon T3 (3,5,3’-triyodotironin).

           Peran hormon T3 pada proses metabolisme terjadi melalui interaksi hormon dengan reseptor pada inti sel yang mengakibatkan terjadinya pengaktifan gen khusus (DNA) yang memacu transkripsi messenger RNA (mRNA).  Meningkatnya mRNA dapat mengakibatkan meningkatnya sintesis protein, termasuk enzim-enzim pencernaan yang dibutuhkan sebagai katalisator pada proses metabolisme (Turner dan Bagnara, 1976; Djojosoebagio, 1990).

           Sehubungan dengan hal diatas, untuk mengetahui peran hormon T3 terhadap laju pertumbuhan ikan gurame perlu dikaji hal-hal sebagai berikut :

-         Respon pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan gurame terhadap berbagai dosis hormon yang diberikan pada berbagai ukuran ikan

-         Pengaruh hormon T3 terhadap retensi protein dan retensi lemak.

-         Pengamatan aktivitas enzim-enzim pencernaan, meliputi protease dan lipase.

 

 

1.3.  Tujuan Penelitian

           Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis optimum T3 terhadap pertumbuhan ikan gurame pada berbagai ukuran ikan.

 

II.  METODOLOGI

2.1.  Ikan uji

           Ikan gurame yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari petani ikan lokal.  Ikan gurame yang digunakan terdiri dari tiga ukuran ikan, yaitu kelompok I dengan bobot individu 0,39-0,42 g, kelompok II dengan bobot individu 19,11 - 21,99 g dan kelompok III dengan bobot individu 37,52 - 40,79 g.

 

2.2.  Pakan uji

           Ikan diberi pakan yang mempunyai kandungan protein dan energi relatif sama (Tabel 1 dan 2).  Untuk kelompok I, kadar protein pakan yang diberikan adalah 43,29% (Mokoginta et al, 1994). Sedangkan untuk kelompok II dan III, kadar protein pakan yang diberikan adalah 32,14% (Suprayudi et al, 1994), akan tetapi rasio energi - protein pakan antar penelitian relatif sama yaitu 8 kkal DE/ g protein. Komposisi pakan antar perlakuan terdapat pada Tabel 1 dan 2.

 

 

Tabel  1.     Komposisi proksimat dan kandungan energi pakan penelitian pada setiap perlakuan

untuk kelompok I (% bobot kering)

 

Komposisi

Dosis T3 (mg/kg pakan)

     

 

A

(0,0)

B

(2,5)

C

(5,0)

D

(7,5)

E

(10,0)

Protein

43,35

43,28

43,17

43,35

43,03

Lemak

16,08

16,12

16,06

16,10

16,11

Abu

4,91

4,97

5,43

5,13

5,42

Serat kasar

 1,86

1,81

1,81

1,79

1,82

BETN

33,81

33,83

33,54

33,63

33,63

Total energi

(kkal DE/ kg)

3664,68

 3666,10

3650,14

3662,10

3651,41

C/ P

(kkal DE/ g protein)

 8,46

8,47

8,46

8,45

8,487

 

 

 

Tabel 2.      Komposisi proksimat dan kandungan energi pakan penelitian pada setiap

perlakuan untuk kelompok II dan III (% bobot kering)

 

Komposisi

Dosis T3 (mg/kg pakan)

 

A

(0,0)

B

(2,5)

C

(5,0)

D

(7,5)

E

(10,0)

Protein

32,08

32,29

32,27

32,24

32,24

Lemak

 1,99

1,95

 1,97

1,98

1,96

Abu

5,70

5,53

5,67

5,73

5,69

Serat kasar

2,50

2,60

2,55

2,41

2,43

BETN

57,74

57,64

57,55

57,65

57,69

Total energi

(kkal DE/ kg)

2726,91

2728,70

2727,65

2729,22

2728,88

C/ P

(kkal DE/ g protein)

8,50

8,45

8,45

8,47

8,46

 

 

2.3.  Wadah Penelitian dan Air untuk Pemeliharaan Ikan

           Wadah penelitian adalah akuarium yang berukuran 50x30x35 cm sebanyak 45 buah, yang diisi dengan 20 liter air. Masing-masing akuarium dilengkapi dengan aerator.  Air yang digunakan berasal dari PDAM yang telah diendapkan dan diaerasi.  Sebelum digunakan akuarium terlebih dahulu dibersihkan dan direndam dengan larutan Kalium Permanganat sebagai desinfektan selama 1 hari, kemudian dibilas sampai bersih dan dikeringkan.

 

 

2.4.  Pelaksanaan Penelitian

          Sebelum penelitian dilakukan, ikan gurame dimasukkan ke dalam bak penampungan untuk diadaptasikan dengan kondisi laboratorium.  Selanjutnya dilakukan adaptasi terhadap pakan yang akan diberikan pada saat penelitian.  Pakan yang diberikan pada saat adaptasi adalah pakan kontrol.  Adaptasi terhadap pakan dilakukan sampai ikan uji memberikan respon yang baik terhadap pakan yang diberikan.   Setelah ikan uji telah terbiasa dengan pakan yang diberikan, ikan dipuasakan selama satu hari, kemudian ditimbang untuk mengetahui berat awalnya, dan selanjutnya penelitian dimulai.

Pemberian pakan dilakukan secara ad libitum (sampai kenyang) dengan frekuensi pemberian sebanyak 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore hari.  Selama penelitian, setiap hari dilakukan penyiponan dan penggantian air sebanyak ± 75 % dari volume air yang digunakan. 

 

2.5.  Rancangan Penelitian dan Analisis Data

           Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).  Perlakuan dalam penelitian ini adalah dosis hormon T3 dalam pakan. Pakan perlakuan A yaitu pakan kontrol (tidak diberi T3), sedangkan  pakan perlakuan B (2,5 mg/kg), C (5,0 mg/kg), D (7,5 mg/kg), dan E (10 mg/kg). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga dihasilkan 15 kombinasi perlakuan dan ulangan untuk setiap ukuran ikan yang diuji.. 

          Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perlakuan terhadap rata-rata hasil, dilakukan analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95 % dan 99 % dan selanjutnya untuk menilai respon terbaik dari parameter uji terhadap dosis T3 maka dilakukan uji Polinomial Orthogonal.

 

2.6.     Peubah yang diamati :

 

2.6.1.                    Laju Pertumbuhan Harian Larva

Untuk perhitungan laju pertumbuhan harian larva dilakukan penimbangaaan biomas larva selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus :

 

Wt  =  Wo (1 + 0,01 a ) t

Keterangan :

 a  =  Laju pertumbuhan harian individu (%)

Wo = bobot rata-rata ikan pada waktu awal (g)

Wt  = bobot rata-rata ikan pada waktu t (g)

 t    = waktu (hari)

 

 

2.6.2.                    Efisiensi Pakan

Untuk penghitungan efisiensi pakan, setiap hari dilakukan penimbangan pakan yang diberikan, dan kematian ikan selama penelitian ditimbang dan dihitung.  Efisiensi pakan dihitung dengan rumus :

 

E  =  {[(Wt + D)  -  Wo] /F}  x 100

 

Keterangan :

  E      =    Efisiensi pakan (%)

  Wt    =    bobot ikan pada waktu t (g)

  Wo   =    bobot ikan pada waktu awal (g)

   D     =    jumlah ikan yang mati selama penelitian (g)

   F      =    bobot pakan yang diberikan (g)

 

2.6.3.                    Retensi Protein dan Retensi Lemak

Untuk perhitungan retensi protein, lemak, pada awal dan akhir penelitian dilakukan analisis proksimat ikan meliputi kadar  protein dan kadar lemak, Kadar protein dengan menggunakan metode Kjeldahl sedangkan kadar lemak dengan menggunakan metode ekstraksi,

Retensi protein (RP), retensi lemak (RL) dihitung dengan menggunakan rumus :  

 


 

 


2.6.4.                    Pengukuran Aktivitas Enzim Pencernaan

Pengukuran aktivitas enzim meliputi protease dan lipase,.  Ekstrak enzim pada penelitian ini diperoleh dari hasil penggerusan ikan dari masing-masing kelompok ukuran dengan menggunakan mortar, lalu ditambahkan akuades hingga lima kali bobot contoh.  Campuran ini kemudian disentrifus dengan kecepatan 15.000 rpm selama 20 menit pada 4oC.  Supernatan digunakan sebagai ekstrak enzim yang digunakan dalam pengukuran aktivitas enzim. 

Aktivitas protease ditentukan dengan mengukur kemampuan enzim untuk menghidrolisa protein sehingga dihasilkan tyrosin.  Tyrosin yang dibebaskan diukur secara kalorimetri.  Prosedur yang digunakan mengikuti prosedur yang digunakan Fengxie (1988) dalam Wijayanti (1993).  Aktivitas protease dinyatakan sebagai satuan unit aktivitas enzim per gram contoh.

Aktivitas lipase ditentukan dengan menggunakan Automatic Analysi Boehringer Mannheim- Lipase.  Aktivitas lipase dinyatakan sebagai satuan unit aktivitas enzim per gram contoh.

 

 

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

       Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa pemberian hormon T3 dalam pakan ikan gurame pada berbagai dosis memberikan pengaruh yang berbeda terhadap retensi protein, retensi lemak, aktivitas protaese dan lipase, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan ikan gurame.

3.1.  Retensi  protein,  retensi lemak, aktivitas protease dan lipase

Retensi protein menggambarkan kemampuan ikan menyimpan dan memanfaatkan protein pakan.  Sedangkan retensi lemak menggambarkan kemampuan ikan menyimpan dan memanfaatkan lemak pakan.  Lemak pakan selain digunakan sebagai sumber energi juga disimpan sebagai lemak struktural.   Hasil penelitian ini menunjukkan  pemberian hormon T3 dalam pakan ikan gurame pada berbagai dosis memberikan pengaruh yang berbeda terhadap retensi protein dan retensi lemak ikan gurame disajikan pada tabel 3.

Pada kelompok I dan II, retensi protein tertinggi diperoleh pada perlakuan pemberian hormon T3 pada dosis 10 mg/kg yang berturut-turut diikuti oleh  perlakuan pemberian hormon T3  pada dosis 7,5 mg/kg  5,0 mg/kg ; 2,5 mg/kg  dan kontrol.     Sedangkan pada kelompok III, retensi protein tertinggi diperoleh pada perlakuan pemberian hormon T3 pada dosis 2,5 mg/kg pakan dan pemberian hormon T3 pada dosis yang lebih tinggi akan menghasilkan retensi protein yang lebih rendah.

 

Tabel 3.  Retensi protein dan retensi lemak, aktivitas protease dan lipase

                  ikan gurame kelompok I, II, dan III

 

Pakan/dosis T3

mg/kg pakan

Retensi protein

 (%)

Retensi lemak

(%)

Aktivitas protease (unit/g)

Aktivitas lipase (unit/g)

1.  Kelompok I (0,39 – 0,42 g/ekor

A (0,0)

31,07

34,29

7,96

1,92

B(2,5)

33,46

36,95

8,22

2,01

C (5,0)

35,69

39,61

8,38

2,10

D (7,5)

36,88

40,04

8,94

2,11

E (10,0)

40.38

42,00

9,24

2,16