©2003 Gatot Dwi Adiatmojo Posted
July 2, 2003
Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
Juli 2003
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Rudy C Tarumingkeng
Pembangunan Berkelanjutan dengan
Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya
Alam untuk Membangun Perekonomian dengan basis Pertanian
(di Kabupaten Musi Banyuasin)
Oleh :
E-mail:
gatotadi@hotmail.com
PENDAHULUAN.
1.1.
Latar Belakang
Pemerataan Pembangunan ekonomi bagi bangsa Indonesia sudah lama dinantikan serta diinginkan oleh
rakyat Indonesia. Harapan dan cita-cita yang ingin dijadikan kenyataan
tersebut dapat diimplementasikan melalui pembangunan ekonomi untuk dapat meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Oleh karena itu dalam Pembangunan
Nasional intinya adalah untuk kesejahteraan dan kemakmuran yang merata bagi
seluruh rakyat Indonesia. Sampai sekarang pembangunan ekonomi belum banyak
tersentuh dalam pembangunan, sehingga perlu untuk ditingkatkan. Sebagaimana
diketahui dalam beberapa hal, masyarakat mempunyai potensi untuk menjadi tulang
punggung pembangunan ekonomi terutama dalam bidang pertanian, perikanan darat
dan laut serta perkebunan. Namun bidang tersebut secara substansial belum
tergarap secara optimal dan terpadu. Sehingga sampai sekarang wajah dari wilyah
pedesaan tempat kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan masih banyak
tertinggal dari wilayah – wilayah
lainnya, baik itu pembangunan dibidang fisik (sarana dan prasarana dll) maupun
dalam hal bidang non fisik(sumber daya manusia).
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat
dan Daerah, maka setiap Pemerintah Kabupaten/ Kota sebagai daerah otonom
dituntut untuk dapat mengembangkan dan mengoptimalkan semua potensi daerah
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada hakekatnya otonomi daerah
adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan
peraturan perundang undangan. Untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah
diperlukan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab di daerah secara
proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan
sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pemerintah
pusat dan daerah. Sumber pembiayaan pemerintah daerah dalam rangka perimbangan
keuangan pemerintah pusat dan daerah
dilaksanakan atas dasar desentralisasi, dekonsentrasi, tugas pembantuan dan
sumber dana lain (pinjaman/ bantuan LN).
Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang mempunyai banyak sumberdaya alam terutama
pertambangan minyak dan gas bumi serta perkebunan merupakan sektor andalan
sebagai sumber pembiayaan untuk pembangunan daerahnya. Pada awal di
berlakukannya undang undang otonomi daerah kalangan pemerintahan Kabupaten Muba
mulai memikirkan bahwa sumber daya alam pertambangan minyak dan gas bumi suatu
saat akan habis, dan pada akhirnya pembiayaan untuk pembangunan akan berkurang.
Pada saat yang bersamaan pemerintah daerah Kabupaten Muba mulai memikirkan
alternatif sumber pembiayaan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam
pertanian dalam arti luas, dengan berbasiskan pada agribisnis dan agroindustri.
Sumberdaya alam pertanian terutama perkebunan, perikanan dan peternakan
mempunyai potensi yang sangat baik untuk dikembangkan.
1.2. Permasalahan Kabupaten Musi Banyuasin.
a.
Pendapatan perkapita dan struktur
penduduk.
Kabupaten Musi Banyuasin yang dikenal
dengan julukan Bumi Serasan Sekate merupakan salah satu Kabupaten dari 10
(sepuluh) Kabupaten dan kota yang ada di propinsi Sumatera Selatan dengan
ibukota kabupaten Sekayu. Kabupaten Musi Banyuasin mempunyai luas wilayah
14.263,40 Km² terbagi dalam 9 kecamatan dan 195 desa.
Penduduk Kabupaten Muba pada tahun 2000
terdiri dari 50,34 % laki-laki dan 49,66 % perempuan dengan kepadatan 48 jiwa
per Km²*). Rata-rata jumlah jiwa per
keluarga adalah 5 (lima) jiwa, sedangkan
laju pertumbuhan penduduk sebesar 3,32 % selama periode tahun 1990-2000.
Pendapatan per kapita sebesar Rp.
5.915.493,- dengan migas dan Rp. 2.987.843,- tanpa migas. Meskipun dengan
tingkat pendapatan per kapita cukup tinggi, namun 46 % penduduknya
dikategorikan pada keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I. Pendapatan
perkapita Kabupaten Muba yang dari tahun ke tahun meningkat dan komposisi
jumlah keluarga dengan jumlah pendapatan dapat dilihat pada gambar 1 dan tabel
1 berikut ini.

Sumber : BPKD
Kab Muba, 2002, diolah.
Gambar 1. Pendapatan per kapita Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun 1993
sampai dengan tahun 2000.
*) Sumber
: Musi Banyuasin Dalam Angka 2000, diolah.
Tabel 1. Kategori jumlah keluarga dan pendapatan per keluarga perbulan di
Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun 2002.
|
No |
Kategori Keluarga |
Jumlah Keluarga (KK)* |
Prosentase (%) |
|
1 2 3 4 5 |
Keluarga pra
sejahtera Keluarga
Sejahtera I Keluarga
Sejahtera II Keluarga
Sejahtera III Keluarga
Sejahtera Plus |
23.321 21.551 44.721 6.151 1.066 |
24.08 22.26 46.23 6.35 1.10 |
|
Jumlah |
96.811 |
100 |
|
Sumber
: BKKBN Kabupaten MUBA 2002, diolah. *) Diasumsikan 1 KK = 5 Jiwa.
Struktur penduduk di Kabupaten Musi Banyuasin menurut
umur produktif secara ekonomi (15 – 60 tahun) dari tahun ketahun menunjukan peningkatan.
Demikian juga umur tidak produktif secara ekonomi (0-14 tahun) juga menunjukan
peningkatan. Perbandingan antara jumlah penduduk yang tidak produktif secara
ekonomi (< 15
tahun dan > 60
tahun) dengan jumlah penduduk yang produktif secara ekonomi ( 15 – 60 tahun)
diperoleh angka yang merupakan jumlah penduduk sebagai beban tanggungan ekonomi
daerah. Angka ini merupakan salah satu indikator ekonomi suatu daerah (Suryono,
1989). Apabila angka beban tanggungan ekonomi suatu daerah tinggi, maka dapat
dikatakan daerah tersebut menanggung beban tanggungan ekonomi atau dapat
dikatakan pada tingkat miskin atau terbelakang. Sebagai gambaran jumlah
penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Musi Banyuasin tahun 1980, 1990,
1999 adalah seperti tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Jumlah tenaga kerja produktif dan yang kurang produktif, serta
angka beban tanggungan ekonomi tahun 1980, 1990 dan 1999 di Kabupaten Musi
Banyuasin.
|
No |
Kelompok umur (th) |
Th 1980 |
Th 1990 |
Th 1999 |
|||
|
Jumlah |
% |
Jumlah |
% |
Jumlah |
% |
||
|
1 |
0 –14 |
268.741 |
45,47 |
318.398 |
35,21 |
378.616 |
35,28 |
|
2 |
15 – 64
* |
308.494 |
52.19 |
552.804 |
61.12 |
660.804 |
61.58 |
|
3 |
> 65 |
13.639 |
2.34 |
33.236 |
3.67 |
33.696 |
3.14 |
|
Angka beban tanggungan
ekonomi |
91.6 |
63.61 |
62.39 |
||||
Sumber : Muba dalam angka 1999, diolah.
*) Diasumsikan semua tenaga kerja produktif bekerja.
b.
Potensi Sumber Daya Alam
Potensi sumber daya
alam di Kabupaten Muba cukup banyak yang dapat dimanfaatkan untuk dapat
membiayai pembangunan. Sumber daya alam pertambangan cukup mempunyai potensi untuk
dikembangkan, sehingga pembiayaan pembangunan dapat diandalkan dari sektor
pertambangan. Tapi potensi sumber daya alam dari pertambangan
pemanfaatannya perlu dilakukan dengan cermat. Sebagai gambaran nilai produksi dan produksi minyak
dan gas bumi dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Produksi dan Nilai produksi Minyak dan Gas Bumi
tahun 2000 di Kabupaten Muba
No
|
Lokasi |
Produksi
(Ton) |
Nilai
Produksi (Rp 000) |
|
1 |
Sungai
Lilin |
701,146.00 |
- |
|
2 |
Ramba |
4,852,924.00 |
247,200,000.00 |
|
3 |
Kresik |
2,614,318.00 |
237,820,000.00 |
|
4 |
Kaji,
Semoga |
4,993,012.00 |
201,800,000.00 |
|
|
Jumlah |
13,161,400.00 |
686,820,000.00 |
Sumber
: Dinas Pertambangan dan Energi Kab MUBA, 2000, diolah.
Disamping potensi sumber daya alam pertambangan Kabupaten Muba juga memiliki potensi sumber daya alam yang dimanfaatkan perkebunan terutama untuk komoditi karet, kelapa dan kelapa sawit. Potensi pemanfaatan sumber daya alam untuk perkebunan ini masih memiliki peluang yang sangat baik untuk dikembangkan dengan kepemilikan usaha perkebunan melibatkan masyarakat.
Sebagai gambaran jenis komoditi perkebunan, luas, produksi dan jumlah pemilik usaha perkebunan tahun 2000 di Kabupaten Muba dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Jenis komoditi perkebunan, luas, produksi dan
jumlah pemilik tahun 2000 di Kabupaten Muba.
|
No |
Jenis Komoditi & Pengelola |
Luas (Ha) |
Produksi (Ton) |
Jumlah Pemilik (KK) |
|
1 |
Karet |
|
|
|
|
|
·
Perkebunan
Rakyat |
192.672 |
78.771 |
101.152 |
|
|
·
Perkebunan
Negara |
6.265 |
7.811 |
- |
|
|
·
Perkebunan
Swasta |
10.322 |
6.805 |
- |
|
|
Total
|
209.259 |
93.387 |
101.152 |
|
2 |
Kelapa |
|
|
|
|
|
·
Perkebunan
Rakyat |
19.127 |
8.792 |
52.857 |
|
|
·
Perkebunan
Negara |
16 |
- |
- |
|
|
·
Perkebunan
Swasta |
2.94 |
2.549 |
- |
|
|
Total
|
38.067 |
11.341 |
52.857 |
|
3 |
Kelapa Sawit |
|
|
|
|
|
·
Perkebunan
Rakyat |
8.944 |
126.870 |
4.127 |
|
|
·
Perkebunan
Negara |
13.462 |
184.286 |
- |
|
|
·
Perkebunan
Swasta |
81.128 |
544.152 |
- |
|
|
Total
|
103.534 |
855.308 |
4.127 |
Sumber
: Dinas Perkebunan Kab MUBA, 2000, diolah.
Kabupaten Muba disamping memiliki sumber daya yang ada di daratan juga mempunyai sumber daya perairan yang diusahakan untuk perikanan darat dan perikanan laut yang dapat dan perlu dikembangkan. Sebagai gambaran usaha perikanan, produksi dan nilai produksi tahun 2000 dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Usaha perikanan, produksi dan nilai produksi
tahun 2000 di Kabupaten Muba.
|
No |
Jenis
Usaha Perikanan |
Produksi
(Ton) |
Nilai
Produksi (Rp 000) |
|
1 |
Perikanan darat |
10,620.10 |
11,953,148 |
|
2 |
Budidaya air tawar |
- |
- |
|
a |
Kolam |
701 |
524,640 |
|
b |
Keramba |
150 |
134,605 |
|
3 |
Perikanan Laut |
41.629 |
19,774,012 |
Sumber :
Dinas Perikanan Kab MUBA, 2000, diolah.
Potensi sumber daya alam di Kabupaten Muba disamping sumber daya alam
pertambangan, pertanian, perkebunan dan perikanan juga sumber daya dari hasil
hutan. Terdapat 2 (dua) jenis kawasan hutan, yaitu kawasan hutan non budi daya
dan kawasan hutan budi daya. Kawasan hutan budi daya yang merupakan hutan
produksi dapat dimanfaatkan secara ekonomis, namun harus dengan ke hati-hatian,
karena apabila hanya dimanfaatkan semata-mata untuk keperluan ekonomi maka akan
terjadi kerusakan hutan dan mungkin akan terjadi deforetstation (Gunarwan S, 2003). Luasan kawasan hutan non
budidaya dan hutan kawasan budidaya
seperti pada tabel 6 berikut ini.
Tabel 6. Luasan kawasan hutan non budidaya dan kawasan budi
daya tahun 2000 di Kabupaten Muba.
|
No |
Kawasan Non Budidaya
|
Luas (Ha) |
Kawasan Budidaya
|
Luas (Ha) |
|
1 |
Hutan Suaka Alam |
342,479 |
Hutan Produksi : |
|
|
2 |
Hutan Lindung |
68,823 |
Hutan Produksi Terbatas (HPT) |
98,640 |
|
|
|
|
Hutan Produksi Tetap (HP) |
526,155 |
|
|
|
|
Hutan Produksi Konversi |
192,460 |
Sumber
: Dinas Kehutanan Kab MUBA, 2000, diolah.
c.
Rumusan
Masalah.
·
Melihat pendapatan perkapita tahun 2000, dan sebanyak 46 %
penduduk Kabupaten Muba masih dalam kategori keluarga pra sejahtera dan
keluarga sejahtera I, maka diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan dan
pengelolaan sumberdaya alam terutama di bidang pertanian.
·