© 2002 YULIAN FAKHRURROZI                                                           Posted:    11 June, 2002

Tugas Mata Kuliah Falsafah Sains (PPs 702)

Program Pasca Sarjana (S3)

Institut Pertanian Bogor

Juni 2002

 

Dosen: Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung jawab)

 

 

 

BUAH-BUAHAN LIAR EDIBEL DALAM

KEHIDUPAN MASYARAKAT MELAYU BELITUNG PEDALAMAN

 

 

Oleh:

 

 

YULIAN FAKHRURROZI

TKL/C026014011

E-mail: fakhrurrozi@myquran.com

Pendahuluan

Buah-buahan termasuk alam nabati (tumbuhan, flora) yang merupakan salah satu bentuk kekayaan hayati Indonesia. Sebagai negara megabiodiversitas, kekayaan yang amat besar itu menjadi bertambah besar lagi karena pengaruh keanekaragaman etnik (masyarakat) dan budayanya (kehidupannya).  Akan halnya keanekaragaman hayati buah-buahan, peranan etnik dan budaya masyarakat tradisional (lokal) dalam pengetahuan, pemeliharaan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan, telah berperan besar menambah kekayaan plasma nutfah  buah-buahan tropika dan upaya konservasinya.  Begitu pula yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Melayu lokal  yang hidup di desa-desa pedalaman Pulau Belitung.

Siapapun yang ingin hidup sehat, pasti suka atau paling tidak pernah makan buah, bahkan lagu klasik tentang buah ciptaan Pak Kasur (Pepaya, mangga pisang, jambu, dibeli dari Pasar Minggu.  Di desa banyak penjualnya, di kota banyak pembelinya. ……) kinipun masih disukai/diajarkan para orang tua atau guru kepada anak/muridnya.  Selain tak lupa mengungkap jasa penjualnya (petani) yang banyak tinggal di desa, syair lagu itu sarat akan makna dan ragam dampaknya (pedagogi, etnobiologi, biodiversitas dan konservasi). Itulah ungkapan tentang keanekaragaman buah unggul, enak dan telah dipelihara/dikembangkan (domestikasi dan pemuliaan) masyarakat tani/desa  yang disebut sebagai buah budidaya (kultivasi). 

Awam mungkin tak pernah atau amat jarang sekali bertanya dari mana awal atau bagaimana sejarah cikal-bakal aneka-buah unggul dan enak tadi.  Dari mana lagi kalau bukan dari buah-buah liar (edibel), yang umumnya tumbuh liar di hutan-hutan.  Mereka itulah (kerabat buah liar) yang bersama generasi domestikasinya (jenis-jenis budidaya) disebut sebagai plasma nutfah buah-buahan. Dengan melibatkan kerabat liarnya tadi, pengembangan potensi keunggulan sifat dan ciri buah-buahan tropika negeri ini akan makin progresif, apalagi dengan menghargai atau tanpa melupakan peranserta dan jerih payah masyarakat pedalaman (desa dan hutan).     

 

Masyarakat Pedalaman dan Buah-buahan Liar Edibel

Masyarakat pedalaman adalah pelopor pengembangan (domestikasi dan pemuliaan) buah-buahan liar edibel (buah-buah hutan, bua utan) menjadi buah-buahan tropika lokal unggul yang bisa kita nikmati kini.  Merekalah saksi atau fosil hidup sejarah peradaban manusia di bumi ini.  Sejak terbit fajar peradaban manusia, keedibelan (ketermakanan) merupakan pertanyaan pertama yang muncul di benak seorang primitif ketika berjumpa dengan tumbuhan yang baru baginya (Rifai, 1994).  Pertanyaan lainnya lalu berkembang meliputi segala maksud dan keperluan, baik yang terkait dengan budaya maupun aspek lainnya termasuk ekonomi (Rifai, 1998). 

Buah dipastikan merupakan makanan (sumber pangan) pertama yang dianugerahkan Sang Pencipta kepada manusia pertama. Beberapa kitab suci (bagi yang beriman, seperti QS.2:35-36) mengisahkan bahwa karena buah jualah Adam dan Hawa diturunkan ke muka bumi (awal kejadian), begitupun kisah pembunuhan pertama (kisah Habil dan Qabil, QS.5:27) berkaitan dengan buah-buahan (sebagai pangan persembahan).  Namun yang jelas logiknya, tumbuhan dan buahnya adalah sumber makanan pertama yang termudah didapat sekaligus paling menarik di zaman prasejarah. Bahkan mengumpulkan buah-buahan  (meramu) bisa dipastikan lebih duluan dilakukan daripada menangkap hewan (berburu), yang butuh lebih banyak tenaga, keahlian dan kesempatan. 

Dalam perkembangan selanjutnya buah-buahan (liar) edibel tadi kemudian  ditanam/dipelihara dekat kediaman manusia.  Sejak itulah dimulainya masa pertanian prasejarah, dimana umbi-umbian juga mulai ditanam dan hewan buruan mulai dipiara.  Dengan upaya domestikasi, seleksi dan pemuliaan terhadap buah-buah liar tersebut, yang berlangsung sejak zaman prasejarah oleh manusia primitif sampai berikutnya oleh masyarakat tradisional dan modern kini, barulah kita dapatkan buah-buahan budidaya yang enak dan unggul.  Hal itu berarti juga bahwa buah-buahan di masa lalu belum tentu seenak dan seunggul di masa kini. 

Sisa-sisa atau saksi sejarah perkembangan buah-buahan tadi dapat kita telusuri kembali di alam masyarakat pedalaman (dekat hutan).  Yaitu dengan mengkaji segala aspek kehidupan tradisionalnya yang terkait dengan tumbuhan, buah-buahan dan lingkungannya, mulai dari yang terdekat yaitu pekarangan di pemukiman, sampai ke ladang dan hutan di lingkungan lainnya.  Namun untuk memulai kajian, paling mudah adalah dari bentuk-bentuk peralihan, yaitu buah-buahan semidomestikasi (semiliar) dan lingkungan agrofores.  Kedua bentuk peralihan itu adalah produk kearifan lokal masyarakat tradisional, yang membuktikan peranan penting mereka dan peranan buah-buahan liar edibel (buah hutan). Dengan kata lain buah-buahan semiliar dan lingkungan agroforest adalah titik (jalur) temu paling kongkret antara dua alam (kehidupan), yaitu liar (wildlife) dan budidaya (budaya).

 

Buah-buahan Liar Edibel

          Membicarakan tentang buah-buahan, akan lebih mudah dan bermanfaat jika dibahas lebih ke arah ekologi.  Dengan sudut pandang ekologi pembahasan buah tak akan terpisahkan dengan biji (Pijl, 1990), bahwa buah bersama biji  merupakan organ tumbuhan yang normal untuk pemencaran rekombinatif generatif.  Hal ini sejalan dengan pengertian seperti yang ditulis Verheij & Corronel (1997, editor) bahwa buah-buahan edibel (yang dapat dimakan) meliputi fruits (buah biasa) dan nuts (buah geluk atau biji yang dapat dimakan).

          Buah-buahan budidaya (cultivated/domesticated) sudah umum diketahui dan  dipahami pasti edibel (dapat dimakan), dan umumnya lebih enak dimakan sebagai hasil proses panjang domestikasi, pemuliaan dan seleksi yang dilakukan oleh petani.  Lain halnya dengan buah-buahan liar (wild fruits & nuts) yang jangankan keedibelannya, rupanyapun belum tentu diketahui oleh orang awam. Apa lagi  belum atau jarang sekali adanya tulisan/publikasi khusus (ilmiah atau ilmiah populer) tentang itu.  Pengetahuan tentang buah-buahan liar edibel biasanya ada pada kehidupan tradisional masyarakat pedalaman dekat hutan, seperti pada masyarakat Melayu Belitung (Fakhrurrozi, 2001). 

Dalam masyarakat Melayu Belitung, bila disebut bua utan (buah hutan) yang dimaksud adalah buah-buahan (fruits & nuts) yang edibel.  Fakhrurrozi melaporkan, masyarakat setempat (khususnya di Tanjong Rawa, Desa Kelubi, Manggar) mengenal paling tidak  120 jenis.  Menurut pengetahuan mereka (dalam lagu Bua Utan, ciptaan Abdul Hadi (Margono, 1989) buah-buahan liar itu (termasuk nuts) dikelompokkan menjadi bua kayu, bua akar dan bua laruten (lihat Tabel Lampiran, Tabel 1 dan Gambar 1).   Meski begitu mereka juga paham bahwa diantaranya ada juga yang (berisiko) memabukkan, yang secara umum disebut bua mabok.

Tabel 1.  Kategori perawakan, macam dan kelompok buah tumbuhan bua utan

Perawakan

(etik)

Jumlah jenis

%

total

Macam buah (emik)

Jumlah jenis

%  total

Kelompok

buah edibel

Jumlah jenis

%  total

Pohon

79

65,8

Bua kayu

99

82,5

Fruits  (buah biasa)

112

93,3

Semak

22

18,8

Bua akar

13

10,8

Nuts (buah geluk)

   8

6,7

Palem

 9

7,5

Bua laruten

  8

6,7

 

Herba

 9

7,5

 

Liana

 6

5,0

 

(Sumber:  Fakhrurrozi, 2001)

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1.  Kategorisasi buah dan tumbuhan bua utan

(Sumber:  Fakhrurrozi, 2001)

Mengapa buah-buahan liar edibel (bua utan) tidak selalu enak rasanya bahkan berisiko jika dimakan, termasuk beracun atau memabukkan?  Hal itu karena memang sudah menjadi kodratnya, bahwa setiap makhluk hidup memiliki mekanisme untuk mempertahankan diri.  Jika di satu sisi pemakan buah merupakan salah satu target strategi tumbuhan liar untuk memencarkan bijinya, di sisi lain tumbuhan tersebut membuat strategi khusus untuk menghindari pemangsa yang merugikan (Pijl, 1990).  Adalah merugikan tumbuhan tersebut jika terbawa/terpencar sebelum waktunya, sebelum biji matang dan siap tumbuh di tempat baru.  Oleh karen itulah umumnya buah-buahan yang mentah penampakannya kurang/tidak menarik, rasanya tidak /kurang enak bahkan berisiko memakannya, hal inilah yang dianggap sebagai mekanisme seleksi pemencar atau pertahanan dirinya (Whitten dkk., 1984). 

Dari alinea di atas dipahami bahwa buah-buahan liar umumnya lebih banyak memiliki mekanisme pertahanan diri dan strategi memilih pemencar khas.   Karena itu buah-buahan liar termasuk yang edibel (bua utan), dibandingkan dengan buah budidaya memiliki sifat-sifat yang umumnya a.l.: kurang menarik penampilannya, kurang enak rasanya, berisiko memakannya, kurang seragam penampakannya,   kurang serentak matangnya, dan perlu strategi tertentu untuk memakannya.  Menurut laporan Fakhrurrozi (2001), dari keterangan masyarakat setempat paling tidak ada 20 jenis bua utan yang berisiko (kurang aman) jika dimakan, hal itu wajar karena namanya saja untuk keperluan survival. Walaupun begitu menurut segolongan orang atau masyarakat, khususnya bagi masyarakat pedalaman setempat bua utan memiliki keunikan tersendiri a.l.:  kaya variasi rasa (aneh, khas, unik dan menarik), butuh tantangan (sintasan belantara), sarat dengan kesan dan hiburan, serta memberi banyak pelajaran dan pengalaman. 

 

Habitat buah-buahan liar edibel

          Secara etnoekologi, habitat buah-buahan liar edibel (bua utan) di lingkungan masyarakat pedalaman setempat dibagi menjadi tiga macam, yaitu ekosistem alami, ekosistem buatan dan ekositem suksesi. Ketiganya terjadi sebagai hasil dari sistem pengelolaan lingkungan tradisional, baik itu sistem pertanian ladang berdaur-ulang maupun sistem pemukiman khas masyarakatnya.  Ekosistem alami merupakan lingkungan yang asli alami atau dipertahankan kealamiannya, ekosistem buatan merupakan lingkungan yang sedang ditempati/diusahakan, dan ekosistem suksesi merupakan lingkungan yang sedang mengalami proses (pemberaan). 

          Fakhrurrozi (2001) dalam laporan penelitiannya menyebutkan beberapa satuan lansekap penting yang menjadi habitat bua utan.  Diantaranya adalah rimba’ (hutan rimba), padangen (padang), dan lingkongen ai’ (hutan sumber air pemukiman) untuk ekosistem alami, ume (ladang) dan pekarangen (pekarangan) untuk ekosistem buatan, serta bebak (lahan bera), bebak usang (lahan bera tua), keleka’ (kebun buah tua) dan kelekausang (kebun buah tua yang telah lama ditinggal) untuk ekosistem suksesi.   Dalam laporan tersebut tercatat bahwa jumlah jenis (tumbuhan) bua utan yang diketahui masyarakat, paling banyak (>50%) dijumpai berturut-turut di rimba’, lingkongen ai’, bebak usang, pekarangen, bebak, keleka’ usang dan keleka’ (lihat Tabel 2 dan Gambar 2).  

Tabel 3.  Tipe ekosistem, satuan lansekap dan jumlah jenis tumbuhan BLE

 

Ekosistem Alami

Jumlah

jenis

Ekosistem Suksesi

Jumlah

jenis

Ekosistem Buatan

Jumlah

jenis

Rimba’

105 (92,1%)

Keleka’

54 (52,9%)

Pekarangen

71 (87,7%)

Padangen

  27 (23,7%)

Keleka’ usang

57 (55,9%)

Ume

14 (17,3%)

Ai’

102 (89,5%)

Bebak

65 (63,7%)

Total:   81 jenis

Pesisér

    3   (2,6%)

Bebak usang

87 (85,3%)

 

Bakau

    2   (1,8%)

Total:  102 jenis

 

Total:  114 jenis

 

(Sumber:  Fakhrurrozi, 2001)

          Jumlah-jumlah itu membenarkan bahwa memang ekosistem alami atau hutanlah umumnya habitat berbagai jenis buah-buahan liar edibel, tidak keliru bila masyarakat setempat menyebutnya sebagai bua utan (buah hutan). Kenyataan itu juga membenarkan kebiasaan mereka yang menjadikan kehadiran berbagai jenis (tumbuhan) bua utan sebagai indikator keberhasilan suksesi lahan bera menghutan lagi.  Selain itu juga menunjukkan bahwa kehidupan mereka tidak pernah jauh sekaligus tergantung langsung dengan lingkungan hutan atau kehidupan liar.  Kehadiran jenis-jenis (tumbuhan) buah-buahan liar edibel (bua utan) tersebut, merupakan representasi kehadiran hutan atau kehidupan liar di lingkungan hidup  mereka, baik di lingkungan pertanian, pemukiman maupun di sekitarnya.

          Paling menarik adalah jenis-jenis bua utan yang berhabitat atau bisa dijumpai dijumpai di keleka’ dan kelekausang.   Keleka’ yang dikenal juga dengan istilah kebun bua baka (kebun buah lama), merupakan perkembangan dari kebun buah tahun (bua taun) di pekarangan (pekarangen).  Kelompok bua utan yang umum dijumpai di dalamya berupa jenis-jenis bua utan semiliar atau semidomestikasi (Purwanto,  1992).  Jenis-jenis semiliar ini status konservasinya menurut kriteria Valkenburg (1997) meliputi primarily wild (terutama liar), wild & cultivated (liar dan budidaya) dan primarily cultivated (terutama budidaya) (lihat Tabel 3). Fakhrurrozi (2001) melaporkan ada 20 jenis bua utan semiliar (dari total 120), yang bersama buah-buah budidaya lokal tak umum dikelompokkan masyarakat setempat sebagai bua baka atau bua langka (buah langka).  Buah budidaya lokal tak umum misalnya kemang (Mangifera kemanga), jambu kemang (Syzygium malaccensis) dan nam-nam (Cynometra cauliflora).   Boleh dikatakan bahwa jenis bua utan yang enak dan unik justru paling banyak dan paling mudah ditemui keleka’ atau kelekausang daripada di hutan rimba’.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 2.   Perkembangan satuan-satuan lansekap

(Sumber:  Fakhrurrozi, 2001)

Keterangan

Kubok: pemukiman perintis;  Kampong: pemukiman (kampung)

 

 

Tabel 3.  Status keliaran tumbuhan bua utan

 

Status  keliaran

Jumlah jenis

Wild

(liar)

 

99 (82,5%)

PrimarilyWild     (terutama liar) 

           

14 (11,7%)

Wild & cultivated     (liar dan budidaya)

 

  5   (4,2%)

Primarily cultivated (terutama budidya)

 

  2   (1,6%)

(Sumber:  Fakhrurrozi, 2001)

Peranan Buah-buahan Liar Edibel

          Membicarakan peranan (fungsi dan manfaat) bua utan, kita tak akan pernah memisahkan antara peranannya secara biologi dan etnobiologi, artinya baik antara pemahaman saintis maupun masyarakat setempat dengan kearifannya (pengetahuan asli) pada hakikatnya tidaklah jauh berbeda. Begitu pula antara peranannya sebagai organ tersendiri dan sebagai organ yang mewakili tumbuhan berbuah/berbiji secara utuh (individu, populasi dan komunitas).

          Pertama, sebagai alat pemencaran (normal) berbagai jenis tumbuhan liar penting.  Pemencaran ini dilakukan dalam rangkaian upaya demi melestarikan jenis, baik dilakukan dengan bantuan faktor internal maupun eksternal.  Hal inilah yang selanjutnya memberikan pelajaran kepada manusia atau masyarakat setempat bahwa untuk memudahkan mendapatkan kembali jenis-jenis tadi mereka harus menanamnya atau membiarkan/memelihara faktor-faktor yang membantu pemencaran tersebut.  Kebiasaan menanam/memelihara jenis-jenis bua utan ini masih terlihat di lingkungan masyarakat setempat, termasuk pula di pekarangan dan kebun buah (pekarangen dan keleka’) khususnya.

Kedua, sebagai sumber makanan (pakan) bagi satwa-satwa liar.  Peranan ini sejalan dengan peranan pemencaran, dimana satwa pemakan buah (frugivor) merupakan salah satu faktor eksternal pemencaran, yaitu pemencaran dengan bantuan hewan (zookori).  Satwa pemakan bua utan khususnya berbagai jenis burung dan mamalia (terutama primata yaitu kera) dijadikan “guru” atau contoh (teladan) oleh manusia /masyarakat setempat, paling tidak untuk tujuan survival (bertahan /sintas) di hutan.  Ini sekaligus membuktikan pendapat Rifai (1994) bahwa keedibelan merupakan aspek awal pemanfaatan tumbuhan oleh manusia.  Dengan hal ini pula mereka belajar dan mengajari anak/remajanya tentang survival dan pentingnya kelestarian jenis-jenis (tumbuhan) bua utan, satwa liar dan habitatnya (hutan).  Satwa-satwa itu disebut mereka dengan istilah munso (pemakan) bua utan.

Ketiga, sebagai penjaga munso (satwa liar) agar tidak mengganggu tanaman budidaya.  Bertolak dari peranannya sebagai sumber pakan utama satwa liar, secara sadar masyarakat setempat memperhatikan/menerapkan betul peranan ketiga bua utan ini. Itu sebab mengapa sampai kini mereka masih memelihara, mempertahankan ataupun menghadirkan satuan-satuan lansekap yang mendukung peranan ini di lingkungan mereka.  Yaitu lingkongan ai’, keleka’, kelekausang, bebak dan bebak usang, semuanya ikut berperan menyangga lingkungan budidaya (baik di pemukiman maupun perladangan) karena di situ dibiarkan tumbuh atau sengaja ditanami jenis-jenis bua utan.  Lebih dari itu bahkan di pekarangan dan ladangpun (pekarangen dan ume) keberadaan jenis-jenis bua utan tertentu masih mereka pertahankan. Semuanya menurut mereka bertujuan untuk mengalihkan perhatian munso ke bua utan dan mengamankan buah-buahan dan tanaman budidaya penting mereka lainnya.

Keempat, sebagai sumber plasma nutfah buah-buahan.  Plasma nutfah adalah konsep yang lumayan sulit dimengerti, apalagi oleh masyarakat pedalaman setempat.  Namun prinsip dan manfaat praktisnya telah mereka laksanakan dan rasakan sejak lama.  Dengan dipelihara atau ditanamnya berbagai jenis bua utan di berbagai satuan lansekap “lingkungan penyangga” mereka, khususnya keleka’, disadari atau tidak  mereka telah melakukan upaya konservasi, domestikasi, pembibitan, seleksi bahkan pemuliaan untuk menghasilkan jenis buah-buahan unggul.  Sebagai dipahami bahwa cikal-bakal buah unggul lokal adalah buah-buahan liar edibel (bua utan) tadi.  Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jenis buah semiliar (semidomestikasi) yang bisa dijumpai di keleka’-keleka’ masyarakat setempat (lihat Tabel 3). Keleka’ adalah kebun buah tua (belasan/puluhan tahun) yang kondisinya lebih mirip hutan campuran dengan inti pepohonan buah tahunan (bua taun), berkembang dari kebun pekarangan (pekarangen) dan kemudian akan menjadi kelekausang (lihat Gambar 2).

Kelima, sebagai media pembelajaran/pewarisan pengetahuan dan kearifan.  Bagi masyarakat setempat, dengan bua utan mereka bisa mengajarkan dan belajar banyak hal terutama bagi anak-anak/remaja sebagai generasi penerusnya.  Tidak hanya tentang “sintasan belantara”, tetapi terutama tentang saling ketergantungannya antara masyarakat, satwa, tumbuhan dan hutan, dan tentang pentingnya memelihara kelestarian lingkungan hidup mereka.  Pengajaran kearifan bisa terlihat salah satunya adalah tentang menghargai (peninggalan) sejarah dan kasih sayang kepada anak-cucu, dimana biasanya kaum tua (kakek-nenek) senang menanam pohon buah (termasuk bua utan) sebagai kenangan indah dan kebaikan buat anak-cucunya di kemudian hari. Banyaknya jenis bua utan di pekarangen, keleka’ dan kelekausang adalah berkat jasa kakek-nenek mereka. Karena itu ada istilah kelekadatu’ atau kelekaniné’ (datu’= buyut; niné’= nenek).

Tabel 4. Sumbangan jenis tumbuhan BLE terhadap kategori manfaat utama

Jumlah