© 2002  Adnan Wantasen                                                                                   Posted: 13 December, 2002

Makalah Falsafah Sains (PPs 702)

Program Pasca Sarjana / S3

Institut Pertanian Bogor

December 2002

 

Dosen:

Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)

Prof Dr Ir Zahrial Coto

Dr Bambang Purwantara

 

 

 

 

 

KAJIAN POTENSI SUMBERDAYA HUTAN MANGROVE

 DI DESA TALISE , KABUPATEN MINAHASA, SULAWESI UTARA

 

 

 

 

Oleh:

 

Adnan Wantasen

C261020021

E-mail: ananw2000@yahoo.com

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

 

Salah satu dari sumber yang mendapat perhatian di wilayah pesisir adalah ekosistem mangrove. Fungsi hutan mangrove sebagai spawning ground, feeding ground, dan juga nursery ground, di samping sebagai tempat penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan tingkat produktivitas yang tinggi dengan berbagai macam fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penting. Desa Talise, yang terletak di Kecamatan Likupang Minahasa, memiliki  hutan mangrove dengan luas areal yang diperkirakan sebesar 62 hektar. Penggunaan mangrove oleh penduduk desa sudah dilakukan sejak lama baik sebagai kayu bakar maupun untuk mendirikan rumah.

Tujuan Penelitian

v     Mengetahui potensi hutan mangrove yang ada di Desa Talise.

v     Menilai secara ekonomi manfaat langsung dari sumberdaya hutan mangrove di Desa Talise.

v     Memberikan strategi alternatif dalam pengelolaan wilayah pesisir untuk Desa Talise.

Pendekatan Masalah

Peningkatan pertumbuhan penduduk di Desa Talise, maka kebutuhan hidup masyarakat akan meningkat pula.  Peningkatan kebutuhan ini akan mendorong eksploitasi sumberdaya terutama hutan mangrove (yang dominan berada di sana selain terumbu karang), melalui berbagai kegiatan yang berlangsung di ekosistem mangrove maupun di sekitarnya, yang pada akhirnya menekan keberadaan ekosistem mangrove (disamping adanya faktor alam).  Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal disekitar hutan mangrove merupakan masalah prinsip dalam usaha menyelamatkan hutan mangrove.  Kondisi sosial ekonomi yang buruk dari

masyarakat (nelayan) akan mendorong peningkatan frekuensi dan intensitasnya pada penebangan liar pohon-pohon mangrove. Hal yang lebih buruk lagi adalah masyarakat desa yang tinggal paling dekat dengan sumberdaya hayati seringkali merupakan kelompok yang paling tidak beruntung secara ekonomis yang termiskin diantara yang miskin (McNeely, 1988).   Pada gilirannya banyak lahan pertanian yang nilai produktivitasnya semakin merosot dan hasil panen berkurang, akibatnya kehidupan nelayan tradisional semakin sulit. Oleh karenanya keberadaan mangrove perlu diketahui kondisi ekologisnya serta dinilai secara ekonomi (dengan berbagai teknik valuasi) untuk menentukan efisiensi pemanfaatannya, berdasarkan pendekatan nilai ekonomi (nilai manfaat langsung). 

 

Secara ringkas, pendekatan masalah tersebut ditelusuri melalui kerangka berpikir seperti pada Gambar 1 berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1.  Skema Kerangka Pemikiran

 

 

METODOLOGI PENELITIAN

Data yang dikumpulkan  dalam penelitian ini didapat dari data primer dan data sekunder.  Data primer dikumpulkan lewat pengamatan/analisis langsung di lapangan,  wawancara langsung dengan penduduk dan pemilihan obyek penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan bahwa lokasi penelitian adalah desa yang sudah termanfaatkan hutan mangrovenya.

Pengambilan data ekologis mangrove dilakukan pada 3 lokasi penelitian, yaitu : Pulau Kinabuhutan (stasiun I), Kampong Tambun (stasiun II) dan Kampong Talise (stasiun III). Untuk akurasi dilakukan penentuan lokasi dengan GPS (Tabel 1). 

 

Tabel 1.  Lokasi dan posisi masing-masing lokasi penelitian

NO.

LOKASI

POSISI

LINTANG UTARA

BUJUR TIMUR

1

P. Kinabuhutan

1o50’10” -  1o50’38”

125o05’24” - 125o05’52”

2

Kampong Tambun

1o48’52” -  1o48’20”

125o02’56” - 125o03’12”

3

Kampong Talise

1o49’50” -  1o50’42”

125o04’36” - 125o05’16”

 

                       

Dalam penelitian ini digunakan 2 metode pengumpulan data yaitu: 1) Transek-kuadrat, dan 2) 'spot check'. Kedua metode ini diaplikasikan untuk mendapatkan informasi komposisi jenis, struktur vegetasi dan komunitas, serta distribusi jenis.

            Metode transek-kuadrat dilakukan dengan cara menarik garis tegak lurus pantai, kemudian di atas garis tersebut ditempatkan kuadrat ukuran 10 X 10 m, jarak antar kuadrat ditetapkan secara sistematis terutama berdasarkan perbedaan struktur vegetasi. Selanjutnya, pada setiap kuadrat dilakukan perhitungan jumlah individual (pohon dewasa, pohon remaja, anakan), diameter pohon, dan prediksi tinggi pohon untuk setiap jenis.   Metode 'spot check' digunakan untuk melengkapi informasi komposisi jenis, distribusi jenis, dan kondisi umum ekosistem mangrove yang tidak teramati pada metode transek-kuadrat. Metode ini dilakukan dengan cara mengamati dan memeriksa zona-zona tertentu dalam ekosistem mangrove yang memiliki ciri khusus. Informasi yang diperoleh melalui metode ini bersifat deskriptif.

            Proses identifikasi jenis mangrove merupakan salah satu bagian yang penting dalam penelitian ini.  Untuk tujuan tersebut, digunakan beberapa pedoman antara lain: Percipal dan Womersky (1975), Tomlinson et al. (1979), dan Tomlinson (1986).

            Dalam pengelolaan hutan mangrove sesuai dengan potensi dan permasalahan hasil kajian, dianalisis dengan menggunakan SWOT.  Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi suatu pengelolaann. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunitie), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Dalam menentukan strategi yang terbaik, dilakukan pemberian bobot yang berkisar antara 0,0 – 1,0 dimana nilai 0,0 berarti tidak penting dan nilai 1,0 berarti sangat penting. Disamping itu, diperthitungkan rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 hingga 1, yaitu dari sangat baik sampai kurang baik. Selanjutnya antara bobot dan rating dikalikan menghasilkan skor (Rangkuti, 1998).

 

Tabel 2. Matrik SWOT

 

Kekuatan

Kelemahan

Peluang

Strategi Kekuatan - Peluang

Strategi Kelemahan - Peluang

Ancaman

Strategi Kekuatan - Ancaman

Strategi Kelemahan - Ancaman

 

 

Sosial Ekonomi Masyarakat

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat dan atau lembaga yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan pemanfaatan mangrove, dengan sub populasi pengambil hasil hutan, nelayan dan penerima manfaat keberadaan hutan mangrove. Jumlah responden yang mewakili masing-masing strata ditetapkan berdasarkan alokasi non-proporsional dan proporsional.

Setelah data potensi dan biodiversity mangrove serta data sosial ekonomi diperoleh, akan dilakukan valuasi ekonomi berdasarkan data-data tersebut. Dengan demikian akan diketahui manfaat hutan mangrove terhadap masyarakat dan bagaimana mengelola hutan tersebut secara berkelanjutan.

Analisis Data

Ekologi Ekosistem Mangrove

1)  Keragaman (Diversity) Shannon-Wienner;

                                   

dimana :

                   H’ =  indeks keragaman ;               ni    =    nilai tiap individu ke-i

                   N  = total nilai;                              s     =    jumlah genera

2) Kekayaan jenis (species Richness) Margalef;

                                               

dimana :            S = jumlah jenis;   n = jumlah seluruh individu.

 

3) Kemerataan jenis (Species Evenness) Pielou;

                                   

dimana :            E = Kemerataan jenis                          

                        H' = indeks keanekaragaman Shannon

                        S = jumlah jenis.

 

            Melengkapi evaluasi struktur komunitas yang telah diuraikan, juga dilakukan perhitungan nilai kerapatan, kerapatan relatif, dominasi, dominasi relatif, frekuensi, dan frukensi relatif, dan nilai penting mengikuti cara seperti yang dikemukakan Snedaker dan Snedaker (1984):

1) Kerapatan :                       K    =   Jumlah individu/Luas contoh

2) Kerapatan relatif : Kr       =      (Kerapatan suatu jenis/Kerapatan total) x 100%

3) Dominasi :                         D     =  Jumlah basal area/Luas contoh

4) Dominasi relatif :                Dr    =  (Dominasi suatu jenis/Dominasi total) x 100%

 

 

                                                            Jumlah plot ditemukannya suatu jenis     

5) Frekuensi :                        F      =  —————————————————

                                                                      Jumlah seluruh plot

6) Frekuensi relatif :    Fr        =      (Frekuensi suatu jenis/Frekuensi total) x 100%

7) Nilai penting :                    NP  =  Kr + Dr + Fr

 

Penilaian Ekonomi

ML =        Dimana :      ML      = Total manfaat langsung;                     

                                                MLi      = Manfaat langsung jenis I

 

Model observasinya dapat ditulis sebagai berikut :

lnY = b0 + b1lnX1 + b2lnX2 + b3lnX3 + b4lnX4 + b5lnX5 + e

 

di mana :        Y   = Kayu bakar yang diminta (m3)

                     X1  = Biaya pengadaan (Rp/m3)

                     X2  = Pendapatan rumahtangga (Rp)

                     X3  = Umur kepala rumahtangga (th)

                     X4  = Pendidikan (th)

                     X5  = Jumlah anggota rumahtangga (orang)

                     b0   = Intersep (titik perpotongan dengan sumbu Y)

            b1,…, b5 = Parameter yang diduga dari data;    dan  e = Error observasi.

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Tabel 3. Karakteristik Sosial Ekonomi Rumahtangga Pengguna Kayu Bakar

No.

Keterangan

Rata-rata

Maksimum

Minimum

1.

Kayu bakar (m3)

8.5184

18.7200

3.1200

2.

Harga          (Rp/m3)

65526.3158

144000.0000

24000.0000

3.

Pendapatan (Rp/th/Rt)

3025663.1579

9600000.0000

1200000.0000

4.

Umur           (th)

41.0000

67.0000

27.0000

5.

Pendidikan   (th)

6.4737

9.0000

6.0000

6.

Jumlah anggota Rt (orang)

4.2000

10.0000

2.0000

Sumber : Hasil Analisis Data Primer (2001)

 

 

 

Tabel 4.  Taksonomi spesies mangrove

Famili

Spesies

Nama Lokal

Avicenniaceae

Avicennia marina

Api-api

Rhizophoraceae

 

Bruguiera cylindrica

Bruguiera gymnorrhiza

Rhizhopora apiculata

Rhizhopora mucronata

Rhizhopora stylosa

Ting putih

Makurung laut

Lolaro merah

Lolaro

Lolaro putih

 

 

Tabel 5.  Distribusi Spesies Mangrove

NO.

SPESIES

St. I

(P. Kinabuhutan)

St. II

(Kp. Talise)

St. III

(Kp. Tambun)

1.

Avicennia marina

-

-

2.

Bruguiera cylindrica

-

-

3.

Bruguiera gymnorrhiza

-

-

4.

Rhizhopora apiculata

5.

Rhizhopora mucronata