© 2002  Jupiter Sitorus Pane                                                                  Posted: 18 December, 2002

Makalah Falsafah Sains (PPs 702)

Program Pasca Sarjana / S3

Institut Pertanian Bogor

December 2002

 

Dosen:

Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)

Prof Dr Ir Zahrial Coto

Dr Bambang Purwantara

 

 

SIAPKAH KITA MEMASUKI ERA ENERGI NUKLIR ?

 

 

Oleh :

 

Jupiter Sitorus Pane

NRP. P026014061

 

E-mail : jupiter_pane@msn.com

 

ABSTRAK

 

SIAPKAH KITA MEMASUKI ERA ENERGI NUKLIR? Dilema antara kebutuhan akan energi secara nasional untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dengan kekuatiran masyarakat akan bahaya nuklir membuat keputusan untuk memasuki era energi nuklir di Indonesia selalu mendapat tantangan.  Dalam makalah ini diuraikan isu penting yang berkaitan dengan  keselamatan reaktor, pengelolaan limbah, dan dampak radiasi terhadap lingkungan dengan tujuan agar pembaca dapat memahami isu-isu tersebut dengan baik dan mempertimbangkannya secara benar dalam rangka mendukung penyediaan energi nasional yang berkelanjutan.

 

 

1. PENDAHULUAN

 

           

            Krisis energi yang pernah terjadi akibat embargo minyak bumi oleh negara-negara Timur Tengah pada tahun 1973 yang diikuti oleh melonjaknya harga minyak bumi OPEC telah menimbulkan kebingungan yang cukup menggelisahkan dunia. Kejadian ini telah menyadarkan masyarakat dunia untuk membatasi penggunaan minyak bumi dan memunculkan isu yang lebih rumit yaitu bagaimana masa depan penyediaan energi dunia untuk waktu yang akan datang.  Itulah sebabnya muncul pemikiran untuk mencari sebanyak mungkin sumber energi alternatif dunia, sehingga ketergantungan terhadap minyak bumi mulai dapat dikurangi. Usaha ini antara lain dilakukan dengan mengembangkan sumber–sumber energi alternatif seperti energi matahari, angin, biomassa, tenaga panas bumi, batubara, tenaga air, dan nuklir [Spurgeon, 1987].

            Secara tradisional pertimbangan terhadap penggunaan energi umumnya dilakukan dengan melihat harga yang termurah.  Namun setelah munculnya kesadaran masyarakat dunia untuk suatu bentuk dunia yang bersih lingkungan dan terciptanya pembangunan yang berkelanjutan  (Sustainable Development) maka faktor harga murah saja sudah tidak menjadi popular lagi.  Perhatian terhadap akibat kerusakan yang ditimbulkan suatu kegiatan manusia sudah perlu diperhitungkan dan diperkirakan sebagai biaya [Hans Blix, 1990].    Sebagai contoh,  konferensi Toronto, Kanada merekomendasikan untuk mengurangi emisi CO2 dunia  sebesar 4000 juta ton   pada Tahun 2005.

            Penggunaan teknologi nuklir sebagai salah satu sumber energi bukanlah merupakan hal yang baru.  Teknologi ini sudah banyak dipakai di Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Perancis, dan lain-lain. Tabel 1 menunjukkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di dunia. Perancis sendiri menggunakan 76.4 % dari sumber energinya berasal dari Energi Nuklir.  Secara keseluruhan 15% dari pembangkit listrik tenaga nuklir adalah dari tenaga nuklir. Hal ini berarti teknologi nuklir telah teruji dapat digunakan sebagai sumber penghasil tenaga listrik yang handal dan aman.

            Namun untung tidak dapat diraih malang tidak dapat ditolak, kejadian kecelakaan Three Mile Island di Amerika dan Chernobyl di Rusia telah menjadi titik balik bagi perkembangan teknologi nuklir untuk listrik.  Banyak Negara mempertanyakan keandalan dan keamanan suatu instalasi pembangkit listrik nuklir ini.  Bukan saja mempertanyakan tapi juga membuat kebijakan untuk mengurangi penggunaan teknologi nuklirnya.

Yang menjadi permasalahan adalah apakah benar teknologi nuklir sudah sedemikian berbahayanya sehingga tidak layak dimanfaatkan untuk pembangkitan energi masa depan, khususnya di Indonesia?  Untuk menjawab permasalahan tersebut penulis memberanikan diri menulis makalah ini dengan dengan tujuan dapat

Tabel 1.  Negara-negara yang mengoperasikan dan sedang  membangun PLTN serta prosentase pasokan listriknya.

 

Negara

PLTN beroperasi

PLTN sedang dibangun

Pasokan listrik PLTN, % (TWh)

Banyak unit

Keluaran (Mwe)

Banyak unit

Keluaran (Mwe)

I. AMERIKA         UTARA

 

 

 

 

 

1. Amerika Serikat

104

97411

-

-

19,8

2. Kanada

14

9998

-

-

11,8

II. AMERIKA LATIN

 

 

 

 

 

3. Argentina

2

935

1

692

7,3

4. Meksiko

2

1360

-

-

3,9

5. Brasil

2

1855

-

-

1,4

III. EROPA BARAT

 

 

 

 

 

6. Belgia

7

5712

-

-

56,8

7. Perancis

59

63073

-

-

76,4

8. Jerman

19

21122

-

-

30,6

9. Spanyol

9

7512

-

-

27,6

10. Swedia

11

9432

-

-

39,0

11. Inggris

35

12968

-

-

21,9

12. Swiss

5

3192

-

-

35,5

13. Belanda

1

449

-

-

4,0

14. Finlandia

4

2656

-

-

32,1

IV. EROPA TIMUR

 

 

 

 

 

15. Ceko

5

2569

1

912

18,5

16. Slovakia

6

2408

2

776

53,4

17. Bulgaria

6

3538

-

-

45,0

18. Hungaria

4

1755

-

-

42,2

19. Rumania

1

650

1

650

10,9

20. Lithuania

2

2370

-

-

73,7

21. Fed. Rusia

29

19843

3

2825

14,9

22. Ukraina

13

11207

4

3800

47,3

23. Slovenia

1

676

-

-

37,4

24. Armenia

1

376

-

-

33,0

V. ASIA

 

 

 

 

 

25. Cina

3

2167

7

6420

1,2

26. India

14

2503

-

-

3,1

27. Iran

-

-

2

2111

-

28. Pakistan

2

425

-

-

1,7

29. Jepang

53

43491

4

3190

33,8

30. Korea Selatan

16

12990

4

3820

40,7

31. Taiwan

6

4884

2

2560

23,64

VI. AFRIKA

 

 

 

 

 

32. Afrika Selatan

2

1800

-

-

6,7

Total seluruh dunia

438