© 2002
Mamat Haris Suwanda
Posted: 2 December,
2002
Makalah Falsafah Sains (PPs 702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
November 2002
Dosen:
Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung
Jawab)
Prof Dr Ir Zahrial Coto
Dr Bambang Purwantara
ANALISIS EFISIENSI PENELITIAN
DAN DAMPAKNYA TERHADAP
EKONOMI NASIONAL
STUDI KASUS PADA TANAMAN
PERKEBUNAN
MAMAT HARIS SUWANDA
NIM.
P 026010241
E-mail:
mhs_endang@telkom.net
Analisis efisiensi penelitian ini bertujuan memperoleh informasi tentang
efisiensi penelitian (kasus tanaman perkebunan) dan dampaknya terhadap ekonomi
nasional. Analisis efisiensi didasarkan pada indeks
efisiensi teknis dan indeks efisiensi ekonomi George W Norton (1993).
Secara umum tanaman perkebunan, mempunyai
peranan yang besar, terutama berkontribusi dalam penyediaan lapangan kerja, ekspor dan sumber pertumbuhan
ekonomi. Subsektor perkebunan menyerap
17,1 juta tenaga kerja pekebun atau 1,03 % dari angkatan kerja. Nilai produksi nasional beberapa komoditas
utama yaitu kelapa, jambu mete, tembakau, lada, cengkeh pada tahun 1999
mencapai Rp. 18.3 trilyun. Rata-rata
ekspor pertahun sekitar 3,9 milyar US $ atau 47,44 % dari ekpor sektor
pertanian. Pengalaman selama krisis
ekonomi tanaman industri bersama dengan tanaman perkebunan lainnya membuktikan
ketangguhannya, hal tersebut ditunjukkan oleh indikator pertumbuhan ekonomi
yang bernilai positip (yaitu 3,1 %), dibandingkan dengan sektor lain yang
mengalami pertumbuhan negatif.
Berdasarkan judgement peneliti, menunjukkan bahwa indeks efisiensi teknis penelitian tanaman perkebunan berkisar antara 103 sampai 132 %, artinya kegiatan penelitian akan mampu meningkatkan efisiensi teknis sebesar 3 sampai 32 %. Dari sembilan komoditas yang dianalisis menunjukkan bahwa nilai indeks efisiensi ekonomi tertinggi adalah penelitian tembakau, kapuk dan penelitian abaca.
1.1. Latar Belakang
Tanaman perkebunan terdiri atas sejumlah komoditas dengan keragaman yang besar. Ragam dan jenisnya sangat banyak, mulai dari tanaman semusim, tanaman setahun (annual crops) hingga tanaman berumur tahunan atau tanaman keras (perenial crops) Sebagian besar produk tanaman perkebunan berorientasi ekspor dan diperdagangkan dipasar internasional, sebagai sumber devisa. Disamping sebagai sumber devisa, beberapa komoditas tanaman perkebunan merupakan bahan baku sejumlah industri dalam negeri yang juga berorientasi ekspor dan banyak menyerap tenaga kerja. Dengan peranan seperti diatas, maka masalah kualitas dan kontinuitas penyediaan bahan baku menjadi sangat penting. Disamping memberikan benefit ekonomi, tidak bisa diabaikan tuntutan agar usaha perkebunan dapat memelihara bahkan meningkatkan kelestarian lingkungan.
Analisis efisiensi, dibatasi pada komoditas yang menjadi mandat
Puslitbang Perkebunan, yang sebagian
besar merupakan komoditas perkebunan rakyat. Dalam rencana
strategis (Puslitbangbun, 1999) terdapat 15 komoditas yang menjadi prioritas
nasional dan daerah. Aspek yang
dianalisis mencakup peranan dan prospek komoditas, permasalahan dalam
pengusahaan dan pengembangan, teknologi yang tersedia, teknologi yang
diperlukan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi, serta riset yang
diperlukan untuk menghasilkan teknologi yang diperlukan. Dengan sumberdaya yang terbatas, terutama
sumberdaya manusia dan sumberdaya keuangan, maka dalam rencana penelitian perlu disusun berdasarkan
prioritas menurut komoditas dan dan bidang masalah.
1.2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan menyusun
indeks efisiensi penelitian, sebagai dasar dalam menilai efisiensi dan dampak
penelitian terhadap ekonomi nasional.
2.1. Indeks
Efisiensi
Dalam menyusun indeks efisiensi mengacu pada George W Norton (1993). Indeks efisiensi dimaksud terdiri atas
indeks efisiensi teknis dan indeks efisiensi ekonomis. Indeks efisiensi teknis ditentukan oleh variable kemampuan teknologi
dalam meningkatkan produktivitas (increasing
productivity), peluang keberhasilan
penelitian (probability of success),
peluang teknologi diadopsi pengguna (adoption
rate), yang diformulasi kedalam
fungsi sebagai berikut :
IET = f
(IP, PS, AR)
dimana : IET = indeks efisiensi
teknis
IP = kemampuan teknologi meningkatkan produktivitas (%)
PS = peluang keberhasilan penelitian (%)
AR =
peluang teknologi diadopsi pengguna (%)
Selanjutnya indeks efisiensi ekonomi George W Norton (1993), diformulasi
kedalam model sebagai berikut :
dimana : IEE = indeks efisiensi
ekonomi
VP = nilai produksi nasional (Rp)
IP = kemampuan
teknologi dalam meningkatkan produktivitas (%)
PS = peluang keberhasilan
penelitian (%)
AR = peluang teknologi
diadopsi oleh pengguna (%)
ET = indeks atau target
perluasan areal (%)
Data VP dan ET diperoleh dari data sekunder (VP terdapat dalam data base) yang harus selalu diperbaharui. Sedangkan IP, PS dan AR bersumber dari data primer hasil validasi lapangan. Kemampuan teknologi dalam meningkatkan produktivitas (IP) dan peluang diadopsi oleh pengguna (AR) memerlukan validasi yang intensif, sehingga validasi perlu pengulangan dan kontribusi berbagai aspek atau setiap bidang penelitian perlu dievaluasi.
2.2. Sumber Data
Data
peranan dan prospek komoditas tanaman perkebunan sesuai perkembangan harus
selalu diperbaharui. Untuk
memperbaharui data tersebut, didasarkan pada data sekunder yang diperoleh dari
Badan Pusat Statistik, Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Departemen
Perindustrian dan Perdagangan, Bank Indonesia, International Trade Commodity, dan instansi lainnya. Data tentang permasalahan dalam
pengembangan komoditas, alternatif pemecahan masalah serta teknologi yang
tersedia dan teknologi yang diperlukan diperoleh dari Ditjenbun, UPT lingkup
Puslitbang Perkebunan dan institusi lain yang terkait.
Untuk
mengestimasi efisiensi penelitian didasarkan pada data yang dikumpulkan dalam
dua tahap, yaitu : (1) Data yang didasarkan pada judgement peneliti yang
bersangkutan, terutama untuk nilai indeks efisiensi teknis, (2) Data hasil validasi dengan institusi atau
petani terkait. Alternatif lokasi
untuk memvalidasi efisiensi penelitian dan pengembangan tanaman perkebunan,
direncanakan dipilih dari 52 kegiatan penelitian Balai/Loka Penelitian lingkup
Puslitbang Perkebunan, yang merupakan on
farm research selama periode 1990 –
2000.