ã 2002
Semuel Laimeheriwa Posted 23 November, 2002
Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702)
Program Pasca Sarjana / S3
Institut
Pertanian Bogor
November 2002
Dosen :
Prof Dr.
Ir. Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
Prof Dr
Zahrial Coto
Dr Bambang
Purwantara
oleh :
E-mail : Semmy_l@yahoo.com
ABSTRACT
This paper explains the
climatic approach in agricultural commodities development, especially in
central areas of the plant production of the Maluku Province. There are some
climatic types in Maluku based on rainfall variability from one to another
areas, including air temperature due to the variability on altitudes. For agricultural development, the Maluku
Province can be devided qualitatively in three climate regions, namely: (1) wet
climate (rainfall ≥ 2000 mm per year), (2) low temperature (> 700 m
above sea level), and (3) dry climate (rainfall < 2000 mm per year). According to Oldeman climatic classification
system, there are 11 agroclimatic zones in Maluku (B1, B2,
C1, C2, C3, D1, D2, D3,
E2, E3 and E4); 5 climatic types according to
Schmidth – Fergusson system (A, B, C, D, and E) ; while 3 climatic types based
on Koppen classification system (Af, Am dan Aw). The growing season in this
province tend to be varieted; from very short period (3 – 4 month) in Wetar and
Kisar islands, to very long period (12 month = along year) on some areas in
Ceram island. Selection of central
areas for particular plants production in Maluku province now, generally meets
the climatic suitability requirement.
Nevertheless, there are several areas or particular plants, need to be
considered to reasessed their climatic suitability, for example reassessment of
nutmeg plant in Tehoru, cashew in Kei Kecil areas, fruits (mango and citrus) in
Taniwel and Kisar orange in Babar islands.
In order to achieve a better yield in climatic/weather analysis need the
complete and continue data. Therefore, a complete climatic station network
should be build up in Maluku province, particularly in the areas of production
centre.
Key
words : agricultural commodity, climatic
approach, the areas of production centre, climatic suitability.
ABSTRAK
Tulisan ini mencoba
mengkaji pendekatan iklim dalam pengembangan komoditas pertanian, terutama pada
kawasan sentra produksi tanaman di Propinsi Maluku. Terdapat berbagai tipe
iklim di Maluku akibat adanya keragaman curah hujan antar wilayah dan suhu
udara berdasarkan ketinggian tempat di atas muka laut. Untuk pertanian, secara kualitatif Propinsi
Maluku dibedakan atas tiga wilayah iklim, yaitu (1) iklim basah (curah hujan
≥ 2000 mm/tahun), (2) suhu rendah (> 700 m diatas muka laut), dan (3)
iklim kering (curah hujan < 2000 mm/tahun).
Berdasarkan sistem klasifikasi iklim Oldeman dijumpai 11 wilayah
agroklimat di Maluku (B1, B2, C1, C2,
C3, D1, D2, D3, E2, E3
dan E4); klasifikasi iklim Schimdth–Fergusson dijumpai 5 tipe iklim
(A, B, C, D, dan E); dan menurut klasifikasi iklim Koppen terdapat 3 tipe iklim
(Af, Am dan Aw). Musim tanam di wilayah
ini sangat beragam mulai dari yang paling pendek (3 – 4 bulan) di pulau Wetar
dan Kisar hingga 12 bulan (sepanjang tahun) pada beberapa daerah di pulau
Seram. Penentuan kawasan sentra
produksi tanaman tertentu di Provinsi Maluku untuk saat ini secara umum
memenuhi persyaratan kesesuaian iklim.
Namun ada beberapa daerah atau tanaman tertentu perlu dipertimbangkan
untuk dikaji lagi kesesuaian iklimnya, yaitu tanaman pala di Tehoru, jambu mete
di Kei Kecil, buahan (jeruk dan mangga) di Taniwel dan Jeruk Kisar di
pulau-pulau Babar. Untuk mendapatkan
hasil yang baik dalam analisis iklim/cuaca dibutuhkan data yang lengkap dan
berlanjut/kontinu. Untuk itu, perlu
dibangun jaringan stasiun iklim lengkap di Provinsi Maluku terutama pada
kawasan-kawasan sentra produksi.
Kata
kunci : komoditi pertanian, pendekatan
iklim, kawasan sentra produksi, kesesuaian iklim
Suatu analisis perencanaan
pertanian tidak akan terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya,
diantaranya yang utama adalah lingkungan fisik (tanah dan iklim). Dalam analisis awal faktor tanah dipertimbangkan
sebagai faktor yang relatif dapat dimodifikasi, sedangkan faktor iklim dalam
skala meso hingga makro merupakan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Untuk itu dalam suatu perencanaan pertanian,
analisis iklim dan karakterisasi sumberdaya iklim merupakan hal penting yang
mendukung keberhasilan perencanaan tersebut.
Unsur iklim mempengaruhi
hampir semua aspek kegiatan pertanian baik melalui perencanaan jangka panjang,
jangka pendek maupun sehari-hari.
Kebutuhan akan informasi iklim yang tepat guna semakin dirasakan
strategis dalam menunjang program pertanian.
Oleh karena itu, usaha yang paling bijaksana adalah menyesuaikan pola
pertanian dan jenis tanaman/komoditas pertanian yang diusahakan dengan pola
iklim setempat. Penyesuaian tersebut
harus didasarkan kepada identifikasi, pemahaman atau interpretasi yang tepat
terhadap iklim pada setiap agroekosistem dan lokasi spesifik atau lahan. Dengan demikian dalam memilah-milah wilayah
dengan kondisi iklim yang sesuai untuk komoditas pertanian tertentu atau
komoditas pertanian untuk wilayah tertentu diperlukan identifikasi dan
interpretasi iklim yang lebih komprehensif.
Salah satu kebijakan
pembangunan di bidang pertanian yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Maluku
adalah dengan ditetapkannya berbagai kawasan sentra produksi komoditas
pertanian. Penetapan ini didasarkan
atas berbagai pertimbangan strategis sesuai dengan kondisi biofisik wilayah,
sosial ekonomi dan budaya masyarakat.
Namun, terdapat indikasi bahwa kajian iklim dalam penetapan berbagai
kawasan sentra produksi tersebut belum memadai (komprehensif).
Tulisan ini mencoba untuk
mengkaji pendekatan iklim dalam pengembangan komoditi pertanian, terutama pada
kawasan-kawasan sentra produksi di Propinsi Maluku. Beberapa aspek iklim yang dikaji adalah meliputi : iklim dan
agroklimat Maluku, kesesuaian iklim untuk tanaman dan analisis mikro kondisi
iklim.
2.1. Sirkulasi dan Musim
Iklim kepulauan Maluku
sangat dipengaruhi oleh sirkulasi angin musim secara latitudal yang bergerak
dari dan ke arah ekuator. Disamping
itu, dengan adanya pegunungan pada beberapa pulau, angin lokal turut
mempengaruhi curah dan distribusi hujan sebagai penciri utama keragaman iklim
antar daerah di wilayah ini. Daerah-daerah yang dekat dengan khatulistiwa
(Maluku Tengah) umumnya mendapatkan curah hujan yang lebih banyak dibandingkan
dengan daerah-daerah di bagian selatan propinsi ini (Maluku Tenggara) atau
semakin ke selatan curah hujannya semakin rendah. Adanya keragaman iklim (curah hujan) tersebut erat kaitannya
dengan posisi geogarfis dan fisiografis wilayah yang mempengaruhi sirkulasi
udara global dan regional (angin musim dan angin lokal).
Selama periode Oktober –
Maret, angin Pasat Timur Laut dari Lautan Pasifik yang lembab dan panas bertiup
secara dominan dan konvergen terus menuju ke selatan khatulistiwa diantaranya
melewati Laut Banda yang cukup luas.
Karena adanya halangan topografi/pegunungan Pulau Seram dan Buru
menyebabkan wilayah-wilayah bagian utara (daerah hadap angin) dari kedua pulau
tersebut mendapatkan curah hujan yang cukup tinggi, dan juga bagian barat dan
timur Pulau Seram. Disamping itu, angin
tersebut yang membawa massa uap air dari Laut Banda dan akan tercurah sebagai hujan
di daerah Maluku Tenggara. Selama periode
ini berlangsung musim hujan pada daerah-daerah tersebut, sedangkan
wilayah-wilayah lain seperti Pulau Ambon, Lease, dan bagian selatan Pulau Seram
dan Buru mendapatkan hujan yang rendah atau berlangsung musim kemarau.
Selama periode April –
September sirkulasi udara didominasi oleh angin Passat Tenggara yang dingin dan
relatif kering dari Australia. Angin yang kering ini menyebabkan wilayah Maluku
Tenggara kurang mendapatkan hujan atau berlangsung musim kemarau. Pada saat angin ini terus bertiup ke utara
melewati Laut Banda, sejumlah uap air terangkut dan akan jatuh sebagai hujan di
bagian selatan Pulau Seram dan Buru, Lease dan Ambon. Selama periode ini berlangsung musim hujan di daerah-daerah
tersebut, sedangkan bagian utara Pulau Seram dan Buru serta bagian barat dan
timur Pulau Seram mengalami musim kemarau atau mendapatkan curah hujan yang
kurang.
Pengaruh barisan pegunungan/topografi wilayah
menyebabkan beberapa daerah pegunungan di Pulau Seram seperti Manusela, Riring
dan Hunitetu memiliki musim hujan yang panjang dan musim kering yang pendek
(Laimeheriwa, 1998).
2.2. Curah Hujan dan Tipe Iklim
Dengan menggunakan data yang
tersedia pada berbagai stasiun iklim yang ada di Maluku dan pustaka lainnya,
dilakukan analisis untuk menggambarkan karakteristik sumberdaya iklim wilayah
Propinsi Maluku yang dirinci per gugus pulau yang ada seperti yang disajikan
pada Tabel 1 dan 2.
Dari tabel tersebut terlihat
bahwa keragaman iklim terutama curah hujan antar daerah cukup besar mulai dari
curah hujan yang paling kering di Ilwaki (Pulau Wetar) yang hanya mendapatkan
curah hujan 901 mm/tahun sampai dengan daerah yang paling banyak hujannya (4112
mm/tahun) di Tehoru (Pulau Seram).
Adanya
keragaman curah hujan antar wilayah dan suhu udara berdasarkan ketinggian
tempat menyebabkan terdapat berbagai tipe/kelas iklim di Maluku. Berdasarkan Klasifikasi Koppen diperoleh 3 tipe
iklim (Am, Af, dan Aw). Tipe iklim Am dijumpai pada daerah-daerah yang
mempunyai curah hujan tahunan lebih besar dari 2000 mm dan hanya terdapat satu
atau dua bulan kering (bulan dengan curah hujan < 60 mm) seperti di daerah
Kei Besar dan Romang. Tipe iklim Aw
dijumpai di sebagian besar wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat, dan Buru
Utara, sedangkan daerah lainnya bertipe iklim Af yang lebih dominan di wilayah
Maluku. Selanjutnya, berdasarkan klasifikasi iklim Oldeman, di Maluku terdapat
11 tipe agroklimat, yaitu : B1 di daerah Hunitetu, Tehoru, Werinama, Manusela,
Riring, Banda; B2 di daerah Kei Besar dan pp. Aru; C1 di daerah Buru Selatan, Seram
Barat, Amahai, Bula, Taniwel, pulau Ambon, dan kep. Lease; C2 di daerah Seram
Utara; C3 di daerah Kei Kecil, dan kep.
Tanimbar; D1 di daerah TNS dan Romang;
D2 di daerah Buru Utara Barat, Kairatu, dan Seram Timur; D3 di daerah pp.
Babar; E2 di daerah Moa; E3 di daerah Buru Utara Timur, Serwaru dan Kisar; dan
E4 di daerah Ilwaki-Wetar, sedangkan
berdasarkan klasifikasi Schmidth dan Fergusson dijumpai 5 tipe iklim, yaitu
tipe A di daerah Buru Selatan, Seram Barat, Hunitetu, Amahai, TNS, Tehoru, Werinama,
Bula, Manusela, Taniwel, Riring, pulau Ambon, kep. Lease dan Banda, Kei Besar
dan kep. Aru; tipe B di daerah Buru Utara Barat, Kairatu, Seram Timur, Seram
Utara, Kei Kecil dan Romang; tipe C di daerah Buru Utara Timur, kep. Tanimbar,
pp. Babar, dan Moa; tipe D di daerah Serwaru dan Kisar; serta tipe E di
Ilwaki-Wetar (lihat Tabel 1).
Adanya tipe iklim (Tabel 1)
dan periode tumbuh (Tabel 2) antar daerah di Maluku yang beragam
mengindikasikan bahwa wilayah ini berpotensi besar dalam pengembangan berbagai
komoditas pertanian.
III.
PENGEMBANGAN KOMODITAS PERTANIAN DI MALUKU BERDASARKAN PENDEKATAN IKLIM
3.1. Kesesuaian Iklim Untuk
Tanaman
Setiap tanaman (komoditi)
membutuhkan syarat tumbuh serta mempunyai daya adaptasi (kisaran) dan tanggap
tertentu terhadap lingkungan. Di
lapangan kondisi tersebut merupakan interaksi antara potensi agroekologi
(alamiah) dengan paket teknologi sistem usahatani dan infrastruktur.
Irsal et al. (1991) mengemukakan konsepsi dasar dalam pewilayahan komdoti
secara bertahap, diawali dengan studi agroekologi utama yang hanya
mempertimbangkan faktor biofisis, yaitu iklim, tanah dan topofisiografi ;
faktor lingkungan biologis, sosial ekonomi, kebijakan politik, dan faktor
penunjang lainnya dipertimbangkan pada tahap berikutnya.
Tabel
1. Kondisi dan Tipe Iklim di Propinsi
Maluku (dirinci per Gugus Pulau)
|
No. |
Gugus Pulau |
Kecamatan |
Lokasi Stasiun (m.dpl) |
STP |
CHt |
T |
ETp |
Tipe/Kelas Iklim |
||
|
Od |
Kp |
ScF |
||||||||
|
I |
Pulau Buru |
Buru Utara Barat Buru Utara Timur Buru Selatan |
Kayeli (< 20) Namlea (< 20) Tefu (6) |
37 34 32 |
1871 1348 2914 |
26,5 26,5 26,4 |
1590 1599 1539 |
D2 E3 C1 |
Aw Aw Af |
B C A |
|
|
Pulau Seram |
Seram Barat Kairatu Seram Selatan TNS Tehoru Werinama Seram Timur Bula Seram Utara Taniwel |
Piru (7) Kairatu (< 20) Hunitetu (480) Amahai (< 20) Waipia Tehoru (< 20) Werinama (<20) Geser (3) Bula (< 20) Wahai (< 20) Manusela (1000) Taniwel (< 20) Riring (700) |
27 19 24 65 6 24 6 25 33 68 23 12 27 |
2677 1729 2969 2768 2103 4112 2728 1916 2128 2171 2847 2340 2996 |
26,1 26,1 23,1 26,0 26,0 26,2 26,3 26,6 26,5 26,4 20,2 26,1 21,8 |
1490 1501 1140 1474 1479 1496 1508 1601 1543 1575 813 1490 994 |
C1 D2 B1 C1 C1 B1 B1 D2 C1 C2 B1 C1 B1 |
Af Af Af Af Af Af Af Af Af Af Af Af Af |
A B A A A A A B A B A A A |
|
|
Pulau Ambon |
Teluk Ambon
Baguala Sirimau Leihitu |
Laha (5) Amboina (1) Soya (170) Hila (< 20) |
14 70 6 34 |
3499 3460 3251 2299 |
26,2 26,4 26,2 26,3 |
1519 1525 1520 1571 |
C1 C1 C1 C1 |
Af Af Af Af |
A A A A |
|
|
Kep. Lease |
Saparua |
Saparua (75) |
68 |
3639 |
26,1 |
1525 |
C1 |
Af |
A |
|
|
Kep. Banda |
Banda |
Bnda (< 20) |
69 |
2592 |
26,0 |
1513 | |||