© 2003 Program Pasca Sarjana IPB Posted
29 October 2003
Makalah Kelompok 10 (Materi diskusi kelas)
Pengantar Ke Falsafah Sains (PPS702)
Program Pasca
Sarjana / S3
Institut Pertanian Bogor
Oktober 2003
Dosen:
Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (penanggung
jawab)
Prof. Dr. Ir.
Zahrial Coto
PENGEMBANGAN KOTA YANG HUMANIS DAN BERKELANJUTAN Oleh:
1. Arie Chandra Setiawan G 261030041 AGK2. Abd. Qadim P 062030101 PSL3. Eddi Husni C 561030091 TKL (Ketua) 4. Frida Purwanti P 062030121 PSL5. Marganof P 062030111 PSL6. Nanti Kasih P 062030141 PSL 7. Nolli Barri G 261030031 AGK8. Seftifitri C 561024021 TKL9. Tidar Hadi Purnomo A 161020111 EPN I. PENDAHULUAN Masyarakat perkotaan, dimana sejumlah besar penduduk hidup bersama secara berdesakan, menunjukkan adanya langkah baru dan mendasar di dalam evolusi sosial manusia. Semakin meluasnya kota dan semakin tingginya angka kepadatan penduduk menciptakan berbagai permasalahan kota. Manajemen kota sehari-hari merupakan pekerjaan yang lebih rumit, dengan sebagian besar upaya ditujukan untuk menyediakan berbagai pelayanan dasar kota yang penduduknya meningkat dengan cepat. Semakin besar ukuran kota, semakin banyak orang terkena dampak apabila penyediaan pelayanan mengalami kekurangan atau kegagalan; pengaruh kegagalan tersebut dapat menyebabkan berbagai kekacauan, saling berebut untuk mendapatkan pelayanan yang sama, dan biasanya terjadi pada daerah-daerah yang penghasilan penduduknya rendah. Angka kriminalitas rata-rata lebih tinggi di kota-kota besar. Dan jurang pemisah antara tingkat kehidupan yang kaya dan yang miskin menjadi lebih nyata. Pembenahan kota yang kurang memadai atau agak dilalaikan selama ini banyak menimbulkan gejolak sosial. Kota seolah kebingunan menghadapi berbagai tekanan dan tantangan baru. Kota-kota di Indonesia tidak mempunyai cukup bangunan perkantoran, pegawai, jenis dan jumlah sekolah atau pendidikan termasuk guru-guru, perumahan penduduk, jalan (baik kualitas maupun kuantitasnya), sarana angkutan umum, air minum, listrik, telepon, pertamanan, rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya, tempat hiburan, tempat pemakaman dan berbagai sarana lainnya. Kota seakan-akan belum siap menerima dan menampung perkembangan politik, cita-cita kemerdekaan, ekonomi baru seperti yang hendak dilaksanakan dalam era pembangunan dan globalisasi ini. Sementara kekurangan prasarana dan sarana tersebut belum sempat dipenuhi, telah muncul pula berbagai masalah baru seperti peningkatan populasi, masalah urbanisasi, kenakalan remaja, narkotika, krisis moral dan lainnya. Dan yang paling krusial pada saat ini adalah masalah kemiskinan penduduk perkotaan, perkampungan kumuh, sanitasi dan lingkungan hidup perkotaan, sistem transportasi umum serta pencemaran air, udara dan tanah di perkotaan. Pembangunan kota yang berlangsung dengan menggusur warga jelas menimbulkan kekerasan, kecemburuan sosial dan keberingasan. Kelompok masyarakat perkotaan yang tunawisma, tunakarya dan tunaharapan, sangat mudah disulut dan terbakar emosinya tanpa kendali. Dalam jangka panjang kondisi ini akan berdampak negatif dalam wujud kekacauan suasana, rasa tidak aman penanam modal, terhambatnya lalulintas, dan ketidakpastian masa depan ekonomi perkotaan. Kehidupan di kota mempunyai dua sisi yang saling bertolak belakang, di satu pihak merupakan sorga bagi mereka yang punya uang dan kesempatan, dipihak lain merupakan neraka yang nyata dan langsung dirasakan pahit dan getir bagi mereka yang miskin dan tidak punya kesempatan. Kota merupakan tempat kemudahan hidup dan modernisasi, serta pusat kemegahan, tetapi dalam waktu dan ruang yang sama merupakan pusat kebengisan dan kepahitan hidup (Marbun;1996). Dari kondisi ini, semakin hari kualitas hidup dan kehidupan di kota menjadi terdegradasi, kenyamanan dan kemanan menjadi berkurang. Pembangunan kota di masa depan pasti akan lebih mahal dan lebih sulit lagi. Apakah para pemimpin kota dan masyarakat pada umumnya telah siap menghadapi tantangan masalah kota yang semakin berat ? Sudah sejak dahulu berbagai ramalan, prediksi dan antisipasi dilakukan terhadap perkembangan kota (polis). Mulai dari awal terbentuknya kota sampai menjadi metropolis (kota raya), megalopolis (kota mega), ecumenopolis (kota dunia), dan bila tidak hati-hati melakukan pengelolaan akan berakhir dengan necropolis (kota mayat). Penanganan permasalahan kota merupakan tugas kita semua, karena menyangkut kepentingan kita bersama, dan untuk negara berkembang seperti Indonesia, jumlah kota cenderung bertambah dan semakin membesar dari hari ke hari dengan berbagai persoalannya. Dimasa depan, kita semua tentunya mengharapkan kota-kota di Indonesia baik yang telah berkembang maupun yang sedang berkembang tidak terjebak dalam kekalutan, kesengsaraan, kemiskinan dan slum, akan tetapi kota-kota di Indonesia merupakan kota impian yang penghuninya dapat hidup aman, nyaman, damai, manusiawi, lestari dan berkelanjutan. Dalam makalah ini akan di bahas falsafah tentang kota yang manusiawi (humanopolis) dan berkelanjutan (sustainable). II. DEFINISI KOTA, KLASIFIKASI KOTA DAN KOTA BERKELANJUTAN 2.1. Definisi Kota Kota adalah kelompok orang-orang dalam jumlah tertentu, hidup dan bertempat tinggal bersama dalam satu wilayah geografis tertentu, berpola hubungan rasional, ekonomi dan individualistis. Memang diakui definisi tentang kota tidak selalu tepat, dan tergantung dari fokus pendekatan. Pendekatan geografis-demografis melihat kota sebagai tempat pemusatan penduduk, sedangkan pendekatan ekonomis melihat kota sebagai pusat pertemuan lalu lintas ekonomi dan perdagangan dan kegiatan industri serta tempat perputaran uang yang bergerak dengan cepat dan dalam volume yang tinggi. Fungsi dasar kota secara ekonomi adalah untuk menciptakan penghasilan yang cukup melalui produksi barang dan jasa, untuk mendukung lehidupan penduduknya dan untuk keberlansungan kota itu sendiri. Kemampuan suatu kota menyediakan lapangan kerja dan peluang usaha, maka akan terbentuk multiplier effect barang dan jasa yang dibeli dengan upah dan gaji yang didapatkan oleh para pekerja di kota. Pendekatan dari segi sosio-antropologis melihat hubungan antar manusia yang tinggal di kota sudah renggang dan heterogen, egois dan tidak lagi seperti keadaan masyarakat yang terdapat di desa yang biasanya masih akrab dan homogen. Jika dilihat secara fisik, kota adalah area terbangun yang terletak saling berdekatan, meluas dari pusatnya hingga ke daerah pinggiran, yang terdiri dari bangunan-bangunan permukiman, komersial, industri, pemerintahan, prasarana transportasi, dan lain-lain. 2.2. Klasifikasi dan Fungsi Kota Doxiadis dalam Jayadinata (1992) mengemukakan mengenai pembagian kota berdasarkan jumlah penduduk, sebagai berikut : Tabel 1. Perkotaan Menurut Jumlah Penduduk Oleh Doxiadis
Kelompok |
Jumlah Penduduk |
|
1. |
Dwelling group |
40 |
2. |
Small neighborhood | |