© 2003 Ervizal Amzu                                                         Posted  17 November  2003

Makalah Individu

Pengantar Falsafah Sains (PPS702)

Program Pascasarjana / S3

Institut Pertanian Bogor

Oktober  2003

 

Dosen:

Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (penanggung jawab)

Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto

 

 

 

PENGEMBANGAN TUMBUHAN OBAT BERBASIS KONSEP BIOREGIONAL (APLIKASI AZAS KEUNIKAN SISTEM KEDIRIAN)

(Contoh Kasus Taman Nasional Meru Betiri, di Jawa Timur)

 

 

Oleh:

 

Ervizal AMZU

E061030021/IPK

 

 

 

 

 

Pendahuluan

 

Pengelolaan bioregional menawarkan suatu bentuk pengelolaan ruang (berikut semua isinya) yang lebih integratif.  Bioregion” merupakan unit perencanaan ruang dalam pengelolaan sumberdaya alam; yang tidak ditentukan oleh batasan politik dan administratif tetapi dibatasi oleh batasan geografik, komunitas manusia serta sistem ekologi  Dalam suatu cakupan bioregion, terdapat mozaik lahan dengan fungsi konservasi maupun budi daya yang terikat satu sama lain secara ekologis.  Pengelolaan bioregional, dengan demikian, merupakan pendekatan integratif dalam pengelolaan keseluruhan bentang alam yang terikat secara ekologis tersebut (Sumardja, 1997).  Secara ideal, pengelolaan bioregional menyandarkan dirinya pada tiga komponen yaitu:

q       Komponen ekologi yang terdiri atas kawasan-kawasan ekosistem alam yang saling berhubungan satu sama lain melalui koridor, baik habitat alami maupun semi alami

q       Komponen ekonomi yang mendukung usaha pendayagunaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dalam matriks kawasan budi daya, dengan pengembangan budidaya jenis-jenis unggulan setempat

q       Komponen sosial budaya yang dapat memfasilitasi partisipasi masyarakat lokal dalam perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya alam serta memberikan peluang bagi pemenuhan  kebutuhan sosial/budaya secara lintas generasi.

 

Kekayaan jenis tumbuhan obat yang terdapat di ekosistem alami di Indonesia berasal dari berbagai tipe ekosistem hutan yang telah berhasil diidentifikasi dan diinventarisasi tidak kurang dari 1845 jenis tumbuhan obat (Zuhud,1997).  Tidak kurang dari 400 etnis masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang erat dengan hutan dalam kehidupannya sehari-hari dan mereka memiliki pengetahuan tradisional yang tinggi dalam pemenfaatan tumbuhan obat.  Setiap kawasan ekosistem  alam sesungguhnya telah menyediakan keanekaragaman hayati tumbuhan dan hewan yang dapat mendukung kehidupan masyarakat sekitarnya dalam menyediakan materi biologi untuk bermacam ragam manfaat, berupa keanekaragaman jenis tumbuhan obat untuk mengobati berbagai macam penyakit, keanekaragaman bahan untuk pangan, dan lain-lain

 

            Pada masa yang lalu, komponen keanekaragaman hayati cenderung di pecah-pecah menurut bidang-bidang biologi dan ditelaah secara terpisah misalnya gen, populasi, jenis, komunitas dan ekosistem.  Alam sering dianggap sebagai hal yang terpisah dari kehidupan manusia, dan hal ini tercermin dalam konsep konservasinya. Sebagai contoh, jenis yang terancam, dilindungi di habitat alami aslinya, di daerah terlindung jauh dari campur tangan manusia.

            Sejak dekade terakhir ini, banyak pendapat dari kalangan ekologis yang mengemukakan bahwa keanekaragaman hayati hanya dapat dipahami dengan mempelajari setiap tingkatan beserta interaksinya. Pada saat yang bersamaan kemajuan di bidang ekologi, palaeobiologi dan konservasi biologi mempertanyakan arti sesungguhnya dari ekosistem alami. Hal ini mendorong untuk mengkaji lebih jauh, dan ada yang menyatakan bahwa sasaran pengelolaan ekologi seharusnya adalah untuk memaksimalkan kapasitas manusia (sosial, budaya, intelegensia dan agama)  untuk beradaptasi pada kondisi ekologis setempat yang terus berubah.

 

 

Menyusun Rencana Pengembangan

 

            Kriteria pemilihan lokasi pengembangan didasarkan kepada beberapa pertimbangan yaitu:  (1) potensi pengembangan tumbuhan obat, diindikasikan dengan besarnya potensi tumbuhan obat dan kayanya pengetahuan tradisional masyarakat akan pemanfaatan tumbuhan obat; (2) berkembangnya pasar simplisia/obat tradisional atau adanya perusahaan jamu di sekitar lokasi; (3) tingkat tekanan penduduk di sekitar kawasan hutan, diindikasikan dengan rusaknya kawasan/ terdegradasinya kawasan hutan di dalam/di sekitar kawasan; (4) kedekatan dengan pemukiman/enclave; (5) tersedianya lahan yang sesuai baik secara ekologis maupun aksesibilitas untuk pengembangan budidaya tumbuhan obat; (6) dan lain-lain. 

 

Sebagai contoh rekomendasi lokasi pengembangan  berdasarkan kriteria tersebut di sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Meru Betiri di  Jember, Jawa Timur adalah sebagai berikut :

 
1.  Potensi Tumbuhan Obat Taman Nasional Meru Betiri

 

            Taman Nasional Meru Betiri mengalami tekanan yang sangat besar berupa pengambilan bambu, tumbuhan obat, kayu Jati dan penyerobotan lahan, yang dilakukan oleh penduduk di sekitar kawasan.  Di Desa Andong Rejo, Kecamatan Tempur Rejo, Kabupaten Jember, serta Desa Sarongan di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi,  yang mempunyai tingkat aksesibilitas yang tinggi perlu mendapat prioritas. Di Desa Andong Rejo, Laboratorium Konservasi Tumbuhan, Fakultas Kehutanan, IPB bekerja sama dengan Latin, telah bekerja sama membuat program Proyek Percontohan Agrowanafarma dengan melibatkan masyarakat di zone rehabilitasi di Taman Nasional Meru Betiri.  Usaha ini dinilai berhasil,  oleh karena itu usaha ini perlu diperluas di seluruh Zona Rehabilitasi.  Luasan lahan di Zona Rehabilitasi, yang perlu direhabilitasi seluas 5000 ha,  tempat di mana sebagian besar tanaman Jati telah dijarah oleh penduduk lokal pada saat krisis ekonomi berlangsung (Zuhud, Siswoyo, Hikmat dan Sandra, 2000).

 

a. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat

Hasil identifikasi jenis-jenis tumbuhan sementara berdasarkan data sekunder yang berhasil dikumpulkan, di Taman Nasional Meru Betiri terdapat 355 jenis tumbuhan, terbagi ke dalam 92 famili.  Dari total jenis tumbuhan tersebut, sedangkan 291 jenis (81,7%) telah teridentifikasi mempunyai khasiat obat.  Jenis-jenis tumbuhan obat ini dapat dikelompokkan ke dalam 7 macam habitus, yaitu bambu, memanjat, herba, liana, perdu, semak dan pohon.  Jenis tumbuhan obat yang termasuk ke dalam habitus pohon mempunyai jumlah jenis yang lebih banyak dibandingkan habitus lainnya, yaitu sebanyak 142 jenis dan 47 famili (Zuhud dkk., 2000).      

 

 

2. Potensi Pasar

 

Untuk  mengetahui jenis-jenis simplisia tumbuhan obat dan produk jamu lokal yang dijual di pasar, telah dilakukan survey pasar pada tahun 1999 di berbagai  ibu kota kabupaten dan kecamatan, yaitu Malang, Jember dan Banyuwangi.  Dimana lokasi ini terkait dengan keberadaan taman nasional yang merupakan sebagai sumber plasma nutfah bioregional.

 

Malang

Produk Jamu

Beberapa produk jamu lokal yang diproduksi di Malang antara lain  diproduksi  secara home industry oleh Aliandra Wisma dan Perusahaan Jamu Srikandi.  Beberapa produk jamu lokal yang dijual di Malang seperti dapat dilihat didalam Tabel 1.

 

Tabel 1.  Produk jamu lokal yang diproduksi di Malang

No

Jenis Produk

Komposisi

Asal Produk

1

Manisan Kencur

Kaempferiae rhizoma, gula

Aliandra Wisma, Batu, Malang

 

 

 

 

2

Antik

Kumis kucing, meniran, mesoyi, sintok, jahe, kencur, ngokilo, gula

Aliandra Wisma, Batu, Malang

 

 

 

 

3

Norpid

Daun sembung, kumis kucing, akar saledri, kencur, doro putih,  bunga pala, gula

Aliandra Wisma, Batu, Malang

 

 

 

 

4

Masataru

Daun besaran, daun sendok, ngokilo

Aliandra Wisma, Batu, Malang

 

 

 

 

5

Raputri

Kaempferiae angustii rhizoma, Parameriae cortex, Lingustici bulbus, delima putih, jung rahab, kepuh, cabe jawa, gula

Aliandra Wisma, Batu, Malang

 

 

 

 

6

Kiat perkasa

Colae semen, paniculata tuber, eucrhestae semen, foenigraechi semen, gentianae radix, piper radix, alyxial cortex.

Aliandra Wisma, Batu, Malang

 

 

 

 

7

Norten

Blumea folium (daun Sembung), centelae herba, rauvolfia radix, kencur, temu hitam, meniran, bunga pala, gula

Aliandra Wisma, Batu, Malang

 

 

 

 

8

Ramping

Guazumae folium, murrayae folium, zingiberis purpurei rhizoma, temu hitam, lempuyang, kembang lawang, jung rahab, gula

Aliandra Wisma, Batu, Malang

 

 

 

 

9

Semangat

Retrofracti fructus, curcuma xanthorizae, parkiae semen, foeniculi fructus

Perusahaan Jamu Srikandi,

Sumpil, Malang

 

 

 

 

10

Tabarito

Fici deltoidae, retrofracti fructus, parameriae cortex, galae

Perusahaan Jamu Srikandi,

Sumpil, Malang

 

 

 

 

11

Ma'jun Semangat

Mel depuratum (madu), cubebae fructus, retrofracti fructus, foeniculi fructus

Perusahaan Jamu Srikandi,

Sumpil. Malang

Sumber : Zuhud dkk.(2000)

 

Jember

Produk Jamu

Dari hasil survey lapangan, di Jember tidak ada perusahaan yang memproduksi jamu,  tetapi hanya ada dua home industry, yaitu Kelompok TOGA Sari Hutani di Desa Curahnongko dan Kelompok TOGA Sumber Waras di Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo.  Kedua home industry ini merupakan binaan Fakultas Kehutanan IPB dan Lembaga Alam Tropika Indonesia serta Balai Taman Nasional Meru Betiri.

Beberapa jenis jamu/minuman tradisional yang diproduksi oleh kedua home industry di Jember, seperti dapat dilihat didalam Tabel 2.

 

Tabel 2.  Beberapa produk jamu lokal yang diproduksi di Jember

No

Jenis Produk

Komposisi

Asal Produk

1

Sari Singset

Kunir putih, bangle, kedawung, jati belanda, kemuning, lempuyang, gula

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

2

Sari Pepet

Kunci pepet, kunir putih, kunci delima putih, kayu ules, majaan, jungrahap

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

3

Kunci Sirih

Kunci, sirih, gula

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

4

Pasga Sari

Kapuk randu, pupus waru, petikan kebo, kapulaga, kencur

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

5

Cabe Puyang

Kunci pepet, kunir putih, kunci, delims putih, kayu ules, jungrahap

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

6

Madu Jahe

Madu, jahe, daun pandan, gula

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

7

Brotowali

Brotowali, temulawak, sambiloto, temu ireng, cabe jawa, dlingu

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

8

Instant Temulawak

Temulawak, patikim, rimpang ganyong, gula

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

9

ASI

Daun katuk, rimpang temulawak, rimpang kunir, gula

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

10

Rapet wangi

Temu kunci, sintok, ganthi, jati belanda, gula

Sari Hutani, Curahnongko, Tempurejo, Jember

 

 

 

 

11

Instan Kunci Sirih

Kunci, jahe, beluntas, sirih, kunci pepet, kencur

Sumber Waras, Andungrejo,

Tempurejo, Jember