© Hengky Sumisto Halim                                              Posted  30 November  2003

Makalah Individu

Pengantar Falsafah Sains (PPS702)

Program Pascasarjana / S3

Institut Pertanian Bogor

November  2003

 

Dosen:

Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (penanggung jawab)

Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto

 

 

 

strategi peningkatan pangsa pasar PT.TTR di pasar International

 

 

Oleh:

 

Hengky Sumisto Halim

062030091/PSL

E-mail: rieekiee@yahoo.com

 

 

PENDAHULUAN

 

 

 A.        Latar Belakang

Indonesia yang sedang dilanda krisis moneter tetap berusaha melaksanakan  pembangunan  disegala bidang yang memerlukan dana  yang  besar. Pada  mulanya ekspor migas  merupakan andalan pemerintah dan sumber perolehan devisa  negara. Karena pendapatan minyak mentah Indonesia di pasar dunia terbatas  kuota maka  pemerintah mengeluarkan deregulasi dibidang ekonomi  untuk  sektor non migas untuk mempermudah dan merangsang dunia usaha  untuk melaksanakan eksport. Tekstil adalah salah satu komoditas ekspor Indonesia pada beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan ekspor yang besarnya menurut  Biro Pusat Statistik (BPS) Jakarta yang dipantau pada bulan Mei pada tahun 1995 sebesar 298.315.903 ton dengan nilai USD  2.275.083.515, tahun 1996 sebesar 336.592.847 ton dengan nilai USD 2.465.093.757, tahun 1997  sebesar  445.346.973 ton dengan nilai USD 2.772.515.945  dan  pada tahun  1998 terjadi penurunan sedikit   menjadi 435.905.969 ton  dengan nilai  2.038.786.450,  sedangkan  pada tahun   1999  terjadi  peningkat kembali menjadi 608.381.126 ton dengan nilai sebesar USD  2.324.533.580. Walaupun nilai ekspor tekstil secara keseluruhan meningkat tapi tidak meningkatkan  pendapatan  seluruh eksportir. Hal ini  disebabkan  oleh  karena banyak  muncul  pemain ekspor tekstil baru yang menyebabkan  persaingan yang semakin ketat. Menurut  BPS 1996, sektor industri tekstil menyerap  tenaga  kerja sebanyak  625.646 orang, terhadap gross national product  (GNP) Indonesia sebesar Rp 538,9 triliun industri tekstil  memberikan kontribusinya  sebesar 2,75 %. Jumlah industri tekstil  termasuk pemintalan  benang di indonesia sebanyak 2242 buah  pabrik,  tapi perusahaan  tekstil  yang akan dibahas disini  adalah  di  bidang weaving  dan  processing di Indonesia berjumlah   558 perusahaan dan kebanyakan dari mereka memiliki masalah pembuangan limbahnya  yang sangat berpengaruh terhadap lingkungan. 

Menurut BPS (2000), dari 558 Perusahaan Tekstil diseluruh Indonesia baru memenuhi 4,07 % pangsa pasar dunia.

 

PT.  TTR adalah salah satu produsen dan eksportir tekstil yang  berdomisili  di Bandung, didirikan pada  tanggal  16  December 1995,  status perusahaan adalah PMDN (Penanaman Modal Dalam  Negeri). Produksi utama saat ini adalah grey  (bahan mentah kain jadi) dari  bahan polyester, dilengkapi dengan processing, dyeing & printing Cotton, Polirayon, Rayon dan Polyester. Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah untuk  meningkatkan ekspor non migas.   PT. TTR  sejak  tahun 1995  mulai melaksanakan ekspor kain jadi ke negara UAE dengan meningkatkan kemampuan kualitas dan kuantitas produksi secara   bertahap  yaitu mengganti  mesin processing yang lama ex  Belanda dengan yang baru ex Jerman dari tahun 1995 sampai dengan tahun 1998. Disamping itu melakukan peninjauan ulang penempatan tenaga kerja  sesuai dengan  kemampuannya melalui tes dan psikotes. Untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi tenaga kerja  yang kurang  memadai  kemampuannya ditawarkan untuk ikut proses perampingan. Sedangkan untuk mengoptimalkan  operasional dilakukan struktur organisasi baru yang tidak  sarat dengan  birokrasi. Para operator mesin yang dipekerjakan  adalah  putra Indonesia  yang  ditingkatkan kemampuannya dengan training peningkatan efisiensi operasional mesin dari teknisi mesin negara  asalnya  yaitu  Jerman.  Sedangkan untuk  tingkat  kepala  seksi  dan  kepala  bagian  PT. TTR melakukan benchmarking dengan perusahaan perusahaan tekstil lainnya yang bermarkas di pasar UAE, Eropah berlokasi di Bandung Selatan dengan tenaga kerja 2000 orang, produksi 200 ton per bulan.  Untuk  menunjang produktifitas   kerja  diterapkan  sistem  informasi  secara  sinkron  pada  seluruh  departemen. Dengan  usaha  ini  volume  ekspor  meningkat  dari tahun 1995 sebanyak 775 ton dengan nilai sebesar USD  6.567.000,  tahun 1996 sebanyak  1.193 ton dengan nilai sebesar USD 8.467.000, tahun  1997 mengalami penurunan ekspor yaitu menjadi sebanyak  891 ton dengan  nilai sebesar USD 5.545.000.  Untuk mengetahui penyebab turunnya jumlah ekspor dilakukan  analisis yang bersifat internal maupun eksternal, perumusan  masalah dan alternatif  strategi  yang tepat untuk diaplikasikan pada  perusahaan.

 

B.        Perumusan Masalah

            Untuk  merumuskan  masalah yang sedang dihadapi  perusahaan  perlu diidentifikasi  faktor-faktor dari dalam perusahaan yang sifatnya  dapat dikendalikan  maupun faktor-faktor dari luar yang sifatnya  tidak  dapat dikendalikan oleh perusahaan.

 

1.            Faktor internal perusahaan dan produktifitas karyawan belum optimal sehingga tidak semua permintaan pasar dapat dipenuhi oleh perusahaan.

2.            Kapasitas produksi perusahaan yang terpasang 150 ton/ bulan sedangkan order yang masuk  dibawah 100 ton per bulan (tergantung jenis kain ).

 

3.            Faktor dari luar perusahaan seperti:

 

a.             Makin  ketatnya persaingan baik diantara  eksportir  dari dalam  negeri  maupun luar negeri menyebabkan  pembeli  mempunyai  lebih banyak alternatif, sehingga bargaining power eksportir semakin melemah.

b.             Situasi politik dalam negeri yang kurang kondusif  menyebabkan  pembeli  dari  luar negeri kurang  tertarik  untuk  bertransaksi dengan perusahaan tekstil di  Indonesia karena beresiko pada saat pengiriman.

c.             Sistem pembagian kuota oleh pemerintah yang belum  sesuai dengan peraturan pembagian kuota kepada perusahaan tekstil  di Indonesia akan menghambat pengiriman.

 

Dari analisis diatas dapat dirumuskan  permasalahannya sebagai berikut :

 

1.             Bagaimana  strategi pemasaran yang diterapkan untuk  meningkatkan pangsa pasar eksportnya.

2.             Dengan semakin ketatnya persaingan apakah sistem  distribusi dan pemasaran yang ada sudah memadai atau perlu ditingkatkan.

 

C.    Tujuan Penelitian

 

1.             Mencari  strategi yang tepat untuk  meningkatkan  pangsa  pasar PT.TTR dipasar International.

2.             Meninjau faktor distribusi yang ada apakah sudah cukup menunjang strategi pemasaran yang diperlukan oleh PT. TTR.

 

 

 

 

D.      Manfaat Penelitian.

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi :

 

1.             Pengusaha,  untuk  mengetahui  kekuatan  perusahaan  tekstil sehingga  memudahkan  pihak manajemen untuk dapat meningkatkan  pangsa pasar dengan menghadapi tantangan yang ada.

2.             Penulis,  dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam  mencari dan menentukan cara terbaik bagi strategi pemasaran produksi  perusahaan tekstil.

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.      Analisis Visi Perusahaan.

Dari Visi perusahaan dapat dianalisis pemanfaatan teknologi yang dimaksud  adalah memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi oleh perusahaan untuk melakukan terobosan secara cepat dalam mencari pasar sasaran ekspor tekstil yang baru maupun untuk mengadakan hubungan yang lebih efektif dan efisien dengan  patner bisnisnya seperti agen dan distributor di luar negeri. Perusahaan meningkatkan pemasaran dengan pengembangan teknologi  dengan ditingkatkannya sumber daya manusia (SDM) dan departemen  R&D untuk  mencari dan  membuat  tekstur  kain  yang spesifik  yang  mempunyai  keunggulan deferensiasi  produk.

 

1.       Pernyataan  Misi Perusahaan

Dinyatakan  dengan  pengembangan  produk  baru  dilakukan  dengan diciptakan  berbagai macam jenis kain baru untuk mengisi pasar, operator mesin weaving ditingkatkan  keakhliannya dalam menangani dan mengoperasikan mesin, sehingga selain dapat menangani mesin dengan lebih baik juga menghasilkan mutu produk  yang semakin baik serta meningkatkan efisiensi juga kemampuan  seorang  operator untuk  menangani, mengoperasikan dan memantau  6  mesin sekaligus akan meningkatkan efisiensi produksi. Hal lain terlihat dari kualitas  produk  yang dihasilkan sudah memenuhi standar  Amerika  dan Eropa, sehingga kualitas  produknya sudah diakui sebagai  komoditas ekspor yang bertaraf internasional.

Secara kualitatif Sumber Daya Manusia yang dimiliki  perusahaan cukup handal sehingga dapat menunjang kinerja ekspor. Dibagian pengawasan standar mutu produksi sangat terjamin. Penanganan dan  pemahaman dokumentasi ekspor oleh bagian dokumen cukup  baik sehingga jarang membuat kekeliruan yang sifatnya fatal.

Untuk  cara  pemasaran ekspor  selain secara langsung kepada distributor dirintis  pula kepada  agen  baik yang mempunyai perwakilan di Indonesia maupun  yang  ada diluar negeri dengan cara melakukan penetrasi pasar terutama dipasar internasional dengan dasar keunggulan bersaing seperti: produk tekstil mengandung keistimewaan daya tahan, gaya, rancangan serta pelayanan dengan kemudahan dan ketepatan waktu pengiriman untuk tujuan memenuhi kepuasan pelanggan.

 

2.            Filosofi  Perusahaan

 

a.       Hubungan Perusahaan dengan Stake Holder :

Hubungan perusahaan dengan  recruitmen dapat  menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas masyarakat disekitarnya dan hubungan perusahaan dengan masyarakat cukup baik tampak pada pedulinya perusahaan memperhatikan pengolahan air  limbah  agar tidak merusak lingkungan  sekitar  perusahaan, disamping itu untuk karyawan yang cukup berprestasi akan diberikan  penghargaan pada saat acara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

b.             Tujuan Perusahaan.

Tujuan perusahaan dalam 1 sampai 2 tahun terakhir ini adalah meningkatkan pemasaran tekstil terutama dengan ekspor tekstil dan berusaha agar kinerja perusahaan perusahaan berada pada tingkat yang sehat untuk pencapaian laba yang sesuai dengan performa  perusahaan dalam persaingan yang makin ketat dengan meluncurkan jenis produk yang spesifik kepasar Internasional terutama kepasar Eropah, Inggris dan Amerika  mengingat  harga jual  tekstil kenegara tersebut masih cukup tinggi disamping  itu perilaku  distributor  atau  agen  untuk  negara-negara  tersebut relatif   baik   dalam  arti  masih   dapat   memegang   janjinya (gentleman). mengurangi 'idle' mesin dengan memberi prioritas pengolahan persiapan kain setengah jadi khusus untuk  order dari negara Eropa, Inggris dan Amerika.

c.              Kebijakan Perusahaan

Pihak  manajemen sangat tanggap terhadap situasi pasar  baik mengenai permintaan produk yang belum dihasilkan oleh  perusahaan maupun dalam hal peningkatan kualitas produk. Dengan jenis produk yang bervariasi dan kualitas yang memenuhi standar akan  menjamin kesinambungan penjualan dan menguatnya daya saing.

Gaya manajemen dalam tiga tahun terakhir ini mengarah pada gaya yang fleksibel terhadap aktifitas organisasi perusahaan. Hal  ini  tampak  dengan   perubahan   struktur  organisasi  dengan  tujuan  untuk meningkatkan performa perusahaan, disamping itu juga manajemen cukup memperhatikan sumber  daya  manusia staf dan karyawan yang berkompeten untuk mengembangkan keakhliannya. Sedangkan untuk proses produksi dimodifikasi dengan performa mesin yang ada guna meningkatkan  kualitas dan kuantitas produksi tekstilnya.

B.      Analisis Lingkungan Makro

Analisis  Lingkungan makro untuk mengetahui  faktor  - faktor strategis yang mempengaruhi lingkungan industri dan  lingkungan internal perusahaan yaitu :

 

1.              Faktor Ekonomi:

Mengingat  kontribusi  tekstil terhadap Gross National Product sebesar 2,75  %  maka masih  diperlukan peningkatan pemasaran produk tekstil kepasar  internasional. Perusahaan perlu mengetahui arah  perekonomian dari  negara dimana ia beroperasi. Menurunnya nilai rupiah terhadap US dollar menjadikan barang - barang ekspor  dari Indonesia  lebih kompetitif dibandingkan dengan barang  -  barang dari  negara pesaing terutama negara-negara yang tidak  mengalami depresiasi nilai mata uangnya. Keadaan perekonomian ini menguntungkan sebagian perusahaan  pelaku  ekspor, tapi bagi  yang tidak pandai  mengelola  keuangannya  akan mendapat keuntungan yang makin mengecil, bahkan beberapa  perusahaan  banyak yang bangkrut atau mengurangi kegiatan usahanya  dan sebagai  akibatnya makin meluas pengangguran. Namun demikian  ada pengusaha  / eksportir justru mengalami kemajuan  dalam  usahanya dalam kondisi naiknya kurs US dollar, terutama perusahaan yang  mengekspor  barang  - barang  dengan bahan baku  lokal  atau  kandungan lokalnya  tinggi.

Demikian pula dengan PT. TTR,  karena  banyak nya  jenis kain yang dimilikinya sehingga saat terjadi  kenaikkan nilai  US dollar terhadap rupiah perusahaan sudah  mendapat  laba dari  sejumlah stock grey walaupun belum terjadi proses  produksi.

Nilai mata uang rupiah yang kurang stabil terhadap Dollar Amerika yang disebabkan kondisi politik di Indonesia masih dapat  diatasi oleh  PT.  TTR yaitu dengan cara merubah sistem  pembelian  dalam mata  uang  Dollar Amerika, kecuali untuk  biaya  tenaga  kerja, grey, listrik, solar, dan pajak.

Menurut majalah Komoditas edisi  khusus 26 Januari 2000, minat  sektor agro  makin  menguat dan diyakini akan makin  pospektif, besar nilai investasi diprediksi naik 2,5 %. Industri tekstil  termasuk  dalam  daftar perkembangan  persetujuan PMDN sektor agro 1997 -  oktober  1999.

 

2.              Faktor Politik dan Hukum.

 

a.            Kebijakan pemerintah di bidang ekspor - impor mengenai deregulasi di bidang industri dan perdagangan secara bertahap. Kemauan yang kuat  dari  pemerintah  untuk menggalakkan ekspor terutama non-migas akan memberikan rangsangan bagi para eksportir untuk meningkatkan volume ekspornya. Rangsangan tersebut dapat berupa kemudahan - kemudahan dalam hal  investasi  maupun keringanan pajak bagi perusahaan -  perusahaan  yang berorientasi ekspor.

b.            Kemauan yang kuat  dari  pemerintah  untuk menggalakkan ekspor terutama non-migas akan memberikan rangsangan bagi para eksportir untuk meningkatkan volume ekspornya. Rangsangan tersebut dapat berupa kemudahan - kemudahan dalam hal  investasi  maupun keringanan pajak bagi perusahaan -  perusahaan  yang berorientasi ekspor.

c.            Kebijakan perijinan sesuai Peraturan Pemerintah Repoblik  Indonesia no.13 tahun 1999 tentang perijinan usaha industri  menyatakan  untuk setiap pendirian usaha industri wajib memperoleh  ijin usaha  industri. Keputusan Menteri Perindustrian dan  Perdagangan no.  256  / MPP / KEP / 7 / 1997, tanggal 28 Juli 1997 tentang Ketentuan  dan  Tata cara pemberian Ijin Usaha  Industri, Ijin Perluasan Tanda Daftar Industri. Perusahaan yang  meluaskan usaha lebih besar 30 % dari kapasitas  produksi  diwajibkan memperoleh Ijin Perluasan.

3.              Situasi Politik

Kondisi politik luar negeri maupun dalam negeri dapat  mempengaruhi  iklim usaha yang baik langsung maupun tidak langsung.  Pergantian pemimpin salah satu negara dapat mengubah arah kebijaksanaan  dalam  perdagangan internasional.  Hubungan  dagang  dengan negara - negara yang pemerintahnya relatif stabil  lebih  menguntungkan dari pada negara - negara yang sering bergolak.  Demikian juga  keadaan politik dalam negeri yang stabil akan  menjamin  kelangsungan dan iklim berusaha. Walaupun  untuk  ekspor kenegara Amerika Serikat dan Eropah memiliki  peluang  pasar relatif besar namun pembatasan kuota, isu  hak asasi  manusia  dan isu lingkungan menjadi hambatan  utama  dalam pemasaran ekspornya.

Kondisi  politik  luar negeri khususnya negara  -  negara  tujuan utama  ekspor kain polyester light georgete dari PT. TTR yaitu  :  Amerika,  Jerman,  Inggris, Perancis, Bagian negara  UAE  seperti Dubai  dan  Jeddah. saat ini dalam keadaan stabil. Dari  ke  enam negara tersebut Amerika, Perancis, Inggris dan jerman  menjadi tujuan ekspor utama PT. TTR. Pada waktu yang akan datang  volume ekspornya  masih dapat ditingkatkan. Hambatan kuota untuk  negara Eropa  harus dapat diatasi demikian pula  masalah  kuota  untuk negara Amerika harus dapat diatasi. Masalah penanganan kuota akan dibahas  lebih  lanjut pada analisis  strategi  pemasaran  ekspor tekstil.  Kondisi  politik di negara - negara  seperti  Thailand, Malaysia,  Singapore,  Hongkong saat ini  dinilai  cukup  stabil. Dilihat  dari  segi politik, peluang ekspor ke  negara  -  negara tersebut masih memungkinkan .

 

4.              Faktor Sosial Budaya

Faktor budaya yaitu sub budaya terdiri dari bangsa, agama, ras dan daerah geografis. Banyak sub budaya membentuk segmen pasar penting, dan PT. TTR sering merancang produk dan program pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Kelas sosial pada semua masyarakat negara UAE dan India memeiliki strata sosial  yang tidak hanya mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti pekerjaan, pendidikan dan kelas sosial  yang berbeda dalam cara berbusana, gaya hidup konsumen Afrika, India, Colombo, Philipina, Malaysia, UAE,  pada umumnya senang dengan warna cerah dan desain ramai penuh variasi dan digunakan untuk aktivitas sehari - hari, sedangkan masyarakat Internasional lainnya seperti Amerika dan Eropa lebih suka mengkonsumsi  sandang sebagai  penunjang (performa),  mereka juga pada umumnya sangat menyukai produk yang spesifik keunikan bahan yang halus, desain yang seimbang.

Faktor sosial, PT.  TTR dalam melakukan pemasaran produk perusahaan  .tekstilnya memanfaatkan  faktor  sosial, yaitu menggunakan agen  yang lebih dekat dengan tokoh agama dan orang yang berpengaruh untuk mendapatkan  informasi kebutuhan akan produk tekstil baik untuk  acara keagamaan  atau acara kebesaran seperti untuk  pesta  pernikahan, atau  pesta khitanan. Selain itu PT. TTR dengan kantor  pewakilan di  negara  UAE selalu mengikuti aktifitas  kegiatan  perkumpulan pengusaha Timur Tengah yang selalu berkumpul setiap bulan. Keberhasilan dealing dengan komunikasi yang baik pada konsumen  industri  dan lebih memahami keinginan dari  peran  dan status pengambil keputusan dalam hal ini adalah perwakilan konsumen industri langsung dari negara Amerika yang dapat meng  interpretasikan dan memutuskan batasan - batasan pada PT. TTR mengenai pilihan desain, jenis tekstur, arah warna, handling dan informasi konsumen akhir secara jelas dan terperinci.

 

5.              Faktor Teknologi

 

a.            Perkembangan teknologi dibidang tekstil perlu diikuti  perkembangannya  sehingga  inovasi terhadap produk  dapat  dilakukan  baik dengan mengikuti pameran diluar negeri maupun dari pandangan para  pakar mengenai  produk  tekstil.  Keterlambatan  melakukan  penyesuaian dengan  teknologi yang lebih modern akan  menyebabkan  kualitas produk menjadi usang sehingga mengurangi daya saing.

b.            Penggunaan mesin pencampur warna modern yang dikendalikan oleh komputer menghasilkan pengolahan warna - warna yang sangat presisi dan dapat disesuaikan dengan keinginan konsumen industri dan trend warna, sehingga tidak ada lagi hambatan untuk matching warna. Dari analisis Citra dapat terlihat bahwa faktor arah warna dari PT. TTR cukup mendekati harapan permintaan pasar.

c.            PT. TTR secara khusus telah menginvestasikan dananya dalam usaha memanfaatkan kemajuan teknologi komputer tampak pada penggunaan komputer desain yang beroperasi khusus untuk mempermudah pembuatan, pengendalian skala desain dan aplikasi arah warna pada desain yang membutuhkan waktu sangat singkat dan hasil yang tepat. Bahkan pembuatan proofing desain berikut warna sampel  dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat (beberapa menit). Penyimpanan file desain tiap konsumen menjadi sangat praktis dan dijamin kerahasiaannya.

d.            PT. TTR menggunakan mesin printing modern yang suplai dyestuf nya dilakukan secara automatis dan dikendalikan oleh komputer yang dapat diprogram jumlah suplainya Mililiter per Menit (Ml / Menit), sehingga keseragaman kuat warna akan sama sepanjang dan selebar kain. Hasil produksi semacam inilah yang menjadi persyaratan utama diterimanya penjualan ke negara Amerika Serikat disamping fasilitas kuota yang dimiliki perusahaan pengekspor kain.

 

C.            Analisis Citra

Dari hasil kuisioner terhadap para konsumen industri dari negara-negara diluar Indonesia yaitu dari negara - negara seperti : Hongkong, Malaysia,  UAE (Dubai), Saudi Arabia (Jeddah), Pakistan (Karachi), Prancis, Jepang, saat ini terhadap produk tekstil menghasilkan persepsi konsumen industri

 

q       Produk

Hasil pengolahan dari kuisioner  I  menunjukkan ada 4 atribut  yang dijadikan sebagai dasar penilaian preferensi konsumen yaitu: Arah warna, tekstur, kekuatan dan desain.

 

a.       Atribut pertama,  Arah Warna.

Adalah  jenis  warna produk tekstil dominan sesuai  dengan  trend warna idaman masyarakat yang selalu berubah dari waktu ke  waktu. Warna  dijadikan  oleh konsumen sebagai  dasar  pembelian  karena disesuaikan dengan tujuan penggunaan. Arah warna pale / tissue merupakan turunan yang paling muda dari warna bright menurut faktor budaya  warna tersebut digunakan untuk bahan pakaian kemeja resmi, bahan pakaian wanita kelas  menengah keatas atau untuk sub budaya daerah geografis untuk pasar Eropa, dan Inggris. Faktor budaya masyarakat yang memiliki kelas sosial tertentu arah warna pale / tissue ini  sesuai  untuk wanita karir yang beraktivitas formal, siswi pendidikan SMU keatas, masyarakat kelas menengah keatas dan secara faktor pribadi sangat diminati oleh   wanita  karir  atau kelas menengah keatas berusia 20  tahun  sampai dengan 50 tahun. Pada  umumnya mereka senang dengan kepribadian dan konsep diri yang tampak dengan mengenakan pakaian dengan model yang baru jenis kainnya serasi dengan gaya hidup mereka.  Arah warna  bright  sesuai dengan faktor budaya untuk daerah geografis pasar  Middle East (UAE), Afrika, Malaysia, Philipina, Colombo, India.  Berdasarkan faktor pribadi, warna tersebut serasi untuk bahan pakaian  sehari-hari  untuk pasar ekspor menengah, Secara faktor pribadi arah warna bright ini  sesuai  untuk, wanita karir, pendidikan SMU keatas, kelas menengah keatas dan  berusia 20  tahun  sampai dengan 50 tahun, menurut faktor pribadi, gaya hidup konsumen yang ingin tampak  ceria  sehingga mereka  menyukai warna bright, pembeli lebih  merasa  nyaman dan percaya diri  bila  mereka  menggunakan pakaian dengan warna - warna dominan yang cerah.

b.       Atribut kedua, Tekstur

Adalah kelembutan produk tekstil yang terkait dengan kesan  tebal atau  tipisnya kain dan yang lebih penting adalah “jatuhan nya” kain pada badan pemakai dan kelembutan permukaannya merupakan nilai tekstur dari kain. Secara faktor psikologis persepsi konsumen mengenai kelembutan dan faktor pribadi dengan karakteristik usia, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup dan kepribadian serta konsep diri menyebabkan tekstur kain yang lembut menjadi idaman mereka. Faktor sub budaya yang terdiri dari bangsa dan daerah geografis Amerika dan Eropa sangat mengutamakan kelembutan. Dari hasil pengolahan data kuesioner  I  tekstur produk  tekstil  yang dihasilkan PT. TTR  tekstur cukup baik.

c.       Atribut ketiga, Kekuatan.

Kekuatan  produk  tekstil  secara  laboratorium  ditentukan  oleh kelenturannya. Faktor yang menjadi penilaian yang mempengaruhi pembelian ialah kekuatan dari kain tersebut. Salah satu faktor psikologis yang berperan adalah pembelajaran yang meliputi perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman membelinya produk tekstil. Gaya hidup