Manajemen
Deteriorasi Hasil Hutan
© 2004 Rudy C Tarumingkeng
BIOLOGI
DAN PENGENDALIAN RAYAP
(Biology and control of termites attacking buildings)
Oleh:
Rudy
C Tarumingkeng
Rayap dalam biologi
adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo yaitu ordo Isoptera dari kelas Artropoda. Ordo Isoptera beranggotakan
sekitar 2.000 spesies dan di
Teks acuan berikut masih cukup baik untuk
mempelajari biologi rayap dalam hubungannya dengan pengendalian:
1. C. A. Kofoid (ed.),<D> 1934 : Termites and Termite Biology,
2. K. Krishna &
F. M. Weesner (eds.), 1969/1970 : Biology of
Termites, Vols. I & II, Academic Press.
3. W. V. Harris, 1971 : Termites, Their Recognition and Control, Longmans -
Green,
4. N. E. Hickin, 1971 : Termites -- A World Problem, The Rentokil Library,
Jenis-jenis rayap
Sampai saat ini baru
beberapa jenis rayap yang dapat dikenal secara pasti sampai pada spesiesnya
karena peneliti taksonomi rayap yang benar-benar mencurahkan perhatiannya pada
masalah ini di
perbandingan visual dan kalaupun dilakukan secara mikrokospik
indentifikasi didasarkan atas ukuran tubuh yang sangat membingungkan mengingat
variasi ekotipe dan polimorfisme rayap yang sangat tinggi. Untuk keperluan praktek,
publikasi:
Biologi dan Pengenalan
Rayap Perusak Kayu
Untuk keperluan ilmiah
tentunya diperlukan kajian-kajian lanjutan dari hasil-hasil penelitian para ahli
taksonomi rayap seperti Light, Kemner,
1. Rayap Subteran dan rayap tanah (Famili Rhinotermitidae dan Termitidae) : Coptotermes, Schedorhinotermes, Odontotermes,
Macrotermes dan Microtermes.
2. Rayap kayu kering (Famili Kalotermitidae) : Cryptotermes.
Perilaku
Seketurunan
rayap selalu hidup dalam satu kelompok yang disebut koloni dengan pola hidup
sosial. Satu koloni terbentuk dari sepasang laron (alates) betina dan
jantan yang melakukan kopulasi dan mampu memperoleh habitat yang cocok yaitu
bahan berselulosa untuk membentuk sarang utama. Koloni rayap dapat juga
terbentuk dari fragmen koloni yang terpisah dari koloni utama karena sesuatu
bencana yang menimpa koloni utama itu. Individu betina pertama yang dapat kita
sebut ratu meletakkan beribu-ribu telur yang kemudian menetas dan berkembang
menjadi individu-individu yang polimorfis -- sub-kelompok yang berbeda bentuk
yaitu kasta pekerja, kasta prjurit dan neoten -- di samping terdapat juga
indivdu-individu muda (pradewasa) yang biasa disebut nimfa (ada literatur yang
menyebutnya "larva").
Kasta
pekerja merupakan kasta pengatur ("pemerintah") – mungkin karena
mereka yang mencari makan! Bila ada
prajurit yang sudah tua dan tak dapat mempertahankan sarangnya lagi, ia akan
dimakan oleh pekerja (sifat kanibalistik). Demikian juga betina dan jantan baik
"ratu", "raja" maupun neoten (reproduktif sekunder) yang
tidak mempu menjalankan fungsinya untuk berkembang biak lagi akan mengalami
nasib yang sama.
Pengaturan
energi koloni yang sangat efisien ini merupakan manifestasi pola homeostatika
dari koloni rayap untuk mempertahankan eksistensinya. Demikian efisien
organisasi hidupnya sehingga kita sulit mengendalikannya, apalagi
memberantasnya. Beberapa pola perilaku rayap yang perlu dikemukakan -- di
samping yang telah dikemukakan di atas -- adalah sifat kriptobiotik atau sifat
selalu menyembunyikan diri -- mereka hidup dalam tanah dan bila akan invasi
mencari obyek makanan juga menerobos di bagian dalam, bila perlu lapisan logam
tipis dan tembok (apalagi plastik) ditembusinya -- dan bila terpaksa harus
berjalan di permukaan yang terbuka mereka membentuk pipa pelindung dari bahan
tanah atau humus (sheltertubes).
Makanan
rayap adalah selulosa baik berbentuk arsip kantor, buku, perabot, kayu bagian
konstruksi, serash, sampah, tunggak. Kayu-kayu yang tertimbun di bawah fondasi
bangunan (ini merupakan bahan sarang yang baik karena kelak mereka dimungkinkan
untuk "naik"), kayu sisa cetakan beton yang tidak dikeluarkan dari
konstruksi, dan lain-lain. Jadi, untuk menghindar dari serangan rayap jelas
perlu kita hindarkan obyek-obyek makanan rayap ini, kecuali bila bahan kayu
memang diperlukan maka perlu perlakuan perlindungan seperti perlakuan tanah
dengan insektisida (soil treatment), pengawetan kayu (wood
preservation). Atau kita biarkan saja sampai rayap menyerang kemudian
rayapnya kita serang – tapi kerugian besar tak terhindarkan dan pengendalian
rayap akan sangat sulit (sifat kritobiotik !).
Sifat
trofalaksis (trophallaxis) merupakan ciri khas diantara
individu-individu dalam koloni rayap : masing-masing individu sekali-sekali
mengadakan hubungan dalam bentuk menjilat, mencium dan mengosokkan tubuhnya
satu dengan yang lainnya. Sifat ini diinterprestasikan sebagai cara untuk
memperoleh protozoa flagellata bagi individu yang baru saja ganti kulit
(ekdisis), karena pada saat ekdisis kulit usus juga tanggal sehingga protozoa
simbiont yang diperlukan untuk mencerna selulosa ikut keluar dan diperlukan
"re-infeksi" dengan jalan trofalaksis. Sifat ini juga diperlukan
(kata para ahli) agar terdapat pertukaran feromon di antara para individu ini.
Feromon adalah hormon yang dikeluarkan (ke luar tubuh) untuk pengaturan
populasi koloni misalnya mengatur individu mana yang akan menjadi neoten
(neoten adalah individu yang mampu berreproduksi, dan mereka terdapat dalam
jumlah yang besar), menjadi pekerja, prjurit dan fungsi-fungsi fisiologi
lainnya.
Dalam
literatur lama, sifat trofalaksis merupakan dasar untuk menganjurkan
pengendalian rayap kayu kering dengan bubuk insektisida (seperti chloropicrin)
yang disuntikkan pada kayu yang terserang dan individu-individu yang kena racun
akan menyebarkan racun tersebut ke dalam koloninya melalui trofalaksis. Sifat
kanibalistik juga membantu penyebaran insektisida karena individuindividu yang
mati kena racun mungkin akan dimakan oleh yang belum terkena racun sehingga
terjadi penyebaran racun secara efisien. Perilaku rayap perlu dikaji dan
dikembangkan lebih lanjut dalam usaha pengendalian rayap, terutama dalam
penentuan formulasi insektisida, agar pengendalian lebih efisien, ekonomis dan
hal ini juga meminimumkan penyebaran racun dalam lingkungan hidup kita.
Pencapaian
obyek serangan
Rayap
mencapai obyek serangan terutama kayu, karena:
1. Obyek berhubungan langsung dengan tanah.
2. Rayap membangun pipa perlindungan (sheltertubes) dari tanah
sampai obyek serangan.
3. Melalui celah, retak kecil (minimum 0,4 mm) misalnya pada fondasi
bangunan, dinding, dll.
4. Menembus obyek-obyek penghalang seperti plastik, logam tipis, dll,
walaupun penghalang ini bukan merupakan obyek makanannya.
Hal ini terutama
berlaku untuk rayap subteran yang hidupnya mutlak tergantung dari adanya air,
dan tanah merupakan sumber air utama bagi kehidupan darat. Itu sebabnya rayap
subteran sering disebut rayap tanah karena memang ia terutama bersarang dalam
tanah, tapi lebih banyak
mencari
makan di atas tanah. Namun rayap subteran mampu membuat sarang pada obyek di
atas tanah. Tanpa berhubungan dengan tanah asalkan kebutuhan mutlaknya yaitu
air tersedia. Dari uraian ini kita dapat menyimpulkan sendiri cara-cara yang
dapat imanipulasikan untuk diterapkan dalam usaha-usaha pengendalian rayap
perusak bangunan.
Rayap kayu
kering dapat menyerang biasanya melalui dua cara yaitu:
1. Laron (alates) yang bersialang datang ke obyek dan mampu
berkembang karena obyek tidak tertutup (misalnya oleh cat pelindung yang
toksik),obyek/kayu tidak awet atau tidak diawetkan dll.
2. Obyek terserang oleh rayap yang berasal dari obyek lain yang telah
diserang dan letaknya berdekatan (misalnya membawa piano yang terserang Cryptotermes
ke dalam suatu ruangan tentunya mengandung resiko bahwa obyek-obyek kayu dalam
ruangan itu dapat diserang rayap kayu kering tersebut.
Penutup
Uraian di
atas hanya sekadar memberikan beberapa aspek biologi yang dianggap penting dan relevant
dalam usaha pengendalian rayap perusak bangunan. Dari padanya dapat diambil
beberapa deduksi untuk aplikasi di lapangan. Sebagai penutup perlu disinggung
masalah pestisida, khususnya insektisida yang kini dianggap efisien dalam
pengendalian rayap, khususnya rayap subteran. Insektisida mutakhir dibagi atas
dua golongan besar yaitu :racun akut dan racun kronik.
Racun akut
yang kebanyakan dari kelompok fosfat-organik atau organofosfat (organophosphates)
dan karbamat (carbamates) kurang dapat mengendalikan populasi rayap
karena sifatnya yang tidak tahan lama (non persistent) di lingkungan,
walaupun keakutannya luar biasa. Salah satu contoh fosfat organik yang sering
digunakan untuk soil treatment terhadap rayap penyerang bangunan adalah
chlorpyrifos.
Insektisida
persisten yang digunakan sebagai racun kronis pada masa silam adalah golongan
hidrokarbon-berklor (chlorinated hydrocarbons) atau organoklorin seperti
Heptachlor, Chlordane, Dieldrin dll.Insektisida ini kini tak boleh digunakan
lagi karena persistensinya yang sangat membahayakan lingkungan hidup. Kini
sedang dikembangkan berbagai insektisida derivat botanis terutama jenis-jenis
piretroida dan ternyata banyak di antaranya memiliki sifat persisten dan tidak
membahayakan lingkungan hidup. Bahan-bahan penghambat sintesis kuitikel (kulit
serangga) juga kini banyak diteliti dan dicoba untuk mengendalikan serangan
rayap.
Hak cipta penulis dilindungi
Undang-undang