script type="text/javascript">
Posted 25 June 2001 [RCT]
Tinjauan Singkat:
PENURUNAN KUALITAS LINGKUNGAN AKIBAT
AKTIFITAS TAMBANG:
Suatu Pertimbangan Penting Dalam Menentukan Kebijakan Sektor
Pertambangan [1]
Oleh:
Markus
T. Lasut [2]
E-mail: mlasut@hotmail.com
Pertambangan merupakan salah satu sektor
pembangunan yang sedang digalakkan di Propinsi Sulawesi Utara. Pembangunan dan
pengembangan sektor ini dilakukan karena berhubungan erat antara lain dengan
pendapatan daerah, manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar tambang.
Kontribusi sektor ini pada pembangunan daerah dirasakan cukup siknifikan. Namun
demikian, pengembangan sektor ini sebaiknya tidak dipisahkan dengan isu
kegiatan/aktifitas pertambangan itu sendiri di mana aktifitas pertambangan
selalu berhubungan dengan dampaknya terhadap lingkungan, pembuangan limbah
tambang, pencemaran logam berat (air raksa, arsen), dan lain sebagainya.
Dalam
penentuan kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya mineral,
sejalan dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah pada awal tahun 2001 mendatang yang merupakan era memacu
proses desentralisasi di berbagai sektor pemerintahan termasuk sektor
pertambangan, maka isu aktifitas pertambangan yang dihubungkan dengan kualitas lingkungan
sangat perlu diperhatikan dan dipertimbangkan untuk menjamin keseimbangan
antara pemenuhan kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan serta menjamin
iklim investasi yang kondusif bagi investor untuk pertambangan yang berskala
besar.
Berdasarkan
latar belakang di atas maka tulisan ini yang disusun berdasarkan tinjauan
pustaka secara singkat mencoba membahas mengenai penurunan kualitas lingkungan
akibat aktifitas pertambangan (walaupun disadari bahwa pustaka mengenai topik
ini, sejauh pustaka yang sudah ditelusuri, masih sangat minim). Dalam tulisan
ini kegiatan pertambangan dipahami sebagai kegiatan pertambangan yang dilakukan
oleh rakyat (Pertambangan Skala Kecil)
dan pertambangan yang dilakukan oleh perusahaan (Pertambangan Skala
Besar). Khusus untuk pertambangan skala besar, perusahaan pertambangan emas PT.
NMR dijadikan sebagai contoh karena perusahaan ini adalah satu-satunya
perusahaan besar yang sementara beroperasi. Dan, pada akhir dari tulisan ini
rekomendasi diberikan di mana diharapkan sebagai masukan dan pertimbangan dalam
penentuan kebijakan Pemerintah Daerah untuk sektor pertambangan.
Bentuk Limbah (Tailing) Tambang
Aktifitas tambang emas tak pernah
lepas dari limbah hasil proses ekstraksi emas, limbah tersebut biasa disebut tailing. Bentuk fisik limbah dapat berwujud gas, cair, dan padat (1).
Secara fisik gas buangan
mengandung partikel-artikel debu dan secara kimia merupakan larutan berbagai
jenis gas tergantung dari jenis mineral bijih yang diolah. Limbah cair
mengandung bahan-bahan kimia beracun dari logam-logam berat dan sianida dengan
konsentrasi yang relatif masih tinggi. Sedangkan limbah padat mempunyai
komposisi kimia utamanya adalah sesuai dengan batuan induknya (1, 2).
Jenis Tailing
Aliran Asam Tambang (Acid Mine
Drainage/AMD atau Acid Rock Drinage/ARD) merupakan limbah yang selalu menjadi
masalah bagi kegiatan pertambangan; bahan ini sangat beracun (toksik) yang
ditandai oleh tingkatan pH yang sangat rendah (2). Aliran asam
sebagai suatu fenomena alam terbentuk oleh karena proses oksidasi yang terjadi
pada permukaan partikel bebatuan karena langsung bereaksi dengan oksigen (1,
2, 3). Hughes & Poole 1989 menyatakan bahwa aliran asam ini diperani
oleh mikroorganisme yang terdapat pada permukaan partikel.
Proses Sedimentasi:
Tailing pada umumnya berbentuk padatan tersuspensi partikel lumpur dalam limbah cair bersama dengan partikel halus (ukuran <75mm) dalam limbah padat (1). Sebagai contoh, tailing PT. NMR dibuang melalui pipa pembuangan ke lingkungan perairan Teluk Buyat di kedalaman ±82 meter (4) dengan volume ±2000 ton per hari. Manakala tailing yang mengandung air tawar bercampur dengan air laut di perairan maka tailing tersebut mengalami pengelompokan (flocculation) dan terendapkan ke dasar perairan sebagai sedimen(5), namun laju pengendapannya berbeda-beda tergantung dari kondisi perairan (6).
Dalam kasus ini Anonimus (1998) melaporkan bahwa sedimentasi total di daerah pantai sekitar Teluk Buyat (stasiun yang terdekat dengan Teluk Buyat pada sisi kiri dan kanan, yaitu ST#4 dan #5) pada kurun waktu antara Bulan Juli dan Oktober 1998 adalah berkisar 52.9601-216.3579 gram dengan laju sedimentasi berkisar 0.5092-2.1006 gram/hari dan kondisi ‘sangat keruh’. Nilai-nilai yang ditunjukkan tersebut dapat diartikan bahwa perairan di dan sekitar Teluk Buyat telah mengalami sedimentasi yang sangat tinggi dengan kondisi jelek jika dibandingkan dengan daerah yang jauh dari perairan Teluk Buyat (stasiun di depan Kotabunan, yaitu ST#7) pada kurun waktu yang sama (sedimentasi total sebesar 3.0757 gram dan laju sedimentasi sebesar 0.0290 gram/hari).
Laporan RKL/RPL PT. Newmont untuk periode Oktober-Desember 1998 menyatakan bahwa terjadi penumpukan sedimen disekitar ujung pipa (anus pipa) ±9 meter. Selanjutnya Anonimus 1999b melaporkan bahwa berdasarkan peta PT. NMR Tahun 1997, lokasi buangan limbah tailing (anus pipa) berada pada kedalaman air ±80-an meter. Pada pengukuran batimetri tahun 1999 telah terjadi perubahan kedalaman di anus pipa tailing, menjadi ±70 meter. Telah terjadi pendangkalan setebal 10 meter. Hasil pengukuran ini telah mengakibatkan perubahan kontur laut (batimetri) dari tahun 1997 ke tahun 1999. Kondisi ini dipertegas lagi dengan hasil pengukuran pada tahun 2000 (9). Dengan demikian telah terjadi sedimentasi pada area yang cukup luas di perairan Teluk Buyat (8, 9).
Anonimus
2000 menyatakan bahwa dampak dari adanya sedimentasi di Teluk Buyat di mana
terjadinya penyebaran lumpur pekat dengan ketebalan antara 5 dan 10 meter
menyebabkan kerusakan karang. Luasnya bidang yang tertutup sedimen
akibat tailing telah menutupi area produktif perairan Teluk Buyat, dimana area
ini adalah area pemijahan bagi biota laut, area estuaria yang memiliki
keanekaragaman hayati (biodiversity) yang kaya (8)
Dampak penimbunan oleh sedimen
(sedimentasi) yang terjadi diperairan baik secara langsung maupun tidak
berhubungan dengan keberadaaan keanekaragaman hayati. Penimbunan dasar perairan
oleh sedimen tailing dapat merusak dan memusnahkan komunitas bentik sehingga
dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati.
Sianida
merupakan racun pembunuh yang paling ampuh untuk semua jenis mahluk hidup.
Sianida berada di perairan Teluk Buyat oleh karena penggunaannya oleh PT. NMR
dalam proses sianidasi ekstraksi emas. Beberapa penelitian telah mencoba
mengukur konsentrasi total sianida, baik yang terlarut dalam air, sedimen, dan
biota (7, 8, 10). Anonimus (1999b) melaporkan konsentrasi ion
sianida pada dua macam jaringan tubuh biota laut (ikan), yaitu daging dan
hati/perut. Ditemukan bahwa pada jaringan daging, konsentrasi ion sianida
berkisar 0.177-0.554 ppm; sedangkan pada jaringan hati/perut berkisar
0.064-2.770 ppm. Belum dapat dikatakan apakah nilai konsentrasi tersebut tinggi
atau rendah karena setelah ditelusuri belum ditemukan pustaka yang dapat
dijadikan pembanding.
Anonimus (1999a) menjelaskan bahwa
konsentrasi sianida di perairan Teluk Buyat masih berada di bawah batas ambang
yang ditentukan oleh PP 20 Tahun 1990 (tentang pengendalian pencemaran air), di
mana Peraturan Pemerintah tersebut membolehkan konsentrasi sianida di perairan
bagi peruntukan perikanan dan peternakan (Golongan C) adalah 0.002 ppm.
Sebaliknya,
walaupun sianida ditemukan pada jaringan biota laut (ikan) pada konsentrasi
2.770 (8), status pencemarannya belum diketahui karena belum ada
peraturan yang mengaturnya.
Dampak Sianida:
a.
Kontaminasi pada Biota Laut
Sianida merupakan racun bagi semua
mahluk hidup. Brachet (1957) melaporkan bahwa sianida disamping dapat
menghambat pernapasan juga dapat mengakibatkan perkembangan sel yang tidak
sempurna pada organisme laut. Selanjutnya, sianida dapat menghambat kerja ensim
ferisitokrom oksidase dalam proses pengambilan oksigen untuk pernapasan (12,
13, 14) sehingga kontaminasi pada biota laut dapat menyebabkan
mortalitas.
b.
Keanekaragaman Hayati
Hasil
penelitian Anonimus (2000) melaporkan penurunan jumlah jenis ikan yang pernah
tertangkap di peairan Teluk Buyat dari 59 jenis (sebelum Tahun 1997) menjadi 13
jenis ikan. Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa telah terjadi
pergesaran lokasi penangkapan ikan yang sangat mencolok.
Keberadaan Logam Berat:
Konsentrasi
logam berat, khsusnya merkuri (Hg), di perairan Sulawesi Utara dikhawatirkan
meningkat sejalan dengan meningkatnya sumber yang ada. Pemakaian merkuri
sebagai bahan kimia pembantu dalam proses amalgam untuk memperoleh emas oleh pertampangan
rakyat merupakan sumber merkuri yang sangat besar di lingkungan.
Keberadaan logam berat (misalnya As,
Cd, dan Hg) di perairan Teluk Buyat telah dilaporkan oleh beberapa peneliti (7,
8, 23). Logam-logam berat ini berasal dari batuan/biji yang mengandung
emas (ore) yang secara kontinyu dilepaskan ke lingkungan hidup (biosfir) oleh
aktifitas pertambangan (5). Jenis unsur logam yang terkandung di
dalam tailing tergantung dari jenis mineral yang terdapat di dalam biji,
misalnya PT. NMR mengambil jenis Sinabar maka akan mengeluarkan tailing yang
mengandung Hg, Realgar mengeluarkan Arsen (As), dan Arsenopirit mengeluarkan
Arsen (As)/Besi (Fe) (1).
Berbagai logam berat yang terlarut dalam tailing berbentuk cair akan terendapkan ke sedimen di dasar perairan bersama-sama dengan partikel-partikel halus yang mengalami flocculation (5). Sehingga keberadaan logam-logam berat di sedimen akan berada terus-menerus di dasar perairan. Pada dasarnya logam berat berasal dari dalam tanah jauh dari lingkungan hidup (biosfir), namun oleh kegiatan tambang logam-logam tersebut masuk ke lingkungan hidup manusia.
Anonimus
(1999a) melaporkan konsentrasi Arsen (As) di perairan Teluk Buyat, khususnya
yang terdapat pada sedimen sebesar 645.00 ppm, sedangkan pada jaringan ikan dan
plankton, berturut-turut sebesar 3.40 dan 17.48 ppm (konsentrasi tertinggi di
dalam sampel). Anonimus (1999b) juga melaporkan konsentrasi logam berat ini
yang terdapat pada sedimen dan biota laut (ikan) adalah berturut-turut sebesar
0.176 dan 0.032 ppm (konsentrasi tertinggi di dalam sampel). Konsentrasi As
yang terkandung di dalam tailing hasil olahan tambang PT. NMR telah dilaporkan
sebelumnya oleh Anonimus 1994 sebesar 840 ppm.
Dampak Logam Berat:
Arsen (As). Anonimus (1999a) selanjutnya melaporkan bahwa
konsentrasi As pada jaringan plankton cukup tinggi, dan ini menindikasikan
bahwa logam berat As telah masuk ke dalam rantai makanan di laut. Selanjutnya
dijelaskan bahwa As yang beracun ini suatu saat akan masuk ke dalam biota laut
dan akhirnya ke tubuh manusia. Rantai makanan dapat berfungsi dalam pembesaran
logam berat secara biologi (biomaknifikasi) di mana konsentrasi yang sangat
tinggi akan ditemukan pada rantai makanan tertinggi (5, 15, 16, 17, 18,
19, 20, 21, 22).
Merkuri (Hg). Di alam merkuri (air raksa) ditemukan dalam bentuk elemen merkuri (Hg0), merkuri monovalen (HgI), dan bivalen (HgII). Merkuri apabila masuk ke dalam perairan mudah berikatan dengan klor yang ada pada air laut, reaksi kimianya akan membentuk ikatan HgCl (senyawa merkuri in-organik), pada bentuk ini Hg mudah masuk ke dalam plankton dan dapat berpindah ke biota laut lain (23). Merkuri inorganik (HgCl) akan tertransformasi menjadi merkuri organik (merkuri metil) oleh peran mikroorganisme yang terjadi di sedimen di dasar perairan.
Menurut Waldock (1994), senyawa metil-merkuri adalah bentuk merkuri organik yang umum terdapat di lingkungan perairan. Senyawa ini sangat beracun dan diperkirakan 4-31 kali lebih beracun dari bentuk merkuri inorganik. Selain itu, merkuri dalam bentuk organik yang umumnya berada pada konsentrasi rendah di air dan sedimen adalah bersifat sangat bioakumulatif (terserap secara biologis). Metil-merkuri dalam jumlah 99% terdapat di dalam jaringan daging ikan.
Berdasarkan kajian pustaka yang dikumpulkan
maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.
Aliran
Asam Tambang (Acid Main Drainage) merupakan tailing yang paling beracun karena
mempunyai tingkat keasaman (pH) yang rendah.
2.
Sedimentasi
dan laju sedimentasi di perairan Teluk Buyat tinggi dan mempunyai kondisi jelek
yang diakibatkan oleh partikel-partikel tailing berukuran < 75 mm. Sedimen berdampak pada
pendangkalan dan perubahan bentang alam dasar laut, kesuburan perairan, dan
keanekaragaman hayati.
3.
Sianida
merupakan limbah yang sangat berbahaya bagi biota laut, walaupun konsentrasinya
masih berada di bawah ambang batas tapi ion sianida dapat ditemukan pada
jaringan daging biota laut (ikan). Dapat berdampak pada kontaminasi pada biota
laut dan keanekaragaman hayati perairan Teluk Buyat.
4.
Logam
berat seperti Arsen (As) dan merkuri (Hg) sudah mengkontaminasi perairan Teluk
Buyat, baik pada sedimen maunpun pada biota laut (ikan) dan dikhawatirkan dapak
mengkontaminasi manusia.
Berdsarkan kesimpulan di atas, sejalan dengan
penentuan kebijakan, maka hal-hal yang dapat direkomendasikan adalah sebagai
berikut:
1.
Pertambangan
oleh rakyat sangat perlu ditertibkan dengan membentuk wilayah pertambangan
rakyat (WPR) supaya pengendalian dan pengentrolan mudah dilakukan.
2.
Aktifitas
pertambangan dilarang untuk dilakukan dekat dengan perkampungan penduduk.
3.
Substitusi
penggunaan merkuri sebaiknya dilakukan, tapi bukan sianida.
4.
Guide-line
sistem pembuangan limbah untuk aktifitas pertambangan perlu dibuat
5.
Baku
Mutu Lingkungan, khususnya untuk Daerah Sulawesi Utara, perlu diadakan.
1.
Ginting, A.R., 1999. Perkimiaan pada ekstraksi
emas dan detoksifikasi limbah. Halaman
24-37 dalam Ginting A.R. (ed.).
Proceeding: Penempatan tailing di dasar laut, Submarine tailing placement
(STP). Seminar dua hari (15-16 Juli 1999).
2.
Anonimus, xxxx. Acid mine drainage: what can we
do? Wild BC, Environmental Mining Council of BC. 25 hal.
3.
Hughes, M.N. & R.K. Poole. 1989. Metals and
micro-organisms. Chapman and Hall. 412 hal.
4. Anonimus, 1994. Studi analisis dampak lingkungan. Laporan Utama. Kegiatan pertambangan emas di Minahasa dan Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Indonesia. PT. Newmont Minahasa Raya.
5.
Depledge, M.H., J.M. Weeks & P.
Bjerregaard, 1994. Heavy metals. Halaman
79-104 dalam P. Calow (ed.). Handbook
of ecotoxicology. Volume two. Blackwell Scientific Publications. Oxford,
London.
6.
Pomeroy, L.R., 1980. Detritus and its role as a
food sources. Halaman 84-102 dalam R.S.K. Barnes & K.H. Mann
(eds.). Fundamentals of aquatic ecosystems. Blackwell Scientific Publications.
Oxford.
7.
Anonimus, 1998. RKL/RPL report period October
1-December 31. PT. Newmont Minahasa Raya. 34 hal.
8.
Anonimus, 1999b. Kajian kelayakan pembuangan
limbah tailing ke laut di perairan teluk Buyat Sulawesi Utara. Laporan Akhir.
Kerjasama BAPEDAL Jakarta dengan PPLH-SA UNSRAT Manado. 90 hal.
9.
Anonimus, 2000. Laporan kegiatan pemetaan partisipatif
masyarakat Buyat pantai. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Utara. 8 hal.
10. Anonimus, 1999a. Limbah pertambangan emas oleh PT. Newmont Minahasa Raya
di desa Ratatotok Kab. Minahasa. Laporan Riset: Final. Tim Peneliti Sesuai SP
Gub. Nomor: 03 Tahun 1999. 30 hal.
11. Brachet, J., 1957. Biochemical cytology. Academic Press Inc. Publishers.
New York. 535 hal.
12. Bohinski, R.C., 1987. Modern concept in biochemistry. Fifth Edition.
Chapter Fifteen: Oxydative phosphorylation. Allyn and Bacon, Inc. Boston. Hal.
567-604.
13. Manahan, S.E., 1992. Toxicological Chemistry. Second Edition. Lewis
Publisher. Boca Raton. 449 hal.
14. Lasut, M.T., 1999a. Effects of salinity-cyanide interaction on the
mortality of abalone Halitis varia
(Haliotidae: Gastropoda). Phuket Merine Biological Center Special Publication 19(1): 165-168.
15. Sorensen, E.M., 1991. Metal poisioning in fish. CRC Press. Boca Raton.
374 hal.
16. Laws, E.A., 1993. Aquatic Pollution: An introductory text. Second
Edition. An Interscience Publication. John Wiley & Sons, Inc. New York. 611
hal.
17. Connell, D.W. & G.J. Miller. 1995. Kimia dan ekotoksikologi
pencemaran. Y. Koestoer & Sahati (Penterjemah). Penerbit Universitas
Indonesia. 520 hal.
18. Lasut, M.T., 1997a. Distribution of accumulated mercury (Hg) in the
trout Oncorhynchus mykiss. Berita
Fakultas Perikanan Unsrat 5(1-2):
9-12.
19. Lasut, M.T., 1997b. Uptake of mercury (Hg) by the common mussel Mytilus edulis. Berita Fakultas
Perikanan Unsrat 5(1-2): 13-18.
20.
Lasut, M.T. & L.L. Lumingas. 1998.
Akumulasi logam pada beberapa jenis biota laut di perairan sepanjang
semenanjung Minahasa, Prop. Sulawesi Utara. Laporan Penelitian. Fakultas
Perikanan & Ilmu Kelautan. Dibiayai oleh Proyek Pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan Dasar
Tahun 1997/98 dengan kontrak nomor: 52/PPIPD/DPPM/97/PPIPD/1997. 16 hal.
21. Lasut, M.T., 1999b. Metallothionein: suatu parameter kunci yang penting
dalam penetapan baku mutu air laut (BMAL) Indonesia. Karya Tulis. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi. Pemilihan Peneliti Muda
Indonesia VIII Tahun 1999. 15 hal.
22. Rompas, R.M., 1999. Dampak penempatan tailing di dasar laut terhadap
ekosistem pantai. Halaman 94-96 dalam Ginting A.R. (ed.). Proceeding:
Penempatan tailing di dasar laut, Submarine tailing placement (STP). Seminar
dua hari (15-16 Juli 1999).
23. Anonimus, 1996. Contaminants in aquatic habitat at hazardous waste
sites: Mercury. NOAA Technical Memorandum NOS ORCA 100. NOAA: National Oceanic
and Atmospheric Administration. National Ocean Service. 64 hal.
24. Waldock, M.J., 1994. Organometallic compounds in the aquatic
environment. Halaman 106-129 dalam P. Calow (ed.). Handbook of
ecotoxicology. Volume two. Blackwell Scientific Publications. Oxford, London.
Footnotes:
[1] Disampaikan pada lokakarya “Kebijakan Pertambangan di Propinsi Sulawesi Utara pada Era Otonomisasi”, Kerjasama antara Kanwil DESDM Sulut dan Pemda Sulut, Hotel Sahid Kawanua Manado, 23 Nopember 2000.
[1] Dosen dan Peneliti di Lab. Toksikologi dan Farmasitika Kelautan, Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi.
[1] Disampaikan pada lokakarya “Kebijakan Pertambangan di Propinsi Sulawesi Utara pada Era Otonomisasi”, Kerjasama antara Kanwil DESDM Sulut dan Pemda Sulut, Hotel Sahid Kawanua Manado, 23 Nopember 2000.
[2] Dosen dan Peneliti di Lab. Toksikologi dan Farmasitika Kelautan, Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi.