Posted 24 May 2001 [RCT]
http:tumoutou.net/maanema.doc
Makalah
Individual
Pengantar
ke Falsafah Sains (PPS 702)
Program
Pasca Sarjana (S3) Institut Pertanian Bogor
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Rudy Tarumingkeng
METUSALAH
- NUH PARADOKS
Oleh :
Max Maanema
SPL
P31600009
e-mail:
maanema@yahoo.com
1.
PENDAHULUAN
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia
telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).
Bright, B. (1996) mengulas salah satu sifat
Allah dari sekian banyak sifat-sifat Allah dalam hubungannya dengan manusia
adalah : Allah adalah Kasih (God is love)(1 Yohanes 4 : 8b). Kasih Allah
yang diimplementasikan kepada kehidupan manusia diuraikan sebagai berikut :
Ø
Allah adalah sumber segala kasih.
-
Eros (sensual love)
-
Philio (brotherly love)
-
Agape (super natural love)
Ø
Terlalu sulit menjelaskan kasih Allah (God’s love is beyond
Explanation); Dwight Moody adalah
seorang miskin, namun Allah berkenan kepadanya sehingga ia menjadi seorang
penginjil besar yang pernah dicatat sejarah.
Ø
Kasih Allah tanpa pandang bulu (God’s love is free). Jika Allah
memilih dalam hal mengasihi, maka bagaimana Ia masuk ke rumah Zakeus si
pemungut cukai? yang digolongkan sebagai orang berdosa pada waktu itu?
Ø
Kasih Allah tidak pernah berubah dan abadi (God’s love is
unchanging and overlasting), dari alpha hingga omega.
Ø
Allah memberkati kita karena Ia mengasihi kita (God blesses us
because He love us)
Ø
Kasih Allah diberikanNya terbaik bagi kita (God’s love involves
His best for us).
Rencana
Allah untuk manusia (CCC, 1965), dapat dibaca pada Yohanes 10 : 10b …….(Kristus
berkata), “ Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya
dalam segala kelimpahan” , suatu kehidupan yang berarti dan penuh
kebahagiaan. Apakah sebabnya banyak orang tidak pernah mengalami kehidupan yang
berkelimpahan dan penuh kebahagiaan ini? Sebab manusia penuh dosa “karena
semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”(Roma 6
: 23). Peristiwa taman eden, yaitu penciptaan manusia Adam dan berikutnya Hawa
dimaksudkan bahwa manusia diciptakan untuk bersekutu dengan Allah, akan tetapi
karena kekerasan hatinya, ia memilih jalannya sendiri sehingga persekutuannya
dengan Tuhan Allah terputus. Menurut Alkitab, kekerasan hati untuk memilih jalannya
sendiri dan ingin bebas dari Tuhan Allah disebut “dosa” dan diwujudkan,
baik dengan sikap melawan maupun dengan sikap masa bodoh. “Sebab upah dosa
ialah maut ………”(Roma 6 : 23). Terpisah dari Allah untuk selama-lamanya.
Tulisan ini mencoba mengungkap bagaimana
keinginan Tuhan Allah agar diperbuat oleh manusia. Siapa yang merupakan contoh
manusia yang diinginkan oleh Allah. Sebaliknya siapa manusia yang dibenci oleh
Tuhan Allah, sehingga ditetapkan hipotesis : Kasih Allah tidak pernah
berubah dari permulaan sampai selama-lamanya. Manusia yang membuat kasih itu berubah untuk dirinya
sendiri.
2.
KERANGKA PIKIR
Pemikiran
yang mendasari tulisan ini adalah : bahwa Kasih Allah tidak pernah berubah dari
permulaan hingga akhir. Sedangkan Agama, yang mempertanyakan sampai berapa jauh
orang dapat mengetahui semua rahasia alam tanpa harus menempatkan dirinya dalam
suatu keadaan bertentangan dengan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa
(Nasoetion, 1999). Ilmu pengetahuan yang dituntut dengan cara-cara merenung dan
berfikir untuk mendapatkannya, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita
perbuat dengan pengetahuan yang kita peroleh itu, di mana kekuatan dan
kelemahan kita dalam memburu pengetahuan itu, serta apa yang diharapkan manusia
dengan berbagai macam perilakunya tentang ilmu pengetahuan yang dituntutnya
itu. Falsafah Sains tempat yang netral untuk menjadi menara pengamatnya.
Karateristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang
ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri.
Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia
ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama (Suriasumantri,
1996). Philo adalah seorang filsuf Yahudi yang berusaha menyesuaikan ajaran Perjanjian
Lama dengan filsafat Yunani dari Plato dan Stoa. Ia mau membuktikan bahwa
segala hikmat Yunani sudah terdapat juga dalam Taurat dan surat-surat nabi-nabi
Israel. Sebab itu Philo menafsirkan Alkitab secara Alegoris (yaitu suatu
cerita atau perkara biasa ditafsirkan secara rohani, sehingga mendapat arti
yang lebih dalam dan indah). Dengan demikian nisbah/relasi/hubungan Allah
dengan manusia selaku khalik dan mahluk disamakannya saja dengan “roh dan zat
benda” dari filsafat Plato, dan Firman Tuhan dijelaskannya selaku “logos”
Yunani, yaitu zat suci, yang menghubungkan duania ilahi dengan dunia jasmani di
bumi (Berkhof dan Enklaar, 2000).
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
TUHAN ALLAH MAHA SUCI TUHAN ALLAH
![]()
![]()
![]()
Y
![]()
![]()
E
S
![]()
U
S
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
MANUSIA YANG PENUH DOSA MANUSIA
Tuhan Allah Maha Suci,
sedangkan manusia penuh dosa. Karena itu ada satu jurang pemisah antara Tuhan
Allah dengan manusia. Manusia selalu berusaha untuk mencari Tuhan Allah dan
kehidupan yang penuh kebahagiaan melalui usahanya sendiri yaitu kehidupan yang
baik, etika, filsafat dan lain-lain, namun gagal disebabkan karena dosanya
(CCC, 1965). Allah telah menjembatani jurang pemisah antara manusia dengan
diriNya ……kata Yesus kepadanya : ”Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak
ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”(Yohanes 14
: 6). Tuhan Allah telah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk mati di kayu
salib menggantikan kita. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada
kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma
5 : 8). Disini jelas dinyatakan bahwa karena kasih karunia Tuhan Allah, manusia
diselamatkan oleh imannya, bukan karena usaha manusia. “Sebab karena kasih
karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian
Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus
2 : 8,9).
3.
METODA
Untuk mencoba membuktikan hipotesis yang dibangun sebelumnya,
dalam tulisan ini diajukan dua tokoh Alkitab yang terkenal, yaitu : Metusalah
dan Nuh. Bukti yang menjadikan kedua orang ini terkenal dapat disampaikan
sebagai berikut :
3.1.
Metusalah
-
Metusalah adalah manusia yang paling lama hidup didunia ini
menurut kesaksian Alkitab, ….”Jadi Metusalah mencapaui umur sembilan ratus
enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati” (Kejadian 5 : 27). Umur yang
begitu panjang, menunjukkan bahwa Metusalah sangat berkenan dimata Allah.
-
Metusalah adalah anak dari Henokh, yang diangkat Allah, ……..”Dan
Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah
diangkat oleh Allah” (Kejadian 5 : 24). Sebelum diangkat Allah, Henokh
hidup bersama Metusalah selama 300 tahun lagi, jadi kemungkinan besar kesalehan
Henokh sudah diketahui Metusalah.
3.2.
Nuh
-
Nuh terkenal karena bahteranya, sehingga disebut bahtera Nuh.
-
Nuh adalah salah satu dari delapan orang yang diselamatkan Allah
dari air bah, ….. ”Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang
dimuka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung
diudara, sehingga semuanya itu dihapuskan dari atas bumi; hanya Nuh yang
tinggak hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu” (Kejadian
7 : 23).
3.3.
Asumsi
Untuk
memudahkan analisis, maka ditetapkan asumsi-asumsi seperti di bawah ini :
-
Diasumsikan bahwa tahun pada waktu penciptaan Adam, disebut
tahun nol (0), yaitu dimulainya semua aktifitas didunia ini.
-
Diasumsikan bahwa semua tahun yang disebutkan/ditulis dalam ayat
rujukan jaraknya/ lamanya sama.
-
Tidak ada ayat rujukan lain, selain yang terdapat pada bagian
Alkitab menurut Kitab Kejadian pasal 5 sampai pasal 9.
4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk mendapatkan hasil dan pembahasan yang akurat, ditempuh
langkah-langkah sebagai berikut :
4.1. Membuktikan Metusalah dan Nuh hidup diera yang sama.
1.
Setelah Adam hidup seratus tiga puluh
tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu
memberi nama Set kepadanya. Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus
tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan, jadi Adam mencapai
umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 3-5). Seperti
telah disampaikan sebelumnya, diasumsikan bahwa Adam diciptakan pada tahun 0
(nol). Sehingga , Adam memperanakkan Set pada tahun (0 + 130) = 130. Adam meninggal dunia pada tahun (0 +
930) = 930.
2.
Setelah set hidup seratus lima tahun, ia
memperanakkan Enos. Dan Set masih hidup delapan ratus tujuh tahun, setelah ia
memperanakkan Enos, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Set
mencapai umur sembilan ratus dua belas tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 6-8). Set
lahir pada tahun 130. Set memperanakkan Enos pada tahun (130 + 105) = 235. Set
meninggal dunia pada tahun (130 + 912) = 1042.
3.
Setelah Enos hidup sembilan puluh tahun, ia
memperanakkan Kenan. Dan Enos masih hidup delapan ratus lima belas tahun,
setelah ia memperanakkan Kenan, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan
perempuan. Jadi Enos mencapai sembilan ratus lima tahun, lalu ia mati (Kejadian
5 : 9-11). Enos lahir pada tahun 235. Enos memperanakkan Kenan pada tahun
(235 + 90) = 325. Set meninggal dunia pada tahun (235 + 905) = 1140.
4.
Setelah Kenan hidup tujuh puluh tahun, ia
memperanakkan Mahalaleel. Dan Kenan masih hidup delapan ratus empat puluh
tahun, setelah ia memperanakkan Mahalaleel, dan ia memperanakkan anak-anak
lelaki dan perempuan. Jadi Kenan mencapai umur sembilan ratus sepuluh tahun,
lalu ia mati (Kejadian 5 : 12-14). Kenan lahir pada tahun 325.
Kenan memperanakkan Mahalaleel pada tahun (325 + 70) = 395. Set meninggal dunia
pada tahun (325 + 910) = 1235.
5.
Setelah Mahalaleel hidup enam puluh
lima tahun, ia memperanakkan Yared. Dan
Mahalaleel masih hidup delapan ratus tiga puluh tahun, setelah ia memperanakkan
Yared, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Mahalaleel
mencapai umur delapan ratus sembilan puluh lima tahun, lalu ia mati (Kejadian 5
: 15-17). Mahalaleel lahir pada tahun 395. Mahalaleel memperanakkan Yared
pada tahun (395 + 65) = 460. Mahalaleel meninggal dunia pada tahun (395 + 895)
= 1290.
6.
Setelah Yared hidup seratus enam puluh
dua tahun, ia memperanakkan Henokh. Dan
Yared masih hidup delapan ratus tahun, setelah ia memperanakkan Henokh, dan ia
memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Yared mencapai umur sembilan
ratus enam puluh dua tahun , lalu ia mati (Kejadian 5 : 18-20). Yared
lahir pada tahun 460. Yared memperanakkan Henokh pada tahun (460 + 162) = 622.
Yared meninggal dunia pada tahun (460 + 962) = 1422.
7.
Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. Dan
Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia
memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.
Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada
lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah (Kejadian 5 : 21-24). Henokh
lahir pada tahun 622. Henokh memperanakkan Metusalah pada tahun (622 + 65) =
687. Henokh diangkat oleh Allah pada tahun (622 + 365) = 987.
8.
Setelah Metusalah hidup seratus delapan
puluh tujuh tahun, ia memperanakkan Lamekh. Dan Metusalah masih hidup tujuh
ratus delapan puluh dua tahun, setelah ia memperanakkan Lamekh, dan ia
memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Metusalah mencapai umur sembilan ratus enam puluh
sembilan tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 25-27).
Metusalah lahir pada tahun 687. Metusalah memperanakkan Lamekh pada tahun (687
+ 187) = 874. Metusalah meninggal dunia pada tahun (687 + 969) = 1656.
9.
Setelah Lamekh hidup seratus delapan puluh
dua tahun, ia memperanakkan Seorang anak laki-laki, dan memberi nama Nuh
kepadanya, katanya : “anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam
pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN.”
Dan Lamekh masih hidup lima ratus sembilan puluh lima tahun, setelah ia
memperanakkan Nuh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi
Lamekh mencapai umur tujuh ratus tujuh puluh tujuh tahun, lalu ia mati
(Kejadian 5 : 28-31). Lamekh lahir pada tahun 874. Lamekh memperanakkan
Nuh pada tahun (874 + 182) = 1056. Lamekh meninggal dunia pada tahun (874 +
777) = 1651.
10.
Setelah
Nuh berumur lima ratus tahun, ia memperanakkan Sem, Ham dan Yafet (Kejadian 5 :
32). Nuh lahir pada tahun 1056. Nuh memperanakkan Sem, Ham dan Yafet
pada tahun (1056 + 500) = 1556.
11.
Pada
waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua pada hari yang ketujuh
belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang
dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap langit. Dan turunlah hujan lebat
meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Pada hari itu juga
masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan
ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia kedalam bahtera itu,
(Kejadian 7 : 11-13). Peristiwa air bah terjadi pada tahun 1656,
sedangkan Metusalah juga mati pada tahun 1656. Jadi Metusalah dan Nuh hidup
diera yang sama selama 600 tahun, yaitu dari tahun 1056 sampai tahun 1656.
4.2. Membuktikan ada perbedaan Pola hidup antara Metusalah dan
Nuh.
Untuk
membuktikan perbedaan kasih Allah terhadap Metusalah dan Nuh, kita dapat
melihat peristiwa-peristiwa sebelum air bah yang berkaitan dengan Metusalah dan
Nuh. “ Ketika manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan
bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah (mungkin
termasuk Metusalah) melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu
cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan
itu, siapa saja disukai mereka “(Kejadian 6 : 1-3). “Ketika dilihat
Tuhan, bahwa kejahatan manusia (mungkin termasuk Metusalah) besar di
bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan
semata-mata , maka menyesallah Tuhan, Bahwa Ia telah menjadikan manusia di
bumi, dan hal itu memilukan hatiNya. Berfirmanlah Tuhan : Aku akan menghapuskan
manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan
binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa
Aku telah menjadikan mereka. “Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah
meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong
langit; segala yang ada dibumi akan mati binasa” (Kejadian 6 : 17).
Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan” (Kejadian 6 : 5-8). …….”Nuh
adalah seorang yang benar dan tidak bercela diantara orang-orang sesamanya; dan
Nuh itu hidup bergaul dengan Allah” (Kejadian 6 : 9b). “Lalu Nuh
melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya,
demikianlah dilakukannya” (Kejadian 6 : 22) Suatu perbedaan pola
hidup yang mencolok diantara Metusalah dan Nuh. Metusalah menjalankan hidup
yang rusak di bumi. Sebaliknya pola hidup Nuh
sesuai yang diinginkan dan diperintah oleh Allah.
4.3. Membuktikan
bahwa Pola hidup Anak tidak sama dengan Ayahnya.
Walaupun tidak dijelaskan lebih rinci bagaimana pola hidup
Metusalah, namun sudah dapat ditafsirkan bahwa tidak sesuai dengan pola hidup
dari ayahnya Henokh, yang sangat berkenan di hati Allah. Begitu juga pola hidup
anak-anak Nuh setelah air bah, tidak sama dengan Nuh. “Setelah ia (Nuh)
minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa
Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya
di luar” (Kejadian 9 : 21,22). “…..Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi
hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya” (Kejadian 9 : 25). Begitu
marahnya Nuh setelah mengetahui perbuatan anaknya Ham, sehingga ia langsung
memberi kutukan.
4.4. Cara Mati Metusalah
Alkitab tidak menceritakan secara jelas, bagaimana cara mati
metusalah, Tetapi dari pembahasan di atas bahwa baik kamatian Metusalah, maupun
peristiwa air bah sudah dapat
dipastikan terjadi pada tahun 1656. “Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun,
pada bulan yang kedua (bulan Bul, menurut penanggalan Ibrani kuno), pada
hari yang ke tujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air
samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Dan
turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya” (Kejadian
7 : 11,12). Ada dua kemungkinan kematian Metusalah, pertama mati sebelum
air bah, dan kedua kematian karena air bah. Kemungkinan pertama hanya
dimungkinkan jika umur Metusalah kurang dari 969 tahun, karena sejak kelahiran
Nuh, tanah yang mereka diami sudah dikutuk oleh Tuhan. “…..Anak ini akan
memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susuh payah di
tanah yang telah terkutuk oleh Tuhan” (Kejadian 5 : 29). Alasan berikutnya,
jika kemungkinan pertama dipilih, maka Tuhan tidak merencanakan pemusnahan bumi
dan segala isinya, sampai tiga kali berfirman. (1) “Berfirmanlah Tuhan : Aku
akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, ………………”(Kejadian
6 : 7a). (2) “Berfirmanlah Allah kepada Nuh : Aku telah memutuskan untuk
mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh
mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi”
(Kejadian 6 : 13). (3) “Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah
meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong
langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa” (Kejadian 6 : 17).
Sehingga pendapat yang mendukung kemungkinan bahwa Metusalah mati sebelum air
bah, tidak dapat dipertahankan. Yang sangat logis adalah : Metusalah mati
bersama-sama mahluk yang lain karena air bah; “Demikianlah dihapuskan Allah
segala yang ada, segala yang dimuka bumi, baik manusia maupun hewan dan
binatang melata dan burung-burung di udara, sehingga semuanya itu dihapuskan
dari atas bumi; hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan
dia dalam bahtera itu” (Kejadian 7 : 23). Ayat Alkitab di atas menjadi
antiklimaks, bahwa Metusalah dibinasakan bersama manusia yang lain pada waktu
air bah disatu pihak, sedangkan Nuh dipihak yang lain, bersama dengan keluarganya
diselamatkan oleh Allah. Disitulah PARADOKSNYA. Metusalah manusia terakhir yang
menjembatani manusia pertama, yaitu Adam dan sekaligus mewakili manusia sebelum
zaman air bah, sedangkan Nuh merupakan manusia yang melanjutkan generasi
manusia (nenek moyang) hingga sekarang, dan dapat pula disebut orang pertama
pada dunia seri kedua. Dunia yang didiami Adam-Metusalah disebut oleh Petrus
sebagai “dunia Purba” (2 Petrus 2 : 5). Bagaimana nasib dunia seri kedua ini? “
Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan
kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yohanes 2 : 17). Kasih Allah
tidak pernah berubah, manusia yang mengubah nasibnya sendiri yaitu tidak
melakukan kehendak Allah. Sehingga hipotesis, terbukti kebenarannya. Lalu Dia
yang duduk di atas takhta itu berkata, “Sekarang Aku membuat semuanya baru”.
…”Tulis ini, sebab perkataan-perkataan ini benar dan dapat dipercayai”. Lalu Ia
berkata, “ Sudah selesai! Akulah yang pertama dan terakhir; Akulah Tuhan dari
permulaan sampai Penghabisan. Setiap orang yang haus, akan Kuberi minum dengan
Cuma-Cuma dari sumber air yang memberi hidup (LAI, 1999).
5.
PENUTUP
Dari
hasil dan pembahasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut
:
(1).
Metusalah dan Nuh pernah hidup pada era yang sama selama 600 tahun.
(2). Pola hidup Metusalah dan Nuh sangatlah
berbeda, Metusalah larut dalam kehidupan dunia, sedanglan Nuh selalu
melaksanakan keinginan Allah.
(3). Sebagaimana Metusalah pola hidupnya
tidak sama dengan ayahnya Henokh, begitu juga dengan anak-anaknya Nuh tidak
sama pola hidupnya dengan kehidupan Nuh. Kurang berkenan kepada Allah.
(4). Metusalah mati karena air bah,
sedangkan Nuh dan keluarganya diselamatkan dari air bah. Itulah yang menjadi
Paradoks.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab, 1996. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Lembaga
Alkitab Indonesia. Jakarta Indonesia.
Berkhof, H. dan Enklaar I.H. 2000. Sejarah Gereja. PT BPK Gunung
Mulia. Jakarta Indonesia.
Bright, Bill. 1995. The Coming Revival. America’s Call to Fast,
Pray, and Seek God’s Face. A ministry of Campus Crusade for Christ. Orlando,
USA.
__________1998. God, Discover His Character. A ministry of
Campus Crusade for Christ. Orlando, USA.
LAI (LEMBAGA ALKITAB INDONESIA). 1999. Direformasi untuk
Mereformasi. Lembagai Alkitab Indonesia. Jakarta Indonesia.
Nasoetion, Andi Hakim. 1999. Pengantar ke Falsafah Sains. Litera
AntarNusa. Jakarta Indonesia.
Suriasumantri, Jujun S. 1996. Filasafat Ilmu Sebuah Pengantar
Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta Indonesia.