Posted 24 May 2001  [RCT]      http:tumoutou.net/maanema.doc

 

Makalah Individual

Pengantar ke Falsafah Sains (PPS 702)

Program Pasca Sarjana (S3) Institut Pertanian Bogor

 

Dosen : Prof. Dr. Ir. Rudy Tarumingkeng

 

 

METUSALAH - NUH PARADOKS

Oleh :

Max Maanema

SPL P31600009

e-mail: maanema@yahoo.com

 

 

 

1.         PENDAHULUAN

 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

  Bright, B. (1996) mengulas salah satu sifat Allah dari sekian banyak sifat-sifat Allah dalam hubungannya dengan manusia adalah : Allah adalah Kasih (God is love)(1 Yohanes 4 : 8b). Kasih Allah yang diimplementasikan kepada kehidupan manusia diuraikan sebagai berikut :

Ø         Allah adalah sumber segala kasih.

-                                    Eros (sensual love)

-                                    Philio (brotherly love)

-                                    Agape (super natural love)

Ø         Terlalu sulit menjelaskan kasih Allah (God’s love is beyond Explanation);  Dwight Moody adalah seorang miskin, namun Allah berkenan kepadanya sehingga ia menjadi seorang penginjil besar yang pernah dicatat sejarah.

Ø         Kasih Allah tanpa pandang bulu (God’s love is free). Jika Allah memilih dalam hal mengasihi, maka bagaimana Ia masuk ke rumah Zakeus si pemungut cukai? yang digolongkan sebagai orang berdosa pada waktu itu?

Ø         Kasih Allah tidak pernah berubah dan abadi (God’s love is unchanging and overlasting), dari alpha hingga omega.

Ø         Allah memberkati kita karena Ia mengasihi kita (God blesses us because He love us)

Ø         Kasih Allah diberikanNya terbaik bagi kita (God’s love involves His best for us).

Rencana Allah untuk manusia (CCC, 1965), dapat dibaca pada Yohanes 10 : 10b …….(Kristus berkata), “ Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” , suatu kehidupan yang berarti dan penuh kebahagiaan. Apakah sebabnya banyak orang tidak pernah mengalami kehidupan yang berkelimpahan dan penuh kebahagiaan ini? Sebab manusia penuh dosa “karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”(Roma 6 : 23). Peristiwa taman eden, yaitu penciptaan manusia Adam dan berikutnya Hawa dimaksudkan bahwa manusia diciptakan untuk bersekutu dengan Allah, akan tetapi karena kekerasan hatinya, ia memilih jalannya sendiri sehingga persekutuannya dengan Tuhan Allah terputus. Menurut Alkitab, kekerasan hati untuk memilih jalannya sendiri dan ingin bebas dari Tuhan Allah disebut “dosa” dan diwujudkan, baik dengan sikap melawan maupun dengan sikap masa bodoh. “Sebab upah dosa ialah maut ………”(Roma 6 : 23). Terpisah dari Allah untuk selama-lamanya.

  Tulisan ini mencoba mengungkap bagaimana keinginan Tuhan Allah agar diperbuat oleh manusia. Siapa yang merupakan contoh manusia yang diinginkan oleh Allah. Sebaliknya siapa manusia yang dibenci oleh Tuhan Allah, sehingga ditetapkan hipotesis : Kasih Allah tidak pernah berubah dari permulaan sampai selama-lamanya. Manusia yang  membuat kasih itu berubah untuk dirinya sendiri.

 

2.         KERANGKA PIKIR

Pemikiran yang mendasari tulisan ini adalah : bahwa Kasih Allah tidak pernah berubah dari permulaan hingga akhir. Sedangkan Agama, yang mempertanyakan sampai berapa jauh orang dapat mengetahui semua rahasia alam tanpa harus menempatkan dirinya dalam suatu keadaan bertentangan dengan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa (Nasoetion, 1999). Ilmu pengetahuan yang dituntut dengan cara-cara merenung dan berfikir untuk mendapatkannya, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita perbuat dengan pengetahuan yang kita peroleh itu, di mana kekuatan dan kelemahan kita dalam memburu pengetahuan itu, serta apa yang diharapkan manusia dengan berbagai macam perilakunya tentang ilmu pengetahuan yang dituntutnya itu. Falsafah Sains tempat yang netral untuk menjadi menara pengamatnya. Karateristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama (Suriasumantri, 1996). Philo adalah seorang filsuf Yahudi yang berusaha menyesuaikan ajaran Perjanjian Lama dengan filsafat Yunani dari Plato dan Stoa. Ia mau membuktikan bahwa segala hikmat Yunani sudah terdapat juga dalam Taurat dan surat-surat nabi-nabi Israel. Sebab itu Philo menafsirkan Alkitab secara Alegoris (yaitu suatu cerita atau perkara biasa ditafsirkan secara rohani, sehingga mendapat arti yang lebih dalam dan indah). Dengan demikian nisbah/relasi/hubungan Allah dengan manusia selaku khalik dan mahluk disamakannya saja dengan “roh dan zat benda” dari filsafat Plato, dan Firman Tuhan dijelaskannya selaku “logos” Yunani, yaitu zat suci, yang menghubungkan duania ilahi dengan dunia jasmani di bumi (Berkhof dan Enklaar, 2000).

                                                                                                                                                         

 TUHAN ALLAH MAHA SUCI              TUHAN ALLAH  

                                                Y

                                                E

                                                S

                                                U

                                                S

   

MANUSIA YANG PENUH DOSA          MANUSIA

 

  Tuhan Allah Maha Suci, sedangkan manusia penuh dosa. Karena itu ada satu jurang pemisah antara Tuhan Allah dengan manusia. Manusia selalu berusaha untuk mencari Tuhan Allah dan kehidupan yang penuh kebahagiaan melalui usahanya sendiri yaitu kehidupan yang baik, etika, filsafat dan lain-lain, namun gagal disebabkan karena dosanya (CCC, 1965). Allah telah menjembatani jurang pemisah antara manusia dengan diriNya ……kata Yesus kepadanya : ”Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”(Yohanes 14 : 6). Tuhan Allah telah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk mati di kayu salib menggantikan kita. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5 : 8). Disini jelas dinyatakan bahwa karena kasih karunia Tuhan Allah, manusia diselamatkan oleh imannya, bukan karena usaha manusia. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2 : 8,9).

3.         METODA

 

Untuk mencoba membuktikan hipotesis yang dibangun sebelumnya, dalam tulisan ini diajukan dua tokoh Alkitab yang terkenal, yaitu : Metusalah dan Nuh. Bukti yang menjadikan kedua orang ini terkenal dapat disampaikan sebagai berikut :

3.1.       Metusalah

-            Metusalah adalah manusia yang paling lama hidup didunia ini menurut kesaksian Alkitab, ….”Jadi Metusalah mencapaui umur sembilan ratus enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati” (Kejadian 5 : 27). Umur yang begitu panjang, menunjukkan bahwa Metusalah sangat berkenan dimata Allah.

-            Metusalah adalah anak dari Henokh, yang diangkat Allah, ……..”Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah” (Kejadian 5 : 24). Sebelum diangkat Allah, Henokh hidup bersama Metusalah selama 300 tahun lagi, jadi kemungkinan besar kesalehan Henokh sudah diketahui Metusalah.

3.2.       Nuh

-            Nuh terkenal karena bahteranya, sehingga disebut bahtera Nuh.

-            Nuh adalah salah satu dari delapan orang yang diselamatkan Allah dari air bah, ….. ”Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang dimuka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung diudara, sehingga semuanya itu dihapuskan dari atas bumi; hanya Nuh yang tinggak hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu” (Kejadian 7 : 23).

3.3.       Asumsi

Untuk memudahkan analisis, maka ditetapkan asumsi-asumsi seperti di bawah ini :

-            Diasumsikan bahwa tahun pada waktu penciptaan Adam, disebut tahun nol (0), yaitu dimulainya semua aktifitas didunia ini.

-            Diasumsikan bahwa semua tahun yang disebutkan/ditulis dalam ayat rujukan jaraknya/ lamanya sama.

-            Tidak ada ayat rujukan lain, selain yang terdapat pada bagian Alkitab menurut Kitab Kejadian pasal 5 sampai pasal 9.

 

4.         HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Untuk mendapatkan hasil dan pembahasan yang akurat, ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :

 

4.1. Membuktikan Metusalah dan Nuh hidup diera yang sama.

1.         Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan, jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 3-5). Seperti telah disampaikan sebelumnya, diasumsikan bahwa Adam diciptakan pada tahun 0 (nol). Sehingga , Adam memperanakkan Set pada tahun (0 + 130)  = 130. Adam meninggal dunia pada tahun (0 + 930) = 930.

2.         Setelah set hidup seratus lima tahun, ia memperanakkan Enos. Dan Set masih hidup delapan ratus tujuh tahun, setelah ia memperanakkan Enos, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Set mencapai umur sembilan ratus dua belas tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 6-8). Set lahir pada tahun 130. Set memperanakkan Enos pada tahun (130 + 105) = 235. Set meninggal dunia pada tahun (130 + 912) = 1042.

3.         Setelah Enos hidup sembilan puluh tahun, ia memperanakkan Kenan. Dan Enos masih hidup delapan ratus lima belas tahun, setelah ia memperanakkan Kenan, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Enos mencapai sembilan ratus lima tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 9-11). Enos lahir pada tahun 235. Enos memperanakkan Kenan pada tahun (235 + 90) = 325. Set meninggal dunia pada tahun (235 + 905) = 1140.

4.         Setelah Kenan hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Mahalaleel. Dan Kenan masih hidup delapan ratus empat puluh tahun, setelah ia memperanakkan Mahalaleel, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Kenan mencapai umur sembilan ratus sepuluh tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 12-14). Kenan lahir pada tahun 325. Kenan memperanakkan Mahalaleel pada tahun (325 + 70) = 395. Set meninggal dunia pada tahun (325 + 910) = 1235.

5.         Setelah Mahalaleel hidup enam puluh lima  tahun, ia memperanakkan Yared. Dan Mahalaleel masih hidup delapan ratus tiga puluh tahun, setelah ia memperanakkan Yared, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Mahalaleel mencapai umur delapan ratus sembilan puluh lima tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 15-17). Mahalaleel lahir pada tahun 395. Mahalaleel memperanakkan Yared pada tahun (395 + 65) = 460. Mahalaleel meninggal dunia pada tahun (395 + 895) = 1290.

6.         Setelah Yared hidup seratus enam puluh dua  tahun, ia memperanakkan Henokh. Dan Yared masih hidup delapan ratus tahun, setelah ia memperanakkan Henokh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Yared mencapai umur sembilan ratus enam puluh dua tahun , lalu ia mati (Kejadian 5 : 18-20). Yared lahir pada tahun 460. Yared memperanakkan Henokh pada tahun (460 + 162) = 622. Yared meninggal dunia pada tahun (460 + 962) = 1422.

7.         Setelah Henokh hidup enam puluh lima  tahun, ia memperanakkan Metusalah. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima  tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah (Kejadian 5 : 21-24). Henokh lahir pada tahun 622. Henokh memperanakkan Metusalah pada tahun (622 + 65) = 687. Henokh diangkat oleh Allah pada tahun (622 + 365) = 987.

8.         Setelah Metusalah hidup seratus delapan puluh tujuh tahun, ia memperanakkan Lamekh. Dan Metusalah masih hidup tujuh ratus delapan puluh dua tahun, setelah ia memperanakkan Lamekh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Metusalah  mencapai umur sembilan ratus enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 25-27). Metusalah lahir pada tahun 687. Metusalah memperanakkan Lamekh pada tahun (687 + 187) = 874. Metusalah meninggal dunia pada tahun (687 + 969) = 1656.

9.         Setelah Lamekh hidup seratus delapan puluh dua tahun, ia memperanakkan Seorang anak laki-laki, dan memberi nama Nuh kepadanya, katanya : “anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN.” Dan Lamekh masih hidup lima ratus sembilan puluh lima tahun, setelah ia memperanakkan Nuh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Lamekh mencapai umur tujuh ratus tujuh puluh tujuh tahun, lalu ia mati (Kejadian 5 : 28-31). Lamekh lahir pada tahun 874. Lamekh memperanakkan Nuh pada tahun (874 + 182) = 1056. Lamekh meninggal dunia pada tahun (874 + 777) = 1651.

10.     Setelah Nuh berumur lima ratus tahun, ia memperanakkan Sem, Ham dan Yafet (Kejadian 5 : 32). Nuh lahir pada tahun 1056. Nuh memperanakkan Sem, Ham dan Yafet pada tahun (1056 + 500) = 1556.

11.     Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia kedalam bahtera itu, (Kejadian 7 : 11-13). Peristiwa air bah terjadi pada tahun 1656, sedangkan Metusalah juga mati pada tahun 1656. Jadi Metusalah dan Nuh hidup diera yang sama selama 600 tahun, yaitu dari tahun 1056 sampai tahun 1656.

 

 

 

4.2. Membuktikan ada perbedaan Pola hidup antara Metusalah dan Nuh.

  Untuk membuktikan perbedaan kasih Allah terhadap Metusalah dan Nuh, kita dapat melihat peristiwa-peristiwa sebelum air bah yang berkaitan dengan Metusalah dan Nuh. “ Ketika manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah (mungkin termasuk Metusalah) melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja disukai mereka “(Kejadian 6 : 1-3). “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia (mungkin termasuk Metusalah) besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata , maka menyesallah Tuhan, Bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya. Berfirmanlah Tuhan : Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. “Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada dibumi akan mati binasa” (Kejadian 6 : 17). Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan” (Kejadian 6 : 5-8). …….”Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela diantara orang-orang sesamanya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah” (Kejadian 6 : 9b). “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya” (Kejadian 6 : 22) Suatu perbedaan pola hidup yang mencolok diantara Metusalah dan Nuh. Metusalah menjalankan hidup yang rusak di bumi. Sebaliknya pola hidup Nuh  sesuai yang diinginkan dan diperintah oleh Allah.

 

4.3.    Membuktikan bahwa Pola hidup Anak tidak sama dengan Ayahnya.

Walaupun tidak dijelaskan lebih rinci bagaimana pola hidup Metusalah, namun sudah dapat ditafsirkan bahwa tidak sesuai dengan pola hidup dari ayahnya Henokh, yang sangat berkenan di hati Allah. Begitu juga pola hidup anak-anak Nuh setelah air bah, tidak sama dengan Nuh. “Setelah ia (Nuh) minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar” (Kejadian 9 : 21,22). “…..Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya” (Kejadian 9 : 25). Begitu marahnya Nuh setelah mengetahui perbuatan anaknya Ham, sehingga ia langsung memberi kutukan.

 

4.4. Cara Mati Metusalah

Alkitab tidak menceritakan secara jelas, bagaimana cara mati metusalah, Tetapi dari pembahasan di atas bahwa baik kamatian Metusalah, maupun peristiwa  air bah sudah dapat dipastikan terjadi pada tahun 1656. “Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua (bulan Bul, menurut penanggalan Ibrani kuno), pada hari yang ke tujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya” (Kejadian 7 : 11,12). Ada dua kemungkinan kematian Metusalah, pertama mati sebelum air bah, dan kedua kematian karena air bah. Kemungkinan pertama hanya dimungkinkan jika umur Metusalah kurang dari 969 tahun, karena sejak kelahiran Nuh, tanah yang mereka diami sudah dikutuk oleh Tuhan. “…..Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susuh payah di tanah yang telah terkutuk oleh Tuhan” (Kejadian 5 : 29). Alasan berikutnya, jika kemungkinan pertama dipilih, maka Tuhan tidak merencanakan pemusnahan bumi dan segala isinya, sampai tiga kali berfirman. (1) “Berfirmanlah Tuhan : Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, ………………”(Kejadian 6 : 7a). (2) “Berfirmanlah Allah kepada Nuh : Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi” (Kejadian 6 : 13). (3) “Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa” (Kejadian 6 : 17). Sehingga pendapat yang mendukung kemungkinan bahwa Metusalah mati sebelum air bah, tidak dapat dipertahankan. Yang sangat logis adalah : Metusalah mati bersama-sama mahluk yang lain karena air bah; “Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang dimuka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung di udara, sehingga semuanya itu dihapuskan dari atas bumi; hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu” (Kejadian 7 : 23). Ayat Alkitab di atas menjadi antiklimaks, bahwa Metusalah dibinasakan bersama manusia yang lain pada waktu air bah disatu pihak, sedangkan Nuh dipihak yang lain, bersama dengan keluarganya diselamatkan oleh Allah. Disitulah PARADOKSNYA. Metusalah manusia terakhir yang menjembatani manusia pertama, yaitu Adam dan sekaligus mewakili manusia sebelum zaman air bah, sedangkan Nuh merupakan manusia yang melanjutkan generasi manusia (nenek moyang) hingga sekarang, dan dapat pula disebut orang pertama pada dunia seri kedua. Dunia yang didiami Adam-Metusalah disebut oleh Petrus sebagai “dunia Purba” (2 Petrus 2 : 5). Bagaimana nasib dunia seri kedua ini? “ Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yohanes 2 : 17). Kasih Allah tidak pernah berubah, manusia yang mengubah nasibnya sendiri yaitu tidak melakukan kehendak Allah. Sehingga hipotesis, terbukti kebenarannya. Lalu Dia yang duduk di atas takhta itu berkata, “Sekarang Aku membuat semuanya baru”. …”Tulis ini, sebab perkataan-perkataan ini benar dan dapat dipercayai”. Lalu Ia berkata, “ Sudah selesai! Akulah yang pertama dan terakhir; Akulah Tuhan dari permulaan sampai Penghabisan. Setiap orang yang haus, akan Kuberi minum dengan Cuma-Cuma dari sumber air yang memberi hidup (LAI, 1999).

 

5.     PENUTUP

 

Dari hasil dan pembahasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

(1). Metusalah dan Nuh pernah hidup pada era yang sama selama 600 tahun.

(2). Pola hidup Metusalah dan Nuh sangatlah berbeda, Metusalah larut dalam kehidupan dunia, sedanglan Nuh selalu melaksanakan keinginan Allah.

(3). Sebagaimana Metusalah pola hidupnya tidak sama dengan ayahnya Henokh, begitu juga dengan anak-anaknya Nuh tidak sama pola hidupnya dengan kehidupan Nuh. Kurang berkenan kepada Allah.

(4). Metusalah mati karena air bah, sedangkan Nuh dan keluarganya diselamatkan dari air bah. Itulah yang menjadi Paradoks.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alkitab, 1996. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta Indonesia.

 

Berkhof, H. dan Enklaar I.H. 2000. Sejarah Gereja. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta Indonesia.

 

Bright, Bill. 1995. The Coming Revival. America’s Call to Fast, Pray, and Seek God’s Face. A ministry of Campus Crusade for Christ. Orlando, USA.

 

__________1998. God, Discover His Character. A ministry of Campus Crusade for Christ. Orlando, USA.

 

LAI (LEMBAGA ALKITAB INDONESIA). 1999. Direformasi untuk Mereformasi. Lembagai Alkitab Indonesia. Jakarta Indonesia.

 

Nasoetion, Andi Hakim. 1999. Pengantar ke Falsafah Sains. Litera AntarNusa. Jakarta Indonesia.

 

Suriasumantri, Jujun S. 1996. Filasafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta Indonesia.