script type="text/javascript">
Oleh:
Rudy C Tarumingkeng, PhD[2]
<klik nomor catatan kaki untuk melihat
acuan atau URL>
Biologi, Ilmu Hayati dan perkembangannya
Saya mengawali presentasi ini dengan menyinggung dua istilah yang sering kita pertukarkan (dan memang tidak ada salahnya) yaitu Ilmu Hayati (Life Science) dan Biologi, yang pernah disinggung oleh Prof Edi Guhardja[3] pada Rapat Kerja PSIH, Januari 2001. Kita telah memaklumi apa yang dimaksud dengan biologi, sedangkan cakupan Ilmu Hayati meliputi konteks biologi dan kaitan biologi dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya seperti kimia, fisika dan matematika – dan dalam arti yang luas merupakan ilmu kehidupan termasuk lingkungan hidup sampai segi-segi etika, moral, legal dan social yang berhubungan dengan implikasi kemajuan penelitian biologi.
Salah satu contoh cakupan ilmu hayati tampak jika kita megunjungi situs The Human Genome Project [4] yang melakukan identifikasi pasangan-pasangan dari sekitar 3 milyar basis kimia yang telah diidentifikasi membentuk abjad genetika manusia, sebagai tindak lanjut hasil pemetaan kode informasi DNA. Proyek ini direncanakan selesai tahun 2005, dan kajian proyek ini juga menyentuh isu-isu etika, legal dan social (ELSI: Ethical, Legal and Social issues). Proyek genom seperti ini yang disponsori oleh US National Institute of Health, Department of Energy dan perusahaan-perusahaan farmasi, juga melakukan hal yang sama untuk genom-genom mahluk hidup lain terutama virus dan bacteria patogen. Dengan berkembangnya teknologi otomasi peralatan laboratorium bio-teknologi kini telah memungkinkan para peneliti secara cepat, efisien dan ekonomis melakukan pemetaan dan sequencing gen dalam skala besar [5].
Selanjutnya, berbagai visi penelitian ilmu hayati terlihat
pada beberapa majalah, konteks pengajaran
serta organisasi Kajian dan Penelitian Ilmu Hayati seperti contoh berikut:
Di University of California Los Angeles [6] terdapat Department of Organismic Biology, Ecology, and Evolution yang mencakup semua aras biologi: dari proses-proses regulasi dan fisiologi organisme, ekologi, evolusi dan perilaku mahluk hidup sampai.genetika dan dinamika multi-spesies.
Biologi Struktur Alami (Natural Sructural Biology)
[7],
sebagai kajian bentuk dan fungsi biomolekuler dengan menggunakan teknik-teknik X-ray
crystallography, NMR spectroscopy dan electron cryomicroscopy, dan
studi pelipatan protein (protein folding), sudah banyak dimiliki oleh
perguruan-perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian di benua Amerika dan
Eropah.. Modeling
System Biology [8]
mengkaji berbagai topik meditek seperti
model-model sel dan metabolisme, biosimulasi, dan model-model pengobatan
penyakit kanker.
Contoh-contoh yang dikemukakan di muka di samping diangkat untuk
menunjukkan berbagai aspek ilmu hayati, juga sekaligus menunjukkan betapa
majunya perkembangan ilmu hayati masa kini.
Dibandingkan 25-30 tahun lampau biologi masa kini memang telah mengalami banyak kemajuan dan berlangsung dengan laju yang tinggi. Pada awal 1970-an, bekerja dengan mikroskop electron transmisi (transmission electon microscope), memotong jaringan dengan ultra mikrotom, menyaksikan dan mendeskripsikan neuron, mitokondria dan badan-badan sel lainnya sudah merupakan “state of the art” pada waktu itu [9]. Pada saat itu belum terbayangkan akan dapat ditemukan genom berbagai mahluk hidup dengan sekuens protein dan kaitan-kaitan fungsi informasi yang dikandungnya. Istilah-istilah Genomika (Genomics) dan Biologi Struktur (Structural Biology) yang kini menjadi topik-topik yang hangat dalam studi Biologi saat itu bahkan belum lazim terdengar.
Biologi adalah ilmu pengetahuan yang paling lekat dengan manusia dalam alam lingkungan kehidupannya. Pada akhir decade 1990-an Olson[10] mengangkat topik-topik genetika, keragaman hayati, ilmu syaraf (neuroscience), evolusi serta moral dan etika dalam bahasannya mengenai masa depan perkembangan ilmu hayati dan sekaligus merupakan strategi masa depan bagi pengembangannya.
Namun, dibalik kenyataan akan kemajuan-kemajuan yang dicapai ilmu hayati dan biologi, jika kita melihat jauh ke depan, seberapa siapkah umat manusia dengan pengetahuannya dalam ilmu hayati mengantisipasi kelestarian kehidupannya di bumi?. Dalam studi ekologi kita mengetahui jaring-jaring makanan (foodwebs), teori evolusi dan filogenetika, habitat dan ekosistem dan berbagai aspek yang berkaitan dengan ketergantungan antar spesies dalam kehidupan dan lingkungannya di bumi ini. Walaupun perkembangan pengetahuan termasuk biologi bertumbuh eksponensial, pengetahuan mengenai besarnya keragaman hayati masih juga belum memadai untuk perencanaan konservasi masa depan. Memang banyak faktor yang menentukan kepunahan spesies antara lain wabah penyakit, ekstraksi melebihi potensi reproduksi tapi faktor utama adalah perusakan habitat dan ekosistem [11]
Dalam konteks ini, mungkin akan muncul pertanyaan: berapa jumlah spesies mahluk hidup di bumi ini?
Sampai kini telah dideskripsikan dan diberi
nama sekitar 1.7 juta spesies mahluk hidup, daripadanya kurang lebih 1 juta
spesies adalah serangga. Diperkirakan,
masih sekitar 10 juta spesies serangga
yang belum dideskripsi[12]
dan perkiraan jumlah spesies mahluk hidup adalah 12.5
juta (pendapat tentang jumlah spesies berkisar dari 5 – 100 juta [13]). Lebih jauh, hutan tropika basah yang menutupi
8 persen permukaan daratan bumi dihuni oleh 90 persen spesies yang ada di bumi[14]
. Magnitud keragaman hayati demikian besar dan rumitnya karena setiap spesies
menyimpan informasi genetiknya masing-masing, demikian pula setiap individu
dari masing-masing spesies memiliki versi gen yang berbeda-beda. Mengenai banyaknya gen, bakteria
memiliki sekitar 1000 gen, fungi sekitar 10.000 dan hewan tingkat tinggi
memiliki sekitar 10.000 – 50.000, sedangkan gen pada Angiospermae mencapai
400.000. Gambaran tentang keragaman hayati ini memberikan sugesti kepada kita betapa
besar ragam kehidupan ini dan betapa sulitnya tugas manusia untuk melestarikan
kehidupan. Jika suatu
spesies punah maka gen-nya juga punah untuk selama-lamanya.
Segi moral, etik dan legal
Tak
dapat disangkal bahwa hasil-hasil penelitian genom manusia dan genom-genom
lainnya dari segi ilmiah sangat bermanfaat bagi keselamatan manusia untuk
mengatasi berbagai defisiensi genetik (pengobatan). Bahkan diramalkan bahwa 10
– 20 tahun mendatang pengobatan dengan gen akan merupakan teknik yang umum di
rumah-rumah sakit. Namun kita sama-sama memaklumi akan dampak-dampak negatif
yang diakibatkannya jika teknik manipulasi genom manusia ini digunakan secara amoral dan melanggar
etik kehidupan masyarakat semisal pada cloning. Dalam hubungan ini perlu
dikemukakan adanya Universal Declaration on
the Human Genome and Human Rights [15],
yang diadopsi secara aklamasi oleh
General Conference UNESCO (1997), di mana
dinyatakan akan perlunya setiap negara memperhatikan isu-isu etik dalam
pengembangan sains dan teknologi berkaitan dengan genom manusia. Isu moral dan
etik perlu didasarkan atas harkat
manusia itu sendiri, menghormati kodrat
manusia pada kedudukan yang sama tanpa memandang ciri-ciri genetik, menghormati
keunikan dan keragaman, dan seterusnya. Masalah bio-etik dan aspek-aspek legal masih perlu
dikembangkan oleh setiap negara dan perlu terus menerus dicermati sejalan
dengan kemajuan ilmu hayati khususnya penerapan teknik genom manusia.
Presentasi singkat ini telah mengangkat beberapa butir
strategis sebagai tantangan biologiwan abad ini. Pertama, memacu kemampuan kita
untuk melaksanakan penelitian ilmu hayati seiring dengan kemajuan yang telah
dicapai dunia; kedua, meningkatkan kemampuan untuk berperan dalam
studi-studi keragaman hayati dalam upaya pelestarian alam kehidupan, dan ketiga
ikut berperan dalam mengembangkan studi genom dan mencermati teknik-teknik
penggunaan genom sesuai tuntutan nilai-nilai etik, moral, sosial dan agama yang
dianut serta menggembangkan instrumen-instrumen legal demi keselamatan umat
manusia.
[1] Keynote address pada Pembukaan Seminar Nasional
Hasil-hasil Penelitian Biologi, di Pusat Studi Ilmu Hayati, Institut Pertanian
Bogor, 20 September 2001.
[2] Gurubesar dan Anggota Senat Akademik Badan Hukum Milik
Negara -IPB
[3] Edi Guhardja. 2001. Sustainability dan Prospek dari
Pusat Studi Ilmu Hayati (PSIH). Makalah, Rapat Kerja PSIH IPB, 15 Jan. 2001
[4] What is the Genome Project? http://tqjunior.thinkquest.org/3572/
[5] Beyond biology http://www.ornl.gov/hgmis/publicat/tko/07_beyond.html
[6] Organismic Biology, Ecology, and Evolution http://www.obee.ucla.edu/
[7] Nature Structural Biology. http://www.nature.com/nsb/nsb_evolution/index.html
[8] Modeling System Biology. http://www.beyondgenome.com/isb.htm
[9] R.C. Tarumingkeng,, H. C. Coppel, and F.Matsumura,
1976: Morphology and Ultrastructure of the Antennal Chemoreceptors and
Mechanoreceptors of Worker Coptotermes
formosanus Shiraki. Cell and Tissue Research (Springer-Verlag) 173 : 172 -
178.
[10] Steve Olson: 1989.
Shaping the Future: Biology and Human Values. National Academy Press. http://books.nap.edu/books/0309039479/html/R1.html
[11]Scientific Perspectives on
Species Protection. .http://www.creationcare.org/PublicPolicy/Species/Science/science.html
[12]Rudy C Tarumingkeng, 2001. Serangga dan Lingkungan Hidup.
http://www.tumoutou.net/SERANGGA_LINGK.htm
[13] Geo-2000. Biodiversity http://www.unep.org/Geo2000/english/0045.htm .
[14]Geo-2000. Biodiversity. Op. cit.
[15] Universal Declaration on the Human Genome and Human
Rights (1997). http://www.unesco.org/human_rights/hrbc.htm