script type="text/javascript"> FALSAFAH SAINS

Posted: 24 May 2001  [RCT]         http://tumoutou.net/r_rompas.htm

 

 

PENCIPTAAN  LANGIT DAN BUMI SERTA ISINYA

 

 

 

 

 

PENGANTAR  KE FALSAFAH  SAINS (PPS 702) /S3

DOSEN: Prof. Dr. Ir. RUDY C. TARUMINGKENG

 

 

 

 

Oleh

ROMPAS ROBERT JULIUS

NRP. 31600022/SPL

e-mail: rompasrobert@telkom.net

 

 


 

 

 

 


PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2001

 

 

FALSAFAH SAINS       :  PPS 7021

DOSEN                           :  Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng

TOPIK                              :  PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI SERTA ISINYA

ACUAN                           :  ALKITAB (Kitab Kejadian Pasal 1 dan 2)

DISUSUN OLEH            :  Rompas Robert Julius (NRP. P31600022)/SPL

 

PENDAHULUAN

Pengakuan Iman Kristen yaitu Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nicea – Konstantinopel adalah pengakuan tentang Allah sebagai pencipta langit dan bumi atau alam semesta.  Pengakuan Iman Rasuli berbunyi : “ Aku percaya kepada Allah, Bapa Yang Maha Kuasa, Khalik langit dan bumi ”. Sedangkan Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel berbunyi : “ Aku percaya kepada satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi, segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan “. Penggunaan istilah “ segala kelihatan dan yang tidak kelihatan “ dalam pengakuan Iman Nicea Konstantinopel menunjukan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu tanpa kecuali. Allah menciptakan segala sesuatu baik yang dikenal dan sudah dikenal maupun yang tidak dan belum dikenal manusia. Pengakuan iman itu didasarkan atas kesaksian Alkitab, Pejanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang mengatakan bahwa Allah adalah pencipta dan karena itu menjadi sumber segala sesuatu.

Kitab Suci Alkitab dimulai dengan kesaksian yang menceritakan tentang penciptaan langit dan bumi serta segala isinya, termasuk manusia (Kejadian :  1 –2); dan diakhiri dengan kesaksian yang menyatakan bahwa Allah akan membaharui ciptaan-Nya dalam langit dan bumi baru (Wahyu, 21 : ayat 1 dan 5).

Berdasarkan atas kesaksian itu, maka Iman Kristen mengakui bahwa hanya Allah yang menjadi satu-satunya penguasa yang menjadi sumber segala sesuatu dan yang menjadi penyebab terjadinya segala sesuatu.  Oleh karena pengakuan berbeda dengan pembuktian, maka pengakuan tentang penciptaan langit dan bumi atau penciptaan alam semesta termasuk manusia dimaksudkan untuk menceritakan tentang proses terjadinya alam semesta termasuk manusia, tetapi pengakuan tentang eksistensi Allah.

 

 

PROSES PENCIPTAAN MENURUT  ISI ALKITAB

 

Kejadian Pasal 1 dan 2

 

Pada mulanya  Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air. Hari pertama.  Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkanNyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang dan gelap itu malam.

 

Hari kedua. Berfirmanlah Allah: “jadilah cakrawala ditengah segala air untuk memisahkan air dari air. Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada dibawah cakrawalah dan air yang ada diatasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai itu langit.

 

Hari ketiga. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang berada dibawah langit berkumpul disuatu tempat, sehingga kelihatan yang kering” Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamaiNya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi. Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat semuanya itu baik.

 

Hari keempat. Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dan malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi”. Dan jadilah demikian. Maka Alla menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu dicakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan  terang dari gelap. Allah melihat semuanya itu baik.

 

Hari kelima. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah dalam air berkeriapan mahluk yang hidup, dan hendaklah burung berterbangan diatas bumi melintasi cakrawala. Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis mahluk hidup yang bergerak, yangb berkeriapan dalam air dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, firmanNya: “Berkembang-biaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung dibumi bertambah banyak.

 

Hari keenam. Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis mahluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar”. Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata dimuka bumi. Allah melihat semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah di ciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan. Allah memberkati mereka ……………. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik ……………penciptaan manusia. …….. ada kabut naik keatas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi,  ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup (Adam)…….. Tuhan Allah mengambil  salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari tulang rusuk yang diambil dari manusia itu dibangun-Nyalah perempuan (Hawa)…….

 

Hari ketujuh……….. lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulah ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang dibuat-Nya itu.

 

Setelah semuanya tercipta, maka terlihat  langit yang baru dan bumi yang baru.

Wahyu pasal 21 ayat 1 dan 5.

Lalu Aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru,  sebab langit yang pertama telah berlalu dan lautpun tidak ada lagi (ayat 1).

Ia yang duduk diatas tahta: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru. Dan firman-Nya “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar (ayat 5).    

 

PEMAHAMAN

Proses penciptaan alam semesta terjadi secara bertahap. Lama waktu penciptaan adalah menurut kurun waktu TUHAN, karena satu hari bagi TUHAN dapat saja berarti seribu tahun bagi manusia.

Proses penciptaan walaupun diutarakan dalam bahasa yang sederhana yang mudah dimengerti pendengan zaman Musa (kitab Kejadian adalah salah satu dari lima kitab Musa), tetapi dapat dipahami dengan pendekatan ilmu pengetahuan.

Pada kitab kejadian ini penciptaan diawali dengan proses pembentukan energi  (kalau terang dapat diartikan energi) diikuti proses pembentukan  bimasakti, termasuk didalamnya bumi, kemudian diikuti penciptaan mahluk hidup. Walau manusia diciptakan sesudah diciptakanya mahluk hidup yang lain seperti segala jenis hewan dan tumbuhan, tetapi proses penciptaannya sangat spesifik, berbeda debngan mahluk lainnya dan buklan berada dalam suatu proses evolusi.

 

Stanley, H.W., memberikan pemahamannya mengenai penciptaan pada kitab Kejadian sebagai berikut:

Hari pertama:

     Keterangan tentang hari pertama dimulai dengan pendefinisian.

Bahwa Allah adalah pihak yang mengadakan segala sesuatu yang berada. Bumi tu belum terbentuk dan kosong, dengan kata lain  bahan bangunannya.

Sudah lengkap tetapi rencana Allah belum jelas. Kemudian Allah mulai memberikan energi kepada bahan polos itu. Itulah  “hari” pertama. Yang dimaksud dengan hari adalah perputaran bumi terhadap refrens apa saja.

 

Hari kedua:

     Pemisahan “air” dari “air” merupakan perbedaan cairan dan uap, suatu perbedaan berat jenis. Sebelum peristiwa air bah (pasal 6 – 9), air yang berkumpul diatas rupanya “supra jenuh”. Keadaan belum serupa yang kita lihat sekarang. Catatan: Mulai hari kedua ini urutan peristiwa penciptaan ini masuk akal dari sudut kompleksitasnya dan juga dari sudut pengamatan. Kalau kita mengamati lingkungan biasanya mata kita terpesona melihat yang jauh dan luas, kemudian langkah demi langkah perhatian kita mendekat sampai pada diri sendiri.

 

Hari ketiga:

     Pada hari ketiga Allah membentuk lingkungan baik mahluk-mahluk yang Ia ciptakan kemudian. Penyediaan lingkungan itu berlangsung melalui dua tahap: Pertama air dikumpulkan menjadi dua samudra, terpisah dari sebuah benua raksasa. Kemudian Allah menumbuhkan segala jenis tumbuhan diatas permukaan benua itu. Tiga kali disebutkan  “jenis” dan empat kali disebutkan “biji”. Semua pembiakkan berlangsung sesuai jenisnya. Sangat mengherankan bahwa ketepan jenis sudah ditegaskan beberapa ribu tahun sebelum hipotesis evolusi diajukan. Keseluruhan pasal satu ini memakai istilah jenis sampai sepuluh kali. Secara  “ilmiah” mekanisme ketetapan jenis baru mulai dimengerti melalui penelitian kromosom selama tiga puluh tahun terakhir ini. Baru pada hari ketiga inilah  Allah mengatakan “semuanya baik”, dan penilaian itu disebutkan dua kali dalam beberapa ayat. Sebenarnya hal ini tidaklah mengherankan karena pada hari ketiga kita temukan keadaan yang tetap, berlaku dari minggu penciptaan  sampai pada masa sekarang.

 

Hari keempat:

     Ayat-ayat pada hari keempat membahas angkasa. Allah mengatur angkasa sebagai sumber cahaya yang memungkinkan kita dapat bergerak tanpa meraba-raba, serta sebagai dasar penentuan waktu (jam, hari dan tahun). Ayat-ayat juga memuat penegasan tentang fungsi semua benda yang kita lihat diatas itu.

 

Hari kelima:

     Hari kelima mengantar kita selangkah lagi. Pada hari kelima ini munculah segala jenis kehidupan yang kita temukan dalam cairan, laut maupun udara. Geraknya tidak terbatas pada permukaan tanah. Ayat yang menarik adalah penyebutan “bintang laut yang besar” menimbulkan pertanyaan “apakah golongan ampfibi diciptakan pada hari kelima”.

 

Hari keenam:

     Pada hari keenam Allah menciptakan segalah jenis yang hidup diatas bumi. Keterangan ini terbagi menjadi dua golongan: Golongan pertama adalah bintang yaitu: a) . ternak; b). binatang liar; dan c). binatang yang melata. Golongan kedua adalah penciptaan manusia yang sama sekali lepas dari penciptaan binatang. Beberapa hal yang jelas tentang manusia ialah:

            Manusia berkuasa atas segala jenis kehidupan.

            Manusia “dwikodrat”: disamping kodrat  “fana”nya, manusia membawa gambar Allah yang  “baka”.

                                                    (W. Stanley Heath)

 

     Beberapa penulis yang menyusun buku  The New Bible Commentary”  Menguraikan pengungkapan yang normatif adalah antara lain pengungkapan tentang karya penciptaan ilahi yang mutlak  dari yang tidak ada (ex nihilo) dan pengungkapan tentang tahap penciptaan yang terbatas yang didalamnya muncul segala macam penghuni dunia yang penting.

     Tafsiran menunjukkan bahwa rangka pekan penciptaan itu juga adalah suatu gambaran seni sastera dan gambaran yang bermacam-macam tentang sejarah penciptaan itu ditempatkan dalam rangka enam hari kerja, bukan secara kronologis, tetapi menurut pokoknya.

     Berikut ini pemahaman beberapa kata/kalimat yang menarik:

     Pada mulanya: berarti awal seluruh tahap penciptaan. Maka Allah menciptakan: penciptaan yang mutlak (ex nihilo). Berfirmanlah Allah:  susunan penciptaan terjadi oleh perintah eksekutif.

     Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita: Bentuk jamak oknum pertama (kita) agaknya harus diterangkan bahwa Sang Pencipta berfirman sebagai Raja sorgawi. Manusia dan roh-roh surgawi sama-sama adalah mahluk berpribadi yang bersifat keagamaan yang duikutsertakan dalam hubungan historis yang bertanggung jawab dengan Allah.

 

Allah  sang Pencipta mengasihi seluruh ciptaan-Nya, sehingga Allah memelihara alam ciptaan-Nya itu secara terus-menerus dan berkelanjutan melalui proses reproduksi dan proses keharminisan hidup mahluk-mahluk ciptaan Allah, sehingga dari waktu kewaktu ciptaan itu berkembang dan terus menerus memancarkan sang Pencipta.

Dalam proses itu manusia manusia sebagai bagian dari ciptaan sekaligus sebagai citra Allah, ikut serta menjadi mitra Allah memelihara tatanan ciptaan atau ekosistem (Robert P. Borrong, 1999).   

 

PENUTUP

 

Alam semesta adalah ciptaan dan kerja Allah maka Allah adalah pemilik dan berdaulat atas seluruh ciptaan-Nya.  Karena langit dan bumi serta isinya atau alam semesta adalah ciptaan maka alam semesta tidak ilahi dan karena itu tidak perlu disembah.  Akan tetapi alam semesta mempunyai nilai intrinstik, sebab alam semesta diciptakan dengan baik oleh Allah.  Nilai intrinstik tersebut adalah “ Nilai keharmonisan hubungan antara ciptaan dengan pencipta dan di antara semua ciptaan sehingga seluruh ciptaan berada dalam keharmonisan.  Itu berarti alam semesta ini tidak buruk dan itulah sebab alam semesta ini dengan seluruh isinya karena diperlakukan sebagai ciptaan Allah yang baik.  Atas dasar itu, maka manusia harus menghargai dan memelihara alam semesta ini ciptaan Allah.

 

 

 

SUMBER 

Alkitab, Kitab Kejadian dan Wahyu

Barrong, R.P. 1999. Etika Bumi Baru. BPK Gunung Mulya Jakarta. Hal 177 – 219.

Stanley, W. 1998. Tafsiran Kitab Kejadian pasal 1 –11. Yayasan Andi Yokyakarta.

Soedarmono. 1982. Tafsiran Alkitab Masa Kini. Terjemahan dari “The New Bible Comentary”.